Sumenep (beritajatim.com) – Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo mewarning seluruh kepala sekolah, agar tidak menjadikan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) sebagai ajang perploncoan siswa baru.
“Saya sudah sampaikan ke kepala-kepala sekolah. Bahkan saya sudah ‘warning’. Jangan sampai senior-seniornya siswa baru ini menjadikan MPLS sebagai ajang perploncoan,” katanya, Senin (13/7/2026).
Pada hari pertama masuk sekolah, Bupati bersama Dinas Pendidikan Sumenep melakukan pemantauan langsung pelaksanaan MPLS di sejumlah sekolah.
“Saya sudah sampaikan tadi. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama MPLS. Ada batasan-batasan yang harus dipatuhi. Dikoordinasikan dengan pengurus OSIS,” ujarnya.
Ia meminta MPLS lebih pada edukasi dan pengenalan lingkungan sekolah. Bukan pada latihan fisik atau penekanan mental siswa baru.
“Sesuai dengan namanyalah. MPLS itu semestinya isinya memang pengenalan lingkungan sekolah ke siswa baru. Harus edukatif. Tidak boleh sampai ada ‘bullying’ senior ke anak baru,” tandasnya.
Sementara Kepala Dinas Pendidikan Sumenep, Moh. Iksan mengaku telah memberikan surat edaran ke sekolah-sekolah, agar MPLS diisi dengan kegiatan yang edukatif, inklusif, ramah anak, partisipatif, dan bebas dari segala bentuk perundungan.
“Kegiatan positif itu misalnya saja menampilkan seni budaya lokal Madura, kemudian menggunakan Bahasa Madura selama MPLS. Ini penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas daerah. Termasuk juga mendukung implementasi pembelajaran berbasis kearifan lokal,” tegasnya. [tem/suf]






