Gresik (beritajatim.com)- Harga jeruk nipis yang sedang meroket rupanya ikut membuat selera tangan-tangan jahil meningkat. Di Desa Kebonagung, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, para petani dibuat geleng-geleng kepala lantaran buah jeruk nipis di kebun mereka mendadak menyusut sebelum sempat dipanen.
Bukan karena dimakan ulat, bukan pula dipetik pemiliknya. Diduga, buah-buah itu lebih dulu berjalan bersama pencuri yang beraksi saat malam hari.
Kesal karena aksi pencurian tak kunjung berhenti, Pemerintah Desa (Pemdes) Kebonagung bersama warga akhirnya mengambil langkah yang tak biasa. Mereka menggelar sayembara dengan hadiah uang tunai Rp 3 juta bagi siapa pun yang berhasil menangkap pelaku pencurian jeruk nipis.
Kalau biasanya hadiah diberikan untuk lomba panjat pinang atau balap karung, kali ini hadiahnya khusus untuk pemburu maling jeruk.
Camat Ujungpangkah, Shofwan Hadi mengatakan, aksi pencurian kerap terjadi ketika para petani sudah meninggalkan kebun menjelang Magrib.
“Para petani biasanya sudah pulang ke rumah. Saat hendak panen, jumlah jeruk nipis ternyata sudah banyak berkurang. Apalagi sekarang harga jual jeruk nipis sedang naik,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
[irp posts=”1524558” ]
Maraknya pencurian tersebut membuat sebagian petani merugi. Tidak sedikit yang gagal menikmati hasil panen karena buah di pohon lebih dulu raib.
Karena itu, warga bersama pemerintah desa sepakat menggelar sayembara sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan sekaligus memberikan efek jera kepada pelaku.
“Bagi yang bisa menangkap maling akan mendapat hadiah uang tunai Rp3 juta dari Pemerintah Desa Kebonagung,” tegas Shofwan.
Kini, yang paling ditunggu warga bukan hanya musim panen jeruk nipis, tetapi juga kabar tertangkapnya pelaku. Sebab, kalau malingnya berhasil diamankan, bukan cuma petani yang senang, sang penangkap pun bisa membawa pulang hadiah jutaan rupiah. [dny/aje]






