Malang (beritajatim.com) – Hasil analisa gempabumi Stasiun Geofisika Malang pada periode tanggal 19 Februari 2021 sampai dengan tanggal 25 Februari 2021 menyebutkan, sudah 11 kejadian gempabumi. Dimana rinciannya, 8 kejadian gempabumi dangkal (h ≤ 60 km), 3 kejadian gempabumi menengah (60<h≤300 km) dan tidak ada kejadian gempabumi dalam (<300 km).
“Magnitudo terbesar yang tercatat adalah 4.6 SR dan Magnitudo terkecil yang tercatat adalah 2.1 SR. Terjadi 1 kejadian gempabumi dirasakan III MMI di Pacitan Jawa Timur; II MMI di Bantul dan Gunungkidul,” terang Kepala Stasiun Geofisika Malang, Ma’muri, Jumat (26/2/2021).
Ma’muri menegaskan, dari peta episenter gempabumi periode 19 – 25 Februari 2021, terlihat sebagian besar kejadian gempabumi tersebar di selatan Pulau Jawa sebagai akibat dari subduksi pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia.
“Dari grafik frekuensi gempabumi harian, terlihat bahwa tanggal 23 dan 24 Februari 2021 merekam kejadian gempabumi paling banyak dengan 3 kejadian. Dan tanggal 22 tidak ada kejadian gempabumi. Selama periode 19 – 25 Februari 2021 tercatat 1 gempabumi dirasakan III MMI di Pacitan; II MMI di Gunungkidul dan Bantul,” paparnya.
Ma’muri melanjutkan, pada periode 19 hingga 25 Februari 2021 di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, terjadi 11 kejadian gempabumi. Gempabumi dangkal tercatat 8 kejadian, gempabumi menengah tercatat 3 kejadian dan tidak tercatat gempabumi dalam. Terjadi 1 kejadian gempabumi dirasakan III MMI di Pacitan, Jawa Timur. Lalu II MMI di Bantul dan Gunungkidul – Daerah Istimewa Yogyakarta.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gempa”]
“Magnitudo terbesar pada periode ini adalah 4.6 SR dan magnitudo terkecil yaitu 2.1 SR. Kejadian gempabumi disebabkan oleh aktifitas pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dengan lempeng Eurasia serta adanya aktifitas patahan lokal,” Ma’muri mengakhiri. [yog/but]






