Kediri (beritajatim.com) – Ma’had Aly Lirboyo menggelar kuliah umum bertajuk “Membangun Ekosistem Ekonomi Kreatif Berbasis Turats” di Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, pada Selasa (27/10/2026).
Agenda akademik akbar ini dihadiri jajaran pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo dan Mudir Ma’had Aly Lirboyo, di antaranya KH Atho’illah S. Anwar, Agus Arif Ridwan Akbar, Agus H. Nururrohman Ya’lu, hingga Agus H. Abdurrahman Kafabihi.
Kuliah umum tersebut mendorong para santri untuk tidak sekadar menjadi penonton pasif, melainkan tampil menjadi motor penggerak peradaban ekonomi modern yang berlandaskan nilai-nilai kitab kuning (turats).
Dalam sambutan pembukanya, Mudir ‘Am Ma’had Aly Lirboyo, KH Atho’illah S. Anwar, menegaskan posisi strategis Ma’had Aly Lirboyo yang berfokus pada takhassus fikih dan ushul fikih serta konsentrasi fikih kebangsaan.
“Melalui konsentrasi ini kami berharap para Mahasantri memiliki wawasan kebangsaan yang luas sehingga dapat menerapkan ilmunya dengan tepat di tengah keberagaman masyarakat Indonesia,” tegas KH Atho’illah S. Anwar.
Kiai Atho’illah secara khusus menyoroti urgensi penguasaan sektor ekonomi oleh kalangan pesantren agar distribusi kesejahteraan dapat terwujud secara adil sesuai prinsip syariat Islam.
“Ekonomi kreatif haruslah kita kuasai agar dunia ekonomi tidak hanya menjadi pembahasan para konglomerat saja, tapi juga peran santri di dalamnya. Kami berharap para santri sebagai generasi muda membangun ekonomi kreatif dapat turut serta berkontribusi dalam mewarnai peradaban ekonomi bangsa kita berdasarkan nilai-nilai Islam yang adil dan bijaksana,” tambah KH Atho’illah.
Tampil sebagai keynote speaker, alumni Lirboyo angkatan 2001 yang kini menjabat Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah (PE2HU) Kemenhaj RI, Prof. Dr. rer. nat. Jaenal Effendi, S.Ag., M.A., memaparkan bahwa kitab kuning memuat fondasi kuat bisnis modern.
Prof Jaenal menganalogikan bahwa bagaikan isim mufrad, santri harus bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah SWT. Sementara bagaikan jamak taksir, santri wajib berani keluar dari bentuk asal dan zona nyaman untuk menguasai disiplin ilmu baru seperti ekonomi tanpa kehilangan identitas kepesantrenannya.
Ia juga menyitir konsep fi’il mudhari’ agar santri tidak cepat puas dengan hasil jangka pendek yang dangkal, melainkan fokus membangun visi masa depan yang berdampak panjang bagi peradaban.
Dalam konteks pengelolaan dana haji dan umrah yang bernilai triliunan rupiah, Prof Jaenal menekankan pentingnya mengintegrasikan sektor perbankan hingga katering dengan kepatuhan syariat yang ketat.
Menurutnya, naskah klasik turats bukanlah sekadar artefak sejarah, melainkan dasar utama dari instrumen keuangan modern seperti mudarabah, musyarakah, dan ijarah.
“Turats, kitab kuning yang selama ini kita pelajari ini memberikan basic dasar knowledge bagaimana berbisnis. Konsep asuransi, konsep perbankan syariah. Ini dasarnya adalah yang kita pelajari,” papar Prof Jaenal Effendi.
Mengadaptasi prinsip Seven Habits karya Stephen Covey ke dalam tradisi pesantren, Prof Jaenal mendorong santri untuk bersikap proaktif mencetuskan peluang, memulai sesuatu dengan tujuan akhir yang jelas (begin with the end in mind), mendahulukan prioritas utama, serta membangun sinergi saling menguntungkan (win-win solution).
Di akhir pemaparannya, Prof Jaenal menantang para mahasantri Ma’had Aly Lirboyo untuk terus mengasah mental kepemimpinan, merawat spiritualitas (tariqah Ilahiyah), serta menjaga kesehatan fisik demi memegang kendali kepemimpinan bangsa.
“Masa depan bangsa itu ada di tangan Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo. Pertanyaannya sekarang, adik-adik, punya mental enggak? Untuk memegang kendali NKRI ini ada di tangan alumni Mahasantri Ma’had Aly Lirboyo,” tantang Prof Jaenal Effendi yang disambut riuh tepuk tangan peserta. [ian]






