Magetan (beritajatim.com) – Posko Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kantor Desa Ngiliran, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, tetap disiagakan setelah eskalasi kebakaran di kawasan hutan Lereng Gunung Lawu mulai menurun. Sebanyak 202 personel gabungan dikerahkan untuk memastikan sisa bara padam dan mencegah perambatan api di kawasan oerbatasan Magetan-Ngawi.
Kalaksa BPBD Magetan Eka Radityo mengatakan, berdasarkan pengamatan visual dari bawah, asap di sejumlah titik sudah tidak terlihat. Namun, pemantauan Perhutani masih mengindikasikan adanya titik api kecil yang muncul di kawasan hutan dan mengarah ke wilayah Kabupaten Ngawi.
“Berdasarkan pengamatan visual dari bawah itu sudah tidak ada asap. Tetapi memang dari Perhutani itu mengindikasikan ada titik api kecil dan kemudian siang ini muncul, tetapi mengarah ke area Ngawi,” kata Eka, Selasa (15/9/2026)
Menurut dia, 202 personel yang bertugas pada Selasa dibagi dalam beberapa kelompok sesuai kebutuhan penanganan di lapangan. Sebagian personel melakukan pemadaman dari kawasan atas, sebagian dari bawah, sementara lainnya bertugas mendukung logistik dan bersiaga di posko.
“Kalau total yang bertugas hari ini 202 personil. Tapi memang dibagi tiga hari tadi. Ada yang pemadaman dari atas, kemudian ada yang pemadaman dari bawah, ada yang untuk dukungan logistik, termasuk ada yang standby di posko,” ujarnya.
Eka menjelaskan, di Petak 50 masih ditemukan sisa-sisa bara sehingga pemadaman tetap dilakukan. Namun, titik api yang masih menyala berdasarkan pemantauan terakhir mengarah ke wilayah Ngawi, khususnya kawasan RPH Campurejo.
Penanganan melibatkan unsur kecamatan, pemerintah desa, relawan, Dinas Sosial, serta unsur terkait lainnya. Setelah apel pada pagi hari, tim gabungan langsung melakukan operasi untuk memastikan penanganan kebakaran dapat diselesaikan.
“Tiga tim. Tim yang pertama itu pengisian di area atas, kemudian tim yang kedua pengisian di area bawah, dan tim yang satu yang ketiga untuk dukungan logistik. Di sini kebetulan dari Dinsos juga sudah menyediakan dapur umum,” jelas Eka.
Posko Penanganan Karhutla di Kantor Desa Ngiliran dipimpin Sekretaris Daerah Magetan sebagai komandan. Wakil komandan terdiri atas Kapolres Magetan dan Kasdim. Pemerintah Kabupaten Magetan sebelumnya mempertimbangkan penetapan status tanggap darurat karena kondisi kebakaran hingga Senin malam masih cukup besar.
Namun, seiring menurunnya eskalasi kebakaran, penetapan status tersebut untuk sementara ditunda. Saat ini, penanganan masih berada dalam status siaga darurat sambil menunggu perkembangan kondisi di lapangan.
“Rencananya memang akan kami tetapkan status tanggap darurat mengingat kondisi kemarin sampai tadi malam itu kan nyala masih luar biasa. Tetapi melihat penurunan eskalasi ini sementara kami tunda, statusnya saat ini masih siaga darurat sambil menunggu perkembangan lebih lanjut,” katanya.
Eka menegaskan, meskipun titik api di sisi Magetan sudah tidak terpantau, personel tetap disiagakan karena kawasan hutan tidak mengenal batas administrasi. Potensi perambatan api dari satu wilayah ke wilayah lain tetap menjadi perhatian, terutama ketika kondisi angin berubah.
“Karena ini area hutan dan tentu saja tidak terbatas batas administrasi, kami tetap harus siaga untuk memastikan bahwa tidak ada perambatan api. Kalau memungkinkan ada dilakukan pemadaman secara total,” tegasnya.
Personel di kawasan atas juga melakukan pemantauan dan pemadaman menggunakan jet sucker atau pompa gendong serta gepyok. Peralatan chainsaw atau senso turut disiapkan untuk menangani sejumlah pohon tumbang akibat kebakaran yang dinilai berpotensi menjadi media perambatan api.
Selain pemadaman, petugas membuat sekat bakar untuk mengisolasi titik api dan menghambat laju kebakaran agar tidak meluas. Upaya tersebut menjadi penting mengingat kondisi kawasan hutan dan faktor angin dapat membuat bara yang tersisa kembali memicu api.
Terkait luas area yang terdampak, Eka menyebut data sementara dari penanganan sebelumnya mencapai sekitar dua hektare lebih. Namun, angka tersebut masih menunggu penghitungan lebih lanjut dari Perhutani.
“Kalau luasan mungkin dari teman-teman Perhutani yang mungkin nanti bisa lebih memastikan, tetapi kemarin sekitar 2 hektare lebih. Tapi ini yang terakhir belum terhitung lagi,” ujarnya.
BPBD Magetan memastikan posko tetap berdiri dan melakukan pemantauan setidaknya selama sepekan ke depan. Jumlah personel yang diterjunkan nantinya akan disesuaikan dengan perkembangan serta kebutuhan di lapangan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api sekaligus memastikan sisa bara benar-benar terkendali, termasuk mengantisipasi potensi perambatan menuju wilayah Kabupaten Ngawi. [fiq/but]






