Setahu saya ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah: empat tim Persebaya bertanding pada akhir pekan yang sama. Dan semuanya berakhir dengan kemenangan.
Diawali dengan pertandingan di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Sabtu (12/9/2026). Persebaya menaklukkan Inter Kediri 3-1 sekaligus mempertahankan trofi Piala Soeratin U17 Jawa Timur.
Keesokan harinya, Minggu (13/9/2026), giliran dua tim ‘Bocil’ Persebaya yang masing-masing berusia U13 dan U15 berhasil memboyong Piala Soeratin Jawa Timur. Dalam pertandingan final di Stadion Jember Sport Garden, Kabupaten Jember, mereka masing-masing mengalahkan Persida U13 1-0 dan Deltras U15 2-0.
Ini treble bersejarah untuk sepak bola kelompok usia tingkat regional yang patut dirayakan. Menyaksikan tiga tim yunior itu bertanding seperti menyalakan harapan: Surabaya tidak akan pernah kehabisan pemain bertalenta.
Cara mereka bermain, mengoper, merebut bola, dan mencetak gol menunjukkan bagaimana mereka memahami filosofi sepak bola ‘arek’ yang trengginas dan pantang menyerah. Mereka mengejar bola ke mana pun dan membuat lawan harus bekerja keras mempertahankan setiap jengkal pertahanan. Terlihat melelahkan. Tapi menyenangkan untuk dipandang.
Memang trofi bukanlah tujuan dalam pembinaan sepak bola usia muda. Kita sudah sering menyaksikan kejayaan anak-anak muda Indonesia dalam turnamen sepak bola kelompok usia (kita lolos ke Piala Dunia U17 pada 2023 dan 2025 dan U20 pada 1979 pada saat Timnas senior senantiasa memanen kegagalan). Namun berkali-kali juga kita menyaksikan mereka tak pernah melanjutkan keberhasilan itu di level senior.
Tahun 2013, Indonesia berhasil menjuarai Piala AFF U19 dan mengalahkan Korea Selatan 3-2 dalam Kualifikasi Piala Asia U-19. Evan Dimas Darmono, pemain binaan kompetisi internal Persebaya, mencetak trigol saat itu.
Tahun 2018 dan 2022, Indonesia menjuarai turnamen AFF U17 dan kembali menjuarai AFF U19 pada 2924. Namun mereka yang menjadi tulang punggung timnas senior yang membuat bangsa ini sempat berimajinasi lolos ke Piala Dunia 2026, melainkan para pemain ‘impor’ yang dinaturalisasi karena garis darah dan keturunan.
Jadi kebehasilan tiga tim yunior Persebaya haruslah dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi Persebaya, dan mungkin, sepak bola Indonesia (ada berapa klub di Indonesia yang punya ekosistem pembinaan pemain yang rapi?) Persebaya tidak boleh mengulang kisah mandeg tim nasional yunior Indonesia.
Walau kita bertanya-tanya juga, masihkah ada ruang bagi anak-anak muda ini untuk bermain di Persebaya pada saat PSSI memperluas ruang bagi klub untuk menggunakan jasa pemain asing. Dalam pertandingan pekan kedua Super League 2026-27 di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Minggu (13/9/2026), dari sebelas pemain Persebaya yang mengawali sepak mula melawan PSIM Yogyakarta, tujuh orang di antaranya berpaspor asing.
Dari empat pemain lokal Persebaya, hanya bek kanan Catur Pamungkas, penjaga gawang Ernando Ari, dan gelandang bertahan Rahmat Irianto yang pernah bermain untuk tim yunior Persebaya. Sementara itu Ramadhan Sananta dibina di Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar Kepulauan Riau.
Dan 15.116 orang penonton yang memadati GBT tidak melihat tujuh pemain impor dan empat pemain lokal yang mengisi starting line up Persebaya bermain dengan karakter dan filosofi sepak bola Surabaya.
Tuan rumah memang memenangi pertandingan melalui gol tunggal Alex Martins pada menit 81. Namun itu pun setelah PSIM bermain dengan sepuluh pemain sejak menit 49 karena Adrian Purzycki terkena kartu merah.
Setelah bahagia menyaksikan kesuksesan tiga tim yunior Persebaya di Piala Soeratin, harapan untuk menjuarai Liga Indonesia tepat pada usia seratus tahun klub mendadak kempis oleh performa tim senior.
Bermain bertahan. Tanpa determinasi. Tanpa pressing. Terlihat inferior dan takut dengan membiarkan PSIM mendominasi (situs resmi Persebaya mencatatkan dominasi tim tamu 61 persen!). Kerja sama antarlini masih kacau. Sebagian besar Bonek akhirnya menyatakan tidak terlampau percaya diri Perebaya akan bisa berada di puncak klasemen pada pekan ke-34.
Persebaya memang menang. Namun dengan cara bermain yang terkesan inferior dan tak tertata rapi seperti itu, seberapa sering Persebaya akan menuai tiga angka di setiap pekan? Mantra klise ‘yang penting tiga poin’ sudah tak berlaku.
Kita pernah menyaksikan bagaimana Paul Munster sukses membawa Persebaya ke puncak klsemen pada paruh musim dengan permainan yang tidak pantas disebut sebagai kandidat juara. Namun setelah tim lawan bisa membaca kelemahan taktik pelatih asal Irlamdia Utara itu, mendadak mesin tripoin Persebaya ngadat.
Masih ada waktu 32 pekan lagi. Kita berharap Bernardo Tavares tidak keras kepala hanya bergantung pada filosofi grendel tanpa melihat kualitas tim lawan. Cara bermain Persebaya dalam dua pekan awal tidak menunjukkan mahalnya biaya yang digelontorkan manajemen untuk membangun skuat musim ini.
Transfermarkt mencatat, mulai pasar skuad Persebaya musim 2026-27 mencapai Rp107,33 miliar. Mengingat ini hanya angka perkiraan, nominal sesungguhnya bisa lebih besar dan berlipat. Tapi seperti kata pemain legendaris Brasil Ronaldinho: “It’s not just about the money, it’s about what you achieve on the pitch.”
Memang kemenangan dalam sepak bola tidak dibangun berdasarkan persepsi sebagaimana dalam dunia politik. Namun membangun optimisme dan memupuk keyakinan diri adalah bagian dari kunci kemenangan.
“We don’t live in our fears. We live in our hopes.” Demikian pernyataan masyhur pelatih American football, Bo Schembechler. Tiga tim yunior Persebaya sudah menunjukkan bahwa tak ada yang perlu ditakuti. [wir/ian]






