Ringkasan Berita:
- Tim PKM Universitas Darul Ulum Jombang memperkenalkan teknologi produksi pakan mandiri berbasis limbah organik dan agroindustri untuk membantu menekan biaya pakan peternak ayam rakyat.
- Kelompok Peternak Ayam Mulya Mandiri dilatih mengolah limbah organik menjadi pakan alternatif melalui proses pengawetan dan fermentasi.
- Program Diktisaintek Berdampak ini mendorong kemandirian peternak sekaligus mengurangi limbah rumah tangga melalui konsep ekonomi berkelanjutan.
Jombang (beritajatim.com) – Biaya pakan masih menjadi tantangan terbesar bagi peternak ayam skala rumah tangga. Ketergantungan terhadap pakan pabrikan membuat margin keuntungan peternak terus tertekan, terutama ketika terjadi kenaikan harga bahan baku pakan.
Kondisi tersebut mendorong Tim Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang memperkenalkan teknologi produksi pakan mandiri berbasis limbah organik dan limbah agroindustri kepada Kelompok Peternak Ayam Mulya Mandiri di Taman RPH Jombang, Minggu (26/7/2026).
Program yang didukung Diktisaintek Berdampak tersebut tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga mengajak peserta membangun sistem pengelolaan limbah organik agar dapat diolah kembali menjadi pakan ternak yang murah, mudah diperoleh, dan berkelanjutan. Mahasiswa Undar Jombang turut mendampingi peserta selama kegiatan pelatihan hingga praktik lapangan.
Ketua Tim PKM Undar Jombang, Iwan Cahyono, S.T, M.T mengatakan persoalan utama peternak tidak hanya berkaitan dengan produktivitas ayam, tetapi juga tingginya biaya produksi akibat kebutuhan pakan.
“Kami ingin peternak memiliki kemampuan memproduksi pakan sendiri dari sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Ketika biaya produksi turun, peluang meningkatkan pendapatan akan semakin besar,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Amik Purdinata mengajak peserta memahami konsep ketahanan pangan dari perspektif peternak rakyat. Menurutnya, peternak skala rumah tangga memiliki peran penting dalam rantai penyediaan pangan nasional.
“Peternak rakyat yang sukses adalah mereka yang mampu memanfaatkan yang ada dan tidak mengada-ada. Limbah organik bukan lagi sampah, tetapi sumber daya yang dapat diolah menjadi pakan,” katanya.
Amik menjelaskan bahwa tantangan utama bukan pada ketersediaan bahan baku, melainkan pada pola pikir dalam melihat potensi limbah. Limbah organik rumah tangga yang selama ini berakhir di tempat pembuangan masih memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan sistem yang tepat.

Konsep tersebut kemudian dipraktikkan langsung oleh Suwarno, Ketua Kelompok Peternak Ayam Mulya Mandiri. Ia menunjukkan proses pengolahan limbah organik yang dikumpulkan setiap hari, kemudian diawetkan sementara menggunakan air leri agar tidak cepat mengalami kerusakan.
Setelah bahan terkumpul dalam jumlah cukup, limbah tersebut dicampur dengan dedak, beras jagung, dan azolla sebelum melalui proses fermentasi untuk menjadi pakan ternak alternatif.
“Yang kami bangun bukan sekadar pakan, tetapi sistem pengelolaan bahan organik. Limbah dipilah, diawetkan, kemudian difermentasi setelah volumenya mencukupi. Dengan cara itu kualitas bahan tetap terjaga dan biaya pakan bisa ditekan,” ujar Suwarno.
Menurutnya, pendekatan tersebut juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan karena mampu mengurangi timbunan sampah organik rumah tangga.
“Kalau bahan organik bisa kembali menjadi pakan, tidak ada yang terbuang sia-sia. Lingkungan menjadi lebih bersih, sementara peternak memperoleh sumber pakan alternatif yang lebih murah,” katanya.
Salah seorang peserta pelatihan, Sri Wahyuni, mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga. Selama ini, limbah organik dianggap tidak memiliki nilai guna, namun melalui pelatihan tersebut peserta melihat peluang baru untuk mengolahnya menjadi pakan ayam.
“Selama ini kami menganggap limbah organik tidak ada manfaatnya. Setelah melihat praktiknya, ternyata bahan-bahan itu masih bisa dimanfaatkan menjadi pakan ayam,” ujarnya.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya Undar Jombang dalam memperkuat kemandirian peternak melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Para peserta tidak hanya mempelajari teknik pembuatan pakan mandiri, tetapi juga memahami pentingnya membangun sistem usaha peternakan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. [suf]






