Ringkasan Berita:
- Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO ECOTON untuk pertama kalinya hadir di Wonosalam, Kabupaten Jombang, untuk memantau kualitas air Sungai Gogor.
- Lebih dari 50 pelajar bersama Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung mengikuti edukasi serta praktik pemantauan sungai.
- Pengamatan awal menemukan 20 partikel mikroplastik, terdiri atas 12 fiber, tujuh film, dan satu fragmen.
- Pengujian kelompok pelajar menunjukkan kandungan fosfat 0,8 ppm, empat kali nilai acuan 0,2 ppm yang digunakan dalam kegiatan tersebut.
Jombang (beritajatim.com) – Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO (Mission for Zero Plastic Leakage) milik ECOTON untuk pertama kalinya hadir di Wonosalam, Kabupaten Jombang, dalam kegiatan pemantauan rutin kualitas air Sungai Gogor, salah satu kawasan hulu Sungai Brantas. Kegiatan ini melibatkan Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung dengan partisipasi lebih dari 50 pelajar.
Berlangsung di sekitar Kedai Tanah Senja, Wonosalam, kegiatan tersebut mengajak peserta mengenali kondisi ekosistem sungai melalui edukasi lingkungan, pengambilan sampel air, dan pengujian kualitas air pada musim kemarau. Para pelajar tidak hanya menerima materi, tetapi juga mempraktikkan metode pemantauan untuk memahami potensi pencemaran di perairan.
Kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pengurangan plastik sekali pakai dan pentingnya konservasi sungai. Setelah mendapatkan pembekalan, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk melakukan pemantauan melalui metode biomonitoring makrozoobentos menggunakan biotilik, pengamatan mikroplastik, serta pengujian kandungan fosfat air sungai. Masing-masing kelompok mengambil sampel, melakukan pengamatan sesuai bidangnya, kemudian mempresentasikan hasil temuan di hadapan peserta lainnya.
Kelompok pertama yang dipimpin Julia Fahma, siswi kelas 9B dari Polisi Air, bersama Aulia Nur Azizah, siswi kelas 12 SMAN 1 Mojoagung, melakukan pemantauan menggunakan metode biotilik. Metode ini memanfaatkan keberadaan makrozoobentos atau hewan tidak bertulang belakang yang hidup di perairan untuk membantu mengenali kondisi ekosistem sungai.
Dalam pengamatan tersebut, kelompok menemukan total 17 individu biota yang dilaporkan berasal dari famili Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae. Temuan itu menjadi bahan evaluasi awal terhadap kondisi Sungai Gogor, yang berdasarkan interpretasi kelompok menunjukkan indikasi pencemaran.
Pengamatan berikutnya dilakukan kelompok kedua yang dipimpin Muhammad Rajua Surya Sastro Saputra dan Defi Eka Maulita, keduanya siswa kelas 12 SMAN 1 Mojoagung. Mereka menguji sampel air Sungai Gogor untuk mengidentifikasi keberadaan partikel mikroplastik.
Berdasarkan hasil pengamatan awal, kelompok tersebut menemukan 20 partikel mikroplastik. Temuan itu terdiri atas 12 partikel fiber atau serat, tujuh partikel film berupa lembaran tipis, dan satu partikel fragmen.
Fiber dapat berasal dari serat kain, sedangkan film dapat ditemukan pada sampah plastik tipis, seperti kantong plastik. Fragmen merupakan potongan plastik yang bentuknya tidak lagi menyerupai produk asalnya. Identifikasi berdasarkan bentuk ini menjadi langkah awal untuk mengenali karakter partikel yang ditemukan dalam sampel air.
Selain partikel mikroplastik, kelompok juga mengamati dua objek yang diidentifikasi sebagai fitoplankton. Pengamatan menggunakan mikroskop membantu peserta membedakan objek yang ditemukan dalam sampel sekaligus memahami perlunya pemeriksaan lebih lanjut untuk mengidentifikasi karakteristik partikel secara akurat.
Sementara itu, kelompok ketiga yang dipimpin Rendi Dwi Saputra, siswa kelas 11 SMAN 1 Mojoagung, melakukan pengujian kandungan fosfat dalam air Sungai Gogor. Hasil pengukuran menunjukkan kadar fosfat sebesar 0,8 ppm atau empat kali nilai acuan 0,2 ppm yang digunakan kelompok berdasarkan baku mutu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Hasil pengukuran tersebut menjadi indikasi perlunya perhatian terhadap kemungkinan masuknya nutrien ke badan sungai. Salah satu sumber yang perlu ditelusuri adalah limbah domestik, termasuk air buangan rumah tangga yang masuk ke sungai tanpa pengolahan memadai. Namun, penentuan sumber pencemaran memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, sedangkan kondisi debit air yang berkurang selama musim kemarau dapat memengaruhi konsentrasi zat terlarut di perairan.
Selain mempelajari hasil pengujian, peserta juga diajak menghubungkan kondisi sungai dengan kebiasaan sehari-hari. Rizki Putri dan Zema Aqilla dari Polisi Air Wonosalam menilai praktik pengambilan sampel dan pengamatan menggunakan mikroskop memberikan pengalaman langsung tentang keberadaan mikroplastik di lingkungan perairan.
“Melalui praktik pengambilan dan pengamatan sampel air menggunakan mikroskop, kami belajar bahwa mikroplastik dapat ditemukan di lingkungan perairan dan perlu dipantau lebih lanjut. Kami berharap kesadaran mengurangi plastik sekali pakai dapat dimulai dari lingkungan sekolah, misalnya dengan membawa botol minum dan wadah makanan yang bisa digunakan berulang kali.”
Kehadiran perdana mobil laboratorium MIMO ECOTON di Wonosalam diharapkan memperkuat pemantauan sungai yang melibatkan masyarakat dan generasi muda. Melalui kegiatan tersebut, pelajar memperoleh pengalaman dalam mengamati kualitas air sekaligus memahami hubungan antara kebiasaan konsumsi, pengelolaan limbah, dan kesehatan ekosistem sungai.
Sungai Gogor sebagai bagian dari kawasan hulu Brantas memiliki peran penting bagi keberlanjutan ekosistem perairan. Karena itu, perlindungan sungai membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, tidak membuang sampah dan limbah ke badan air, hingga memperbaiki pengelolaan limbah domestik.
Pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan para peserta di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan begitu, pemantauan kualitas air tidak hanya menjadi kegiatan pengamatan sesaat, tetapi juga dapat mendorong kepedulian generasi muda terhadap kelestarian sungai di kawasan hulu Brantas. [beq]








