Jombang (beritajatim.com) – Pagi itu, sebuah percakapan sederhana di ruang tengah rumah Ibu Nyai Hj. Farida Salahuddin Wahid di Tebuireng, Jombang, menyisakan cerita yang sulit dilupakan. Amin Zein, mantan asisten pribadi almarhum KH. Salahuddin Wahid atau Gus Sholah yang kini menjabat Wakil Rektor II Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, tak menyangka sebuah mimpi tentang Gus Sholah dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak akan disusul kabar yang terasa begitu dekat dengan kenangan masa lalu.
Percakapan pagi itu sebenarnya telah berakhir ketika Amin berpamitan meninggalkan kediaman Ibu Nyai. Namun, tak lama kemudian, teleponnya berdering karena Ibu Nyai masih ingin menyampaikan sesuatu yang terlupa diceritakan sebelumnya.
“Ya Allah, Min… semalam aku kok mimpi Bapak (Gus Sholah) habis turun dari Masjid Tebuireng bersama Mas Emil. Terus Mas Emil ngobrol sama aku. Kok ya iso Mas Emil muncul di mimpiku, Min?” tutur Ibu Nyai, sebagaimana diceritakan kembali oleh Amin.
Bagi Amin, cerita tersebut bukan hanya kisah tentang bunga tidur. Ada sosok Gus Sholah yang telah berpulang, ada Ibu Nyai yang menyimpan kenangan tentang pendamping hidupnya, dan ada Emil Dardak, tokoh yang memiliki catatan kedekatan dengan almarhum dalam perjalanan politiknya.
Ibu Nyai kemudian melanjutkan ceritanya tentang suasana dalam mimpi tersebut. Seolah-olah mereka berada di sebuah hotel yang sama, dengan dua piring makanan yang telah disiapkan untuk dirinya dan Gus Sholah.
Namun, dalam mimpi itu, makanan yang menjadi bagian Ibu Nyai justru dibagi dua bersama Emil. Gambaran sederhana tersebut membuatnya bertanya-tanya tentang makna yang mungkin terkandung di dalamnya.
“Pertanda opo, Min, yoo?” tanya Ibu Nyai.
Amin mengaku memilih diam dan tidak berani menafsirkan mimpi tersebut. Ia menyadari bahwa tidak semua pengalaman personal harus segera diberi makna, terlebih ketika menyangkut keyakinan dan perasaan seseorang.
Meski demikian, rasa penasaran membuat Amin menghubungi staf Emil Dardak untuk menceritakan mimpi yang baru saja disampaikan Ibu Nyai. Jawaban yang diterimanya kemudian menghadirkan kejutan tersendiri.
“Hari ini Mas Emil Wisuda Profesi Insinyur di ITB, Mas Doktor. Satu almamater dengan Almaghfurlah Gus Sholah,” demikian jawaban yang diterima Amin dari staf Emil.
Kabar tersebut membuat Amin teringat pada hubungan antara Gus Sholah dan Emil Dardak. Bagi Amin, yang pernah mendampingi Gus Sholah secara dekat, ingatan tentang almarhum tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keseharian, tetapi juga dengan pemikiran, sikap, dan dukungan yang pernah diberikan kepada orang-orang di sekitarnya.
Ia mengenang bagaimana Gus Sholah termasuk sosok yang memberikan kepercayaan dan dukungan kepada Emil dalam perjalanan menuju kursi Wakil Gubernur Jawa Timur. Hubungan tersebut, dalam pandangan Amin, menyimpan makna yang lebih luas daripada sekadar pertemuan antara seorang tokoh senior dan politisi muda.
“Bagi saya, Mas Emil bukan hanya tokoh muda yang pernah mendapat dukungan Gus Sholah. Ada hubungan pemikiran, keteladanan, dan harapan yang pernah dititipkan,” ungkap Amin.
Kisah itu kemudian membawa Amin pada refleksi tentang bagaimana seseorang tetap hadir dalam kehidupan orang lain meskipun telah tiada. Sosok Gus Sholah memang telah berpulang, tetapi kenangan tentang pandangan, sikap, dan nilai perjuangannya masih terus hidup dalam ingatan orang-orang yang pernah dekat dengannya.
Bagi Amin, mimpi Ibu Nyai tidak perlu ditafsirkan terlalu jauh untuk bisa menjadi cerita yang bermakna. Kebetulan waktu antara mimpi tersebut dan kabar wisuda Emil di Institut Teknologi Bandung (ITB) justru menjadi pengingat tentang hubungan antarmanusia yang tidak selalu berhenti ketika perpisahan terjadi.
“Entah kebetulan atau sebuah isyarah, hanya Allah yang Maha Mengetahui,” tutur Amin.
Di Tebuireng, kenangan tentang Gus Sholah bukan hanya tersimpan dalam cerita masa lalu. Nilai-nilai yang diwariskannya tetap menjadi bagian dari perjalanan orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya, termasuk mereka yang pernah memperoleh kepercayaan dan dukungannya.
Al-Fatihah untuk Almaghfurlah KH. Salahuddin Wahid. [adg/but]






