Ringkasan Berita:
- Kunjungan wisatawan nusantara ke Bojonegoro turun 34,9 persen menjadi 241.387 orang pada Januari-Juli 2026.
- Sejumlah destinasi unggulan seperti Kayangan Api, Waduk Pacal, Dander Waterpark, dan Agrowisata Belimbing ikut mengalami penurunan.
- Disbudpar menilai daya beli dan kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kunjungan.
- Pengembangan destinasi wisata desa bersama Pokdarwis akan diperkuat untuk memperluas pilihan wisata dan menggerakkan ekonomi lokal.
Bojonegoro (beritajatim.com) – Kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bojonegoro mengalami penurunan cukup signifikan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) tercatat 241.387 orang atau turun hampir 35 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Pada Januari-Juli 2025, jumlah kunjungan wisatawan mencapai 371.038 orang. Dengan demikian, terjadi penurunan sebanyak 129.651 kunjungan atau sekitar 34,9 persen pada periode yang sama tahun ini.
Penurunan juga terjadi di sejumlah destinasi unggulan Bojonegoro. Dander Waterpark hingga Juli 2026 mencatat 26.759 kunjungan. Sementara pada 2025, jumlah kunjungan sepanjang tahun tercatat 61.489 wisatawan.
Kayangan Api juga mengalami penurunan. Destinasi ikonik Bojonegoro tersebut baru mencatat 33.744 kunjungan hingga Juli 2026, sedangkan pada 2025 jumlahnya mencapai 69.062 kunjungan.
Kondisi serupa terjadi di Waduk Pacal. Hingga Juli 2026, destinasi tersebut mencatat 23.759 kunjungan, masih jauh di bawah capaian 2025 yang mencapai 43.061 kunjungan.
Agrowisata Belimbing di Kecamatan Kalitidu juga belum mampu menyamai capaian tahun sebelumnya. Hingga Juli 2026, jumlah kunjungan tercatat 37.215 orang, sementara pada 2025 mencapai 48.996 wisatawan.
Kepala Bidang Pariwisata Disbudpar Kabupaten Bojonegoro M. Amin Asrofin mengakui adanya penurunan kunjungan di sejumlah destinasi. Salah satu faktor yang dinilai berpengaruh adalah daya beli dan kondisi ekonomi masyarakat.
“Memang untuk daya beli dan ekonomi masyarakat saat ini mengalami penurunan saat mengunjungi, namun di beberapa destinasi wisata lainnya juga tinggi,” kata Amin Asrofin saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2026).
Menghadapi kondisi tersebut, Disbudpar tidak hanya mengandalkan destinasi yang selama ini menjadi tujuan utama wisatawan. Pengembangan potensi wisata di tingkat desa menjadi salah satu strategi yang akan diperkuat.
Disbudpar akan menggandeng kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk mengembangkan dan memaksimalkan potensi wisata yang berada di desa-desa.
“Ya, kami sekarang sedang melakukan pengembangan. Kemarin kami juga sudah melakukan pertemuan di beberapa kleompok Pokdarwis untuk memajukan wisata yang ada di desa,” ujarnya.
Sementara itu, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bojonegoro masih relatif minim. Sepanjang 2025 tercatat 53 wisman, sedangkan hingga Juli 2026 jumlahnya baru mencapai 44 orang.
Data bulanan menunjukkan momentum Lebaran sempat mendongkrak kunjungan wisatawan. Pada April 2026, jumlah kunjungan tercatat 27.763 wisatawan. Namun secara kumulatif, jumlah kunjungan hingga Juli masih tertinggal cukup jauh dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Ya ke depan kita akan mengembangkan destinasi yang ada di Bojonegoro dan langkah ini diharapkan mampu memperluas pilihan wisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat di sekitar destinasi,” pungkasnya. [fif/beq]






