Jombang (beritajatim.com) – Aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjadi titik awal persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 2026. Dalam rapat koordinasi perdana yang digelar Kamis malam (16/7/2026),
Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof. Dr. Ir. H. Mohammad Nuh, DEA atau M. Nuh, menyebut perhelatan akbar tersebut memiliki makna sejarah yang luar biasa karena bertepatan dengan satu abad berdirinya Nahdlatul Ulama.
M. Nuh mengibaratkan Muktamar ke-35 NU yang digelar di Tambakberas sebagai sebuah momen ‘Reuni Akbar Imajiner’, di mana para muassis atau pendiri NU seakan hadir secara spiritual menyertai perjalanan organisasi yang telah berdiri sejak 1926.
Rapat koordinasi perdana tersebut dihadiri jajaran penting kepanitiaan dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di antaranya Ketua Organizing Committee (OC) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Sekretaris OC Amin Said Husni, Ketua PBNU Savic Ali, serta pihak tuan rumah dari Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Dalam paparannya, M. Nuh mengajak seluruh pihak yang terlibat untuk memanjatkan rasa syukur karena masih diberikan kesempatan untuk berkhidmat dalam menyiapkan muktamar yang memiliki nilai historis besar bagi warga Nahdliyin.
Secara khusus, M. Nuh menyoroti momentum kesejarahan yang sangat luar biasa pada pelaksanaan muktamar kali ini. Jika dihitung berdasarkan kalender Masehi, penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU pada tahun 2026 ini bertepatan pas 100 tahun sejak NU didirikan pada tahun 1926 silam.
Karena nilai sejarahnya yang begitu besar, M. Nuh mengibaratkan muktamar di Tambakberas ini sebagai sebuah momen “Reuni Akbar Imajiner”. Dalam pandangan imajinernya, seluruh muassis atau pendiri NU akan hadir secara spiritual menyelimuti tempat berlangsungnya muktamar.
Mengingat kehadiran spiritual para pendiri tersebut, M. Nuh menegaskan tidak ada pilihan lain bagi panitia dan warga NU selain memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya. Penghormatan tersebut ditujukan baik kepada para muassis dan masyayikh yang telah mendahului, maupun kepada para muktamirin yang hadir sebagai tamu yang melanjutkan misi organisasi.
Oleh karena itu, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini menekankan bahwa tahapan persiapan menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya. M. Nuh mengutip sebuah kaidah manajemen bahwa dalam setiap acara, sebesar 75 persen kesuksesan ditentukan oleh matangnya proses persiapan.

“Apabila persiapan teknis dan substansi dapat dirancang dengan baik, maka pelaksanaan muktamar secara keseluruhan insyaallah akan berjalan sukses. Saat ini, kepanitiaan sendiri bergerak aktif mematangkan dua agenda besar yang saling menopang, yakni kesiapan teknis pelaksanaan dan kesiapan konten materi,” ujar M Nuh.
M. Nuh memaparkan bahwa urusan teknis pelaksanaan dikomandani langsung oleh duet Ketua dan Sekretaris OC, Gus Ipul dan Amin Said Husni. Sementara untuk urusan substansi, materi, dan konten apa saja yang akan dibahas, menjadi domain penuh yang disiapkan oleh Steering Committee.
Dukungan finansial yang sehat dan dikelola secara arif juga menjadi kunci penting yang disinggung M. Nuh. Secara berseloroh namun penuh apresiasi, ia memuji bendahara panitia yang diistilahkannya memiliki karakter ‘Good Fan’—sebuah pelesetan dari bahasa Jawa yang berarti orang yang memegang uang secara baik dan menyalurkannya dengan penuh kearifan.
Berangkat dari kesadaran tempat pelaksanaan yang sakral di area pesantren para muassis, M. Nuh menegaskan bahwa Muktamar Ke-35 NU ini harus dilalui dengan suasana hati yang senang dan gembira. Hal ini sejalan dengan apa yang ditekankan oleh Ketua OC, Gus Ipul, yang menargetkan hajat ini menjadi muktamar yang gembira dan penuh berkah.
“Kedatangan warga NU ke muktamar ini layaknya anak-anak yang datang untuk bersilaturahmi kepada orang tuanya setelah terpisah lama. Rasa rindu yang membuncah setelah sekian lama tidak bertemu akan membuat semua orang ingin memberikan persembahan yang terbaik,” tuturnya.
Di sisi lain, ia mengingatkan sebuah pesan moral yang mendalam mengenai hubungan orang tua dan anak. Menurutnya, hal yang paling tidak disukai oleh orang tua mana pun, termasuk para muassis NU di alam barzakh, adalah melihat anak-cucunya saling bertengkar ketika berkumpul kembali.
Bagi para sesepuh organisasi, kekurangan dari segi materi atau latar belakang ekonomi bukanlah masalah utama, asalkan anak-cucunya tetap hidup rukun dan bergotong royong. Hal itulah yang melandasi tekad panitia agar muktamar ini dijaga agar tetap sejuk dan damai.
M. Nuh bahkan berkelakar tentang pentingnya menjaga “kesejukan” ini secara harfiah maupun kiasan, yang disambut tawa peserta rapat saat membahas fasilitas pendingin ruangan di aula pesantren. Kiasan tersebut merujuk pada prinsip bahwa dalam suasana yang sejuk, tidak akan ada pihak yang saling mengumbar aib sesama saudara sendiri.
“Tentu, kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada keluarga besar Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas atas persiapan awal yang luar biasa. Sinergi yang kuat antara semangat membara dari panitia pelaksana dan keteduhan pondok pesantren akan menjadi modal utama melahirkan muktamar yang berkualitas, bermartabat, sejuk, dan membawa berkah,” pungkasnya. [suf]






