Malang (beritajatim.com) – Jika Ani Sanjaya dulunya diketahui seorang biduan, berbeda dengan pria bertubuh besar yang mulai mengidap penyakit stroke. Kata Arif, pria yang sempat marah-marah terhadap satu orang perawat di Graha Lansia adalah mantan narapidana kasus pembunuhan.
“Bapak ini dulunya pernah membunuh orang. Mantan Napi. Kami merawatnya karena sudah ditinggalkan keluarganya. Itu tadi marah minta keset. Soalnya kesetnya tadi gak ada,” kata Arif.
Meski bertubuh kekar, Lansia tersebut kesulitan bicara dan berjalan karena stroke. Suaranya yang keras menggelegar, membuat perawat di Graha Lansia, harus menggunakan hati untuk menenangkannya. “Iyo Iyo, sek tunggu diambilkan keset,” kata Ibu Mufi, seorang Bidan di Desa Wajak, Kabupaten Malang. Mufi adalah bidan desa yang sudah aktif sejak puluhan tahun lalu.
“Dulu orang-orang ini kita tampung di rumah saya mas. Setelah Graha Lansia ini jadi kita tempatkan disini,” urainya.
Lansia penghuni Graha, tambah Arif, ada juga yang berlatar belakang keluarga kaya raya. Hanya saja, keluarganya sudah tidak menghendakinya lagi. “Lansia kami ada yang dulunya seorang bos, pengusaha kaya. Silahkan lihat di profil facebooknya, foto beliau masih sehat ini gaul banget. Karena memang bos. Ada juga Lansia yang sengaja dititipkan oleh anak-anaknya. Bahkan anak kandungnya sendiri membuat surat perjanjian dan meminta ayahnya berada di Graha Lansia sampai akhir hayatnya. Alasan tidak mau merawat orang tuanya sendiri karena sibuk bekerja. Ini terkadang membuat saya prihatin juga,” papar Arif.
Bagi Lansia yang tidak diketahui keberadaan keluarganya atau Mr X, Arif harus mengeluarkan kocek sebesar Rp 3 juta. Uang itu, sebagai pengganti proses pemakaman apabila Lansia yang ia asuh, meninggal dunia. Sementara Lansia yang masih diketahui rekam jejak keluarga atau asal usulnya, biasanya akan dimakamkan di satu desa tempat asal muasal dari Lansia penghuni Graha.
“Kalau lansia itu asalnya dari Malang contohnya, pernah tinggal di desa mana dan orang situ asli, biasanya kita makamkan di tempat itu atas sepengetahuan Kades. Sementara bagi mister X, kita makamkan di TPU Kasin, Kota Malang,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kabupaten-malang”]
Seluruh proses pemakaman, dilakukan Arif bersama pegawai Graha Lansia Husnul Khotimah secara, Islam. Selama berada di Graha, seluruh Lansia juga diberi pembekalan agama. Mulai mengaji, sholat berjamaah dan bangun pagi untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Beberapa pegawai bahkan turun langsung membasuh anggota tubuh lansia ketika wudhu. Menempatkan mereka pada shaf sebelum sholat berjamaah, dan mengajari membaca Alquran.
“Awalnya susah banget mas. Untuk mendisplinkan mereka ini susah sekali. Saya sampai harus menggedor pintu mereka satu persatu. Kita ajak Sholat subuh. Sekarang mereka pagi sudah bangun semua. Kami hanya ingin disisa hidup mereka, seluruh lansia disini bisa meninggal dunia dengan cara Husnul Khotimah. Menutup mata dengan cara paling baik,” Arif mengakhiri. [yog/but]






