Yogyakarta (beritajatim.com) – Tren olahraga yang semakin digemari anak muda dinilai menjadi penyeimbang gaya hidup modern yang identik dengan penggunaan gawai dan aktivitas scrolling media sosial. Namun, menjaga kesehatan otak ternyata tidak cukup hanya dengan rutin berolahraga. Pola aktivitas sehari-hari, terutama kebiasaan duduk terlalu lama, justru menjadi faktor yang lebih berisiko terhadap penurunan fungsi otak.
Dosen Fisiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, menjelaskan bahwa aktivitas scrolling pada dasarnya bukan penyebab utama menurunnya kesehatan otak. Permasalahan muncul ketika seseorang menghabiskan waktu berjam-jam dalam posisi duduk tanpa diselingi pergerakan.
Menurutnya, otak merupakan organ yang sangat bergantung pada pasokan oksigen. Meski beratnya hanya sekitar dua persen dari total berat badan, otak membutuhkan sekitar 20 persen dari seluruh oksigen yang digunakan tubuh agar dapat bekerja secara optimal.
“Karena itu, menjaga suplai oksigen ke otak menjadi faktor paling penting untuk mempertahankan fungsi otak,” ujarnya, Kamis (16/7).
Aliran Darah ke Otak Dipengaruhi Gravitasi
Zaenal menjelaskan bahwa tubuh manusia sebagai makhluk yang berjalan dengan dua kaki harus terus melawan pengaruh gravitasi agar aliran darah tetap mampu mencapai otak secara optimal.
Ketika seseorang bangun dari posisi tidur dan langsung berdiri, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan distribusi darah. Pada kondisi tersebut, aliran darah menuju otak dapat menurun sementara sehingga sebagian orang merasakan pusing atau kepala terasa ringan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ia menyarankan agar tidak terburu-buru berdiri setelah bangun tidur. Sebaiknya diawali dengan berbaring miring selama sekitar 30 detik, kemudian duduk selama 30 detik sambil menenangkan diri atau berdoa. Setelah itu, berdiri secara perlahan dan melakukan gerakan jinjit beberapa kali agar otot kaki membantu memompa darah kembali menuju jantung dan otak.
Duduk Terlalu Lama Ganggu Pasokan Oksigen ke Otak
Selain kebiasaan bangun tidur, posisi duduk yang berlangsung terlalu lama juga dinilai menjadi ancaman bagi kesehatan otak.
Menurut Zaenal, saat seseorang duduk dalam waktu lama, darah cenderung berkumpul di bagian bawah tubuh akibat pengaruh gravitasi. Akibatnya, sirkulasi menuju otak menjadi kurang optimal sehingga dalam jangka panjang dapat memengaruhi konsentrasi maupun fungsi kognitif.
“Masalah utamanya bukan aktivitas scrolling, melainkan posisi duduk yang terlalu lama sehingga distribusi darah ke otak menjadi kurang maksimal,” jelasnya.
Karena itu, ia menganjurkan setiap orang untuk membatasi waktu duduk maksimal satu jam. Setelah itu, disarankan berdiri, berjalan kaki, atau melakukan peregangan ringan selama sekitar dua menit sebelum kembali bekerja atau belajar.
Kondisi Jantung dan Paru-Paru Ikut Menentukan Kinerja Otak
Melalui penelitian menggunakan orthostatic test, Zaenal menemukan bahwa kemampuan tubuh beradaptasi terhadap perubahan posisi sangat bergantung pada kondisi sistem kardiovaskular dan pernapasan.
Jantung, paru-paru, serta sistem peredaran darah yang bekerja dengan baik akan memastikan pasokan oksigen menuju otak tetap terjaga. Sebaliknya, apabila organ-organ tersebut mengalami gangguan, fungsi otak juga berpotensi ikut menurun.
Olahraga Kini Menjadi Bagian dari Terapi Kesehatan
Zaenal mengatakan dunia medis kini mengenal konsep Exercise is Medicine, yakni olahraga dipandang sebagai bagian dari terapi kesehatan.
Namun, seperti halnya obat, olahraga juga harus dilakukan dengan dosis yang tepat. Jenis latihan, intensitas, frekuensi, hingga durasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu agar manfaatnya benar-benar optimal.
Selain meningkatkan kebugaran, aktivitas fisik juga membantu merangsang produksi hormon endorfin yang berperan memperbaiki suasana hati sekaligus mengurangi rasa nyeri.
Hindari Olahraga Berat Setelah Makan
Meski olahraga memiliki banyak manfaat, Zaenal mengingatkan masyarakat agar tidak berolahraga berat sesaat setelah makan.
Menurutnya, setelah makan tubuh akan memfokuskan aliran darah ke sistem pencernaan. Jika pada saat yang sama seseorang melakukan aktivitas fisik berat, kerja jantung dapat menjadi tidak optimal sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, bahkan kematian mendadak pada individu yang memiliki kondisi tertentu.
Ia juga mengingatkan agar aktivitas seperti berenang tidak dilakukan segera setelah makan karena berpotensi memicu kram maupun gangguan pada sistem sirkulasi.
Tiga Prinsip Olahraga untuk Menjaga Kesehatan Otak
Agar olahraga memberikan manfaat maksimal bagi kesehatan otak sekaligus tubuh, Zaenal menyarankan masyarakat menerapkan tiga prinsip utama, yaitu:
Melibatkan kelompok otot besar seperti otot tungkai dan lengan.
Menggunakan gerakan yang ritmis, misalnya jalan cepat, jogging, atau bersepeda dengan tempo yang stabil.
Dilakukan secara berkelanjutan selama sekitar 30–40 menit tanpa terlalu sering berhenti atau mengalami perubahan intensitas secara drastis.
Dengan pola tersebut, olahraga tidak hanya meningkatkan kebugaran fisik, tetapi juga membantu menjaga kelancaran aliran darah, meningkatkan pasokan oksigen ke otak, serta mendukung fungsi kognitif tetap optimal di tengah gaya hidup digital yang semakin minim aktivitas fisik. [aje]






