Surabaya (beritajatim.com) – Deadwood players. Itulah sebutan untuk para pemain sepakbola yang hanya menjadi pemanas bangku cadangan dan tak pernah dimainkan. Padahal, mereka dalam kondisi fit dan tidak sedang cedera. Setiap minggu mereka tetap menerima gaji. Dan sialnya, beberapa pemain deadwood ini memiliki gaji yang sangat mahal.
Nama-nama seperti Bakayoko dan Drinkwater di Chelsea, sampai Ozil di Arsenal adalah contoh terbaik dari pemain sepakbola berlabel deadwood. Mereka adalah pemain bintang dan yang pernah dinilai akan jadi bintang. Diberikan gaji besar, namun berkahir menjadi pemain cadangan yang selalu dipinjamkan. Atau, hanya menerima gaji buta karena tidak pernah bermain dan hanya mengikuti latihan saja.
Biasanya, klub yang memiliki pemain seperti ini akan segera melakukan cara agar mereka pindah. Beberapa dipinjamkan ke klub lain dengan pembagian gaji atau sepenuhnya gaji dibayar klub yang meminjam. Beberapa yang lain, ada yang tidak mau dipinjamkan tetapi juga enggan dijual karena mengalami penurunan gaji di klub yang akan membeli.
Dalam proses penjualan pemain biasanya ada tiga pihak yang terlibat, yakni CEO atau Director of Football (tergantung klubnya punya DoF atau tidak ), agen, dan pemain yang bersangkutan. Berbeda dengan pembelian pemain yang mana klub sangat menghindari berurusan dengan agen, ketika ingin menjual pemain, pihak pertama yang dihubungi oleh klub sudah pasti adalah agen sang pemain.
Hal ini dilakukan guna mempercepat proses perpindahan, karena agen biasanya punya banyak koneksi untuk mencari klub baru untuk pemain. Secara langsung atau tidak, klub mengabarkan agen kalo mereka tidak lagi membutuhkan jasa si pemain.
Lalu, pemain yang menjadi bahan perbincangan utama dalam saga transfer, justru malah punya kewenangan paling sedikit dibanding dua pihak lainnya. Misalnya yang baru-baru ini terjadi adalah kasus Harry Kane. Walaupun Kane hendak hengkang dan mencari ke klub lain, jika klub pemilik jasanya tidak menginginkan dia pergi, Kane terus ditahan habis-habisan.
Meski Kane bukan termasuk kategori unwanted players (pemain yang tidak dibutuhkan), tapi cerita ini menunjukkan kalau pemain itu tidak punya kekuatan dan tidak bisa sepenuhnya menentukan nasibnya sendiri.
Kemudian, yang belum lama ini kejadian adalah ketika gelandang spesialis asis asal Jerman, Mesut Özil diasingkan oleh Arsenal di sebagian besar masa kepelatihan Arteta. Özil hampir tak pernah masuk dalam skuat yang akan turun bertanding pada setiap minggunya, walaupun itu sebatas pemain cadangan.
Sebagaimana dilansir dari media The Athletic, saat klub tidak menginginkan keberadaan pemain tertentu, pemain tersebut sebisa mungkin dibikin tidak betah dan dijauhkan dari ring 1 tim agar lekas hengkan.
Ini bisa dilakukan secara terang-terangan, atau pelan-pelan tapi pasti. Seperti dipinjamkan ke sana kemari terlebih dahulu, hingga akhirnya harus hengkang, ini terjadi pada Odegaard.
Hal yang paling umum terjadi adalah memaksa pemain berlatih dan bermain dengan tim junior, atau yang paling parah, diasingkan dari tim utama. Mulai dari akses kantin klub yang dibedakan, atau si pemain harus menggunakan jasa dokter dan fisioterapi tim junior.
Tujuannya, membuat pemain tidak betah dan membuatnya segera menghubungi agen dan meminta dicarikan klub baru. Namun, agen biasanya sudah memahami kondisi pemain dan sudah membuat ancang-ancang untuk menemukan klub yang berminat untuk memboyong klien (pemain). [dan/tur]






