Ngawi (beritajatim.com) – Kaki kecil ES warga Kecamatan/Kabupaten Ngawi tak sanggup berlari untuk bermain seperti bocah seusianya. Namun, rasa ingin tahunya yang besar tak membuatnya yang menderita kelumpuhan itu untuk keluar rumah. Dia kerap bergulung-gulung untuk keluar rumahnya dan menghampiri jalan di depan rumah hanya sekadar penasaran dengan suara kendaraan bermotor.
Namun, meski dia bisa bergulung kesana kemari, orang tuanya justru khawatir. Lantaran, bocah sepuluh tahun itu bisa bergulung sejauh lima puluh meter lebih dari rumahnya. Hal tersebut membahayakan dirinya sendiri. Hingga akhirnya orangtuanya memilih untuk mengikatnya dengan tali di tiang rumah agar tak bisa bergulung ke mana- mana.
[berita-terkait number=”5″ tag=”lumpuh”]
“Sejak kecil anak saya sudah mengalami kelumpuhan. Berawal dari kejang-kejang dan demam, akhirnya dia lumpuh sejak kecil. Saya hanya bisa menitipkan anak saya pada kedua orang tua saya. Saya harus ikut suami saya,” kata Er, ibunda ES saat ditemui di rumahnya, Minggu (13/2/2022)
Er tak memungkiri kalau dia kini tak lagi tinggal serumah dengan putranya. Karena dia harus ikut dengan sang suami yang beda desa. Kini ES dirawat oleh kakek neneknya dibantu sang bibi. Namun, dengan segala keterbatasan, mereka hanya bisa membiarkan ES ala kadarnya. Meski, jauh dalam hati mereka, tetap ingin ES menjalani pengobatan.
Hingga kini, ES hanya bisa berbaring beralaskan tikar di atas lantai tanah rumah orang tuanya. Bahkan, alas tidurannya bercampur dengan ompol. Kedua orang tuanya yang tidak mampu tak bisa melakukan apa-apa. Meski begitu sang bunda hanya bisa berharap kalau pemerintah bisa memberikan bantuan berupa kursi roda agar dia tak perlu mengikat anaknya di tiang rumah.
“Kami mengharap ada perhatian dari pemerintah. Agar anak saya tidak sampai diikat di rumah. Kami hanya ingin dia berdiam di rumah tanpa bergulung-gulung ke luar dan membahayakan diri sendiri. Jadi, kami harap ada bantuan untuk anak saya,” kata Er. [fiq/suf]






