Magetan (beritajatim.com) – Seekor anak sapi jantan milik Parmin (57), peternak asal Desa Setren, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan, mendadak viral dan menyita perhatian publik setelah terlahir dengan kondisi fisik yang sangat langka.
Anak sapi tersebut lahir dengan satu kepala yang memiliki dua mulut dan tiga mata, sebuah fenomena medis yang dikenal dalam dunia kedokteran hewan sebagai polisefali (polycephaly).
Proses persalinan tidak biasa ini terjadi pada Senin dini hari. Parmin mengaku sama sekali tidak mendapatkan firasat aneh mengenai indukan sapinya, bahkan ia terpaksa membantu proses kelahiran tersebut seorang diri di dalam kandang hingga anak sapi berhasil keluar.
“Saya tahu induknya mau melahirkan sebelum subuh. Setelah subuh saya bantu tarik sendiri. Begitu keluar seperti ini saya benar-benar kaget. Saya sampai bilang, ‘Masyaallah’, lalu saya panggil istri saya,” ujar Parmin saat memberikan keterangan pada Jumat, 10 Juli 2026.
Rasa syok peternak senior ini memuncak ketika ia membersihkan tubuh anak sapi dan mendapati struktur anatomi wajah yang tidak lazim. “Kepalanya satu, tapi mulutnya kok dua, matanya tiga. Saya benar-benar kaget,” katanya menceritakan momen kepanikannya.
Kendati mengalami kelainan bawaan sejak dalam kandungan, Parmin memastikan bahwa kondisi mamalia berkaki empat tersebut saat ini masih hidup dan menunjukkan respons motorik serta daya hidup yang cukup baik.
“Alhamdulillah sehat,” ucap Parmin singkat.
Secara silsilah ternak, anak sapi jantan unik ini merupakan keturunan kedua dari induk berjenis Simmental miliknya yang dikawinkan melalui metode inseminasi buatan menggunakan pejantan Limousine. Berbeda dengan adiknya, anak pertama dari indukan tersebut lahir normal berjenis kelamin betina.
Parmin kemudian menyematkan nama panggilan Brilian untuk anak sapi jantannya tersebut atas usulan spontan dari warga sekitar yang datang berkunjung. “Pokoknya saya menyebutnya Brilian saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Daya tarik Brilian yang tidak biasa ini langsung memicu ketertarikan sejumlah kolektor hewan dan makelar ternak untuk menawarnya dengan harga tinggi, namun Parmin menegaskan komitmennya untuk menolak segala bentuk transaksi komersial.
“Saya pelihara sendiri. Ada yang tanya mau beli, tapi saya ingin memelihara sendiri sampai besar. Tidak dijual,” tegas pria yang mengaku sudah menekuni dunia peternakan sapi sejak masih duduk di bangku sekolah dasar tersebut.
Popularitas Brilian yang melesat cepat di media sosial membuat kediaman Parmin kini mendadak berubah menjadi destinasi tontonan warga. Warga dari berbagai desa berbondong-bondong datang silih berganti karena penasaran ingin melihat langsung visual fisik dari sapi unik tersebut.
“Mulai Senin pagi sampai sekarang orang datang terus, pulang pergi melihat sapi ini,” tutur Parmin.
Merespons fenomena ini dari sudut pandang ilmiah, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, drh. Budi Nur Rochman, menjelaskan bahwa kondisi Brilian murni merupakan anomali biologis. Istilah kedokterannya disebut polisefali, atau lebih spesifik dicephaly (dicephalic parapagus) untuk kasus satu tubuh dengan dua wajah atau kepala.
Budi memaparkan bahwa fenomena ini adalah bentuk dari kasus kembar siam (conjoined twins). Kelainan tersebut terjadi di fase awal kehamilan, di mana embrio yang seharusnya membelah secara sempurna menjadi kembar identik mengalami kegagalan pembelahan, sehingga memicu replikasi organ wajah secara ganda sementara bagian tubuh lainnya tetap menyatu.
Dinas Peternakan menegaskan bahwa peristiwa langka ini murni disebabkan oleh gangguan perkembangan embrio atau mutasi genetik selama masa kebuntingan, dan sama sekali tidak memiliki korelasi dengan mitos, kutukan, maupun hal-hal supranatural.
Mengingat hewan dengan polisefali umumnya memiliki angka harapan hidup yang pendek akibat potensi komplikasi fungsi organ dalam, pihak medis akan terus memantau perkembangan Brilian untuk memastikan organ-organ vitalnya berfungsi dengan optimal seiring pertumbuhannya. [fiq/ian]






