Mojokerto (beritajatim.com) – Kabupaten Mojokerto mencatat capaian pembangunan yang menggembirakan sepanjang 2025. Berbagai indikator sosial ekonomi menunjukkan tren positif, mulai dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), menurunnya angka kemiskinan, hingga semakin baiknya dukungan layanan kesehatan.
Meski demikian, pemerataan pembangunan antar wilayah masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian. Berdasarkan data Kabupaten Mojokerto Dalam Angka 2026, IPM Kabupaten Mojokerto pada 2025 mencapai 75,90. Angka tersebut menempatkan Kabupaten Mojokerto dalam kategori tinggi dan hampir sejajar dengan rata-rata Provinsi Jawa Timur.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny mengatakan, peningkatan IPM Kabupaten Mojokerto mencerminkan adanya kemajuan pada tiga dimensi utama pembangunan manusia, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak.
“IPM Kabupaten Mojokerto terus menunjukkan tren yang positif. Pada periode 2024 hingga 2025, pertumbuhan IPM mencapai 0,99 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jawa Timur yang sebesar 0,78 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat Kabupaten Mojokerto mengalami peningkatan yang cukup baik,” ungkapnya, Sabtu (11/7/2026).
Selain peningkatan kualitas hidup, kondisi kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perkembangan positif. Persentase penduduk miskin pada 2025 tercatat sebesar 5,56 persen, turun dibandingkan tahun sebelumnya. Secara absolut, jumlah penduduk miskin mencapai 102,67 ribu jiwa, dengan tren penurunan yang terus berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
“Penurunan tingkat kemiskinan merupakan indikator yang menggambarkan semakin membaiknya kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, upaya pengentasan kemiskinan tetap perlu diperkuat agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Di sektor kesehatan, Kabupaten Mojokerto didukung oleh 27 puskesmas yang tersebar di berbagai kecamatan. Pelayanan tersebut diperkuat oleh 923 tenaga medis dan paramedis, yang terdiri atas 27 dokter umum, 2 dokter gigi, 400 bidan, dan 411 perawat. Namun, distribusi tenaga kesehatan di Kabupaten Mojokerto masih belum merata.
Ia mencontohkan, Kecamatan Trowulan tercatat memiliki jumlah perawat terbanyak, yakni 28 orang, sementara Puskesmas Trawas memiliki 9 dokter, menjadi yang terbanyak di kabupaten tersebut. Adapun Kecamatan Jatirejo memiliki jumlah bidan terbanyak, yaitu 27 orang. Menurutnya, pemerataan tenaga kesehatan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang masih perlu mendapatkan perhatian.
“Data statistik tidak hanya menggambarkan capaian pembangunan, tetapi juga menunjukkan area yang masih memerlukan perhatian. Pemerataan tenaga kesehatan menjadi salah satu aspek penting agar pelayanan kesehatan dapat diakses secara setara oleh masyarakat di seluruh wilayah Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.
Secara keseluruhan, capaian pembangunan Kabupaten Mojokerto pada 2025 menunjukkan arah yang semakin baik. Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), penurunan angka kemiskinan, serta tersedianya layanan kesehatan menjadi modal penting dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
“Dengan data statistik yang berkualitas, pemerintah dapat merumuskan kebijakan pembangunan yang lebih efektif, sehingga manfaat pembangunan tidak hanya meningkat secara agregat, tetapi juga dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Kabupaten Mojokerto,” pungkasnya. [tin/ted]






