Magetan (beritajatim.com) – Dinas Koperasi dan UKM (Diskop UKM) Kabupaten Magetan terus memperkuat daya saing produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis kearifan lokal. Salah satu upaya yang kini didorong adalah inovasi bolu khas Magetan agar tidak lagi hanya dikenal sebagai sajian tradisional, tetapi juga menjadi oleh-oleh unggulan yang diminati wisatawan dan kalangan muda.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus memperluas pangsa pasar UMKM. Selain mengangkat identitas budaya daerah, inovasi produk diharapkan mampu menjawab perubahan tren konsumsi masyarakat yang semakin mengutamakan cita rasa, tampilan, dan kemasan yang menarik.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Magetan, Joko Trihono, mengatakan pengembangan produk berbasis kearifan lokal terus menjadi perhatian pihaknya. Salah satu contohnya adalah bolu lokal yang selama ini rutin ditampilkan dalam agenda budaya Jaya Jayaning Nuswantoro (JJN) yang digelar setiap momentum 1 Muharam atau bulan Suro.
Menurutnya, ajang tersebut tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarana memperkenalkan potensi produk khas Magetan kepada masyarakat luas.
“Produk bolu itu kami coba dibentuk dalam branding khas Magetan, biasanya diwujudkan dalam bentuk lesung dan beduk yang mencerminkan kearifan lokal,” ujar Joko, Sabtu (4/7/2026).
Ia menjelaskan, selama ini bolu tradisional masih identik sebagai sajian dalam acara hajatan maupun hantaran. Persepsi tersebut perlu diubah agar produk memiliki pasar yang lebih luas dan mampu mengikuti selera konsumen masa kini.
Karena itu, Diskop UKM mendorong pelaku UMKM melakukan inovasi, baik dari sisi cita rasa, tampilan, maupun kemasan. Penambahan berbagai varian topping, seperti cokelat dan keju, dinilai dapat meningkatkan daya tarik produk tanpa menghilangkan ciri khas lokal yang dimiliki.
“Kalau dikemas lebih menarik dan ada nilai tambah rasa, produk ini bisa menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan yang datang ke Magetan,” katanya.
Inovasi tersebut dinilai penting mengingat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif saling berkaitan. Kehadiran produk oleh-oleh yang khas akan memperpanjang pengalaman wisatawan setelah berkunjung ke Magetan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan bagi pelaku UMKM.
Selain itu, produk dengan kemasan modern juga memiliki peluang lebih besar untuk dipasarkan melalui platform digital maupun jaringan ritel, sehingga jangkauan pasarnya tidak hanya terbatas di wilayah Magetan.
Joko optimistis, apabila inovasi terus dilakukan secara berkelanjutan, produk-produk lokal Magetan akan semakin dikenal di tingkat regional bahkan nasional. Hal itu diharapkan berdampak pada peningkatan daya saing UMKM sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat.
“Harapannya produk lokal kita mampu berbicara di tingkat regional maupun nasional sehingga pemasarannya semakin luas,” pungkasnya.
Ke depan, Diskop UKM Magetan akan terus mendorong kolaborasi antara pelaku UMKM, pemerintah daerah, dan berbagai agenda promosi daerah agar produk-produk berbasis kearifan lokal semakin berkembang. Melalui inovasi yang tetap mempertahankan identitas budaya, bolu khas Magetan diharapkan mampu menjadi salah satu ikon kuliner sekaligus oleh-oleh unggulan yang memperkuat citra daerah di mata wisatawan. [fiq/kun]






