Opta Power Rankings menempatkan Liga Primer Inggris di posisi teratas liga sepak bola terbaik dunia. Dengan menghitung dan menganalisis rata-rata peringkat setiap tim dalam sebuah liga, Opta mengidentifikasi liga yang memiliki konsentrasi klub elite tertinggi yang merupakan indikator kekuatan liga keseluruhan.
Susah membantah temuan sebuah lembaga statistik sepak bola yang masyhur seperti Opta. Dari semua aspek (finansial, kompetisi, pemain, pelatih, hingga kekuatan tim), Liga Primer Inggris memang yang terdepan.
Satu-satunya ruang perdebatan yang masih terbuka tentu saja adalah: apakah sepak bola Inggris (untuk menyebut tim nasional Inggris) mendapat manfaat dari kehebatan Liga Primer selama ini?
Selama enam dasawarsa terakhir, Inggris hanya pernah sekali menjuarai Piala Dunia, itu pun saat digelar di rumah sendiri pada 1966. Three Lions bahkan belum pernah mengangkat trofi Henry Delaunay yang merupakan puncak supremasi tertinggi kejuaraan antarnegara di Eropa. Prestasi terbaik mereka adalah finalis Euro pada 2020 dan 2024.
Saat kegagalan demi kegagalan dipanen tim nasional Inggris, negara lain justru menuai keuntungan. Sebanyak 154 orang pemain di Piala Dunia saat ini berstatus pemain Liga Primer Inggris. Jumlahnya jauh di atas pemain Bundesliga Jerman (94 pemain), League 1 Prancis (78 pemain), La Liga Spanyol (74 pemain), dan Serie A Italia (66 pemain).
Prancis adalah negara yang selama bertahun-tahun merasakan manfaat Liga Primer Inggris untuk menempa pemain-pemain tim nasional mereka. Delapan anggota Les Bleus yang menjadi juara dunia pada 1998 bermain untuk klub Inggris.
Sementara untuk Piala Dunia 2026, tercatat ada tujuh pemain timnas Prancis yang bermain di negara seberang lautan itu. Sebut saja Rayan Cherki, William Saliba, Ibrahima Konate, Lucas Digne, Malo Gusto, Maxence Lacroix, dan Jean-Philippe Mateta.
Dalam bukunya, Va-Va Voom: The Modern History of French Football, Tom Williams mengatakan, Inggris memberikan tempat bagi pemain-pemain Prancis yang memiliki karakter permainan fisik yang kuat, lincah, disalahpahami, eksentrik, berbakat, temperamental, dan suka pamer.
“Di Prancis, dan saya tidak pernah mengerti mengapa, cara bermain saya tampaknya mengganggu atau membuat orang kesal, karena mereka tidak memiliki cara pandang yang sama terhadap sepak bola,” kata Saint-Maximin, pemain Newcastle United yang merasa lebih diakui di Inggris daripada di negaranya.
Menurut Tom Williams, Liga Primer telah terbukti menjadi lahan subur bagi sejumlah penyerang Prancis yang berusaha memulihkan reputasi yang tercoreng atau sekadar berharap untuk membuka potensi yang belum terungkap.
David Ginola, Laurent Robert, Hatem Ben Arfa, dan Saint-Maximin datang dari Prancis dengan membawa berbagai macam beban. “Dan semuanya pergi setelah mendapatkan status pahlawan kultus, meskipun hanya sesaat,” kata Williams.
Semuanya diawali oleh Eric Cantona. Dia menjadi ikon di Old Trafford, mengubah dirinya dari seorang pangeran (yang gagal di Prancis) menjadi seorang raja dalam sepak bola Inggris. Bahkan cara yang salah sekali pun: tendangan kung fu-nya kepada seorang fans Crystal Palace menjadi salah satu momen ikonik Liga Inggris.
Ferguson menyebut Cantona sebagai ‘pemain sempurna, di klub sempurna, pada saat yang sempurna’. “Inggris tidak akan pernah lagi memandang pemain sepak bola Prancis dengan cara yang sama,” tulis Williams.
Bersama David Ginola, Cantona menghadirkan sosok pesepakbola nan flamboyan dan penuh teka-teki, sementara Patrick Vieira yang bertubuh tinggi dan tangguh dalam melakukan tekel menunjukkan citra keras dan tanpa kompromi.
Pemain Prancis menganggap Inggris tempat yang tepat untuk menempa diri dan belajar dari persaingan antarklub yang ketat. “Di sini Anda berhadapan dengan Liverpool, Manchester City, Manchester United, Arsenal, Chelsea…Saya perlu menghadapi itu dan itu membuat saya menjadi pemain yang lebih baik,” kata Saint-Maximin.
Para pemain Prancis menemukan gaya sepak bola yang lebih cepat, lebih mengandalkan fisik, dan lebih ofensif daripada di Prancis. Mereka juga merasakan bagaimana sepak bola Inggris lebih rileks dan dekat dengan fans, kawan atau lawan.
Dekatnya jarak tribun penonton dengan lapangan membuat para pemain Prancis bisa mendengar dengan jelas nyanyian puja-puji dari pendukung sendiri dan hinaan penuh kemarahan dari pendukung klub lawan.
Sebagian pemain Prancis sempat mengalami kesulitan beradaptasi. Marcel Desailly menyebut kecepatan dan intensitas permainan Inggris seperti ‘perang parit’, yang berbeda jauh dengan permainan sepak bola di Italia saat bermain untuk AC Milan.
Robert Pires bahkan sempat menyesal menandatangani kontrak dengan Arsenal, setelah melihat rekannya, Patrick Vieira, dihajar tekel keras. “Saya belum siap untuk pertarungan fisik. Butuh enam atau tujuh bulan bagi saya untuk beradaptasi,” katanya.
Namun pemain Prancis merasakan apresiasi dan pengakuan atas kerja keras di lapangan saat bermain di Inggris. “Anda tidak memiliki itu di negara lain, di mana jarang ada bek atau gelandang bertahan yang dipuja dan dicintai seperti seorang striker,” kata Patrick Vieira.
Di lain pihak, pemain Prancis memainkan peran dalam evolusi sepak bola Inggris dan memperkaya taktik di sana. Cantona, Dennis Bergkamp, Gianfranco Zola, dan Juninho menunjukkan opsi seorang striker bermain lebih ke dalam, alih-alih menanti bola matang untuk dilesakkan ke gawang lawan.
Ginola dan Pires memperkenalkan tren ‘inverted winger’ atau pemain sayap yang ditempatkan di sisi berlawanan dari kaki yang terkuat. Sementara Claude Makélélé’ memperkenalkan istilah ‘Makéléle Role’ di lini tengah dalam sistem 4-3-3 saat bermain di Chelsea.
Bahlan di luar pertandingan, menurut Williams, para pemain Prancis menunjukkan kepada rekan setim mereka dari Inggris bagaimana cara melakukan peregangan dengan benar, bagaimana cara makan lebih baik, dan bagaimana cara mengasah teknik dengan tepat. Hal-hal sepele namun penting yang diabaikan para pemain Inggris selama puluhan tahun.
Interaksi itu membawa keuntungan bagi Prancis pada 1998. Mereka menjadi juara dunia. Sementara Inggris disingkirkan Argentina di babak 16 Besar.
Emmanuel Petit yang bergabung dengan Arsenal setahun sebelum Piala Dunia, mengakui bahwa pengalaman yang diperoleh di Inggris memainkan peran penting saat itu.
Prancis memang diperkuat Didier Deschamps yang terbiasa dengan permainan taktis ala Italia selama bermain untuk Juventus.
“Namun dia dikelilingi oleh pemain yang senang memainkan sepak bola spektakuler dan dapat membawa folie (kegilaan) yang kami butuhkan dalam pertandingan tertentu. Bayangkan jika kami hanya memiliki pemain dengan mentalitas Italia. Saya tidak yakin kami akan memenangi Piala Dunia,” kata Petit.
Di luar deretan nama pemain masyhur, ada dua nama pelatih Prancis yang memberikan warna bagi sepak bola Inggris: Gérard Houllier dan Arsène Wenger.
Houllier yang pernah mengajar paruh waktu di Sekolah Menengah Atas Alsop, Liverpool, pada 1969-1970, menegakkan kedisiplinan dan profesonalisme saat mulai melatih Liverpool pada 1998.
Houllier menghentikan budaya pesta alkohol di skuad muda Liverpool. Dia membawa intensitas baru pada rezim pelatihan yang membosankan karena terlalu patuh pada tradisi kuno Boot Room sejak zaman Bill Shankly.
Houllier memperkenalkan analisis video pertandingan dan memberikan umpan balik yang sangat detail kepada para pemain tentang penampilan mereka. Bahkan dia memilih seorang mantan pemain Manchester United, Paul Ince, menjadi kapten tim untuk menertibkan para pemain muda.
Sebagaimana Houllier, Arsène Wenger membawa tradisi baru dan beradaptasi dengan kultur sepak bola Inggris. Pertama adalah dengan menyingkirkan meja makan dari keripik, pai, cokelat, permen jeli, dan minuman bersoda, dan menggantikannya dengan brokoli, kacang polong, kacang-kacangan, pasta, dan dada ayam.
Wenger mempekerjakan ahli gizi Prancis, Dr. Yann Rougier, yang memperkenalkan suplemen makanan seperti kreatin, tablet kafein, dan vitamin, terutama B6 dan B12, yang diminum pemain dalam bentuk tablet atau disuntikkan. Seorang ahli osteopati tim nasional Prancis, Philippe Boixel, diberi wewenang untuk menangani rasa sakit dan nyeri pemain.
Wenger juga mengubah pola latihan Arsenal dengan memasukkan peregangan dinamis, latihan pliometrik, 77 kali bermain bayangan melawan tim manekin. Semuanya diatur waktunya secara teliti untuk menjaga fokus para pemain.
“Hal yang tak terbayangkan telah terjadi: seorang Prancis telah mengajari orang Inggris cara bermain sepak bola,” tulis Williams.
Minggu, 19 Juli 2026, pukul empat lagi, kedua negara berhadapan di Stadion Miami (Miami Stadium), Florida, Amerika Serikat, untuk memperebutkan tempat ketiga kejuaraan dunia.
Akankah Prancis kembali mengajari orang Inggris cara bermain sepak bola? Apa pun hasilnya, Prancis layak mengucapkan: ‘Merci, Angleterre’. [wir/ian]






