Surabaya (beritajatim.com) – One Pesantren One Product (OPOP) Jatim menyelenggarakan OPOP Expo 2019 selama tiga hari, 28-30 November 2019 di JX International Surabaya.
Dalam OPOP Expo itu di dalamnya ada pameran pusaka NU, ngaji entrepreneur, program sertifikasi halal paten merk produk pesantren, kompetisi business plan santri, lomba qosidah rebana putri, lomba mewarnai logo OPOP Jatim dan Gedung Negara Grahadi Surabaya, lomba Vlog, lomba fashion pinggir sepur serta layanan sembako murah. Dorprize utama adalah satu unit motor Honda Genio, satu paket Umroh serta hadiah menarik lainnya.
Lembaga keuangan syariah di Jatim siap memberikan pendanaan bagi pesantren binaan program One Pesantren One Product (OPOP) untuk melancarkan bisnisnya.
“Untuk bisnis kami sudah memiliki jejaring dengan lembaga keuangan syariah yang siap kerjasama dengan entitas bisnis di pesantren. Sehingga, apa yang dilakukan betul dari bawah,” kata Sekretaris OPOP Jatim, Moh Ghofirin kepada wartawan usai bertemu Sekdaprov Jatim Heru Tjahjono membahas acara OPOP Expo 2019 di Kantor Gubernur Jatim, Senin (25/11/2019).
Pemerintah, menurut dia, hanya memberikan penguatan agar niat pesantren melalui OPOP benar benar tercapai. “Saat ini yang siap Bank Jatim Syariah. Jika peluang ini dibuka, perbankan di Jatim pasti tertarik,” tuturnya.
Acara OPOP Expo ini akan menjadi bagian dari memperkenalkan produk pesantren agar bisa diakses langsung oleh masyarakat.
OPOP Expo menyiapkan 45 both, 30 di antaranya khusus untuk produk dari pesantren. Jumlah both tidak banyak, karena program OPOP dikenalkan communal branding. Sehingga, pesantren yang memiliki produk yang sama akan dijadikan satu both.
“Jika ada lim pesantren sama produk AMDK (air minum dalam kemasan), maka disiapkan satu both, bisa jadi sentra AMDK,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemprov-jatim”]
Pada expo ini produk pesantren yang sudah daftar di antaranya produk makanan, handycraft, IT dan fashion.
OPOP Jatim menargetkan pada tahun 2023 mendatang, produk pesantren bisa mencapai 250 buah. Pada tahun 2019 sudah terdapat 100 produk dan ditargetkan 2020 sudah mencapai 150 buah
“Kita tahu pesantren menghasilkan produk yang belum tentu sertifikasinya lengkap. Dalam rapat tadi, Pak Sekdaprov berpesan bahwa produk pesantren harus unggul secara kualitas dan sertifikasinya lengkap, baik itu serifikasi halal, paten merk, SNI, izin edar dan sebagainya. Indikasinya dari pesantren harus unggul secara kualitas diminati pasar dengan bukti sertifikasi,” pungkasnya. [tok/but]






