Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan inovasi nanopestisida tahan air hujan dan paparan sinar matahari. Produk bernama DNF@S-MSN-CS ini memodifikasi pestisida dinotefuran di pasaran menjadi formulasi nano.
Peneliti DNF@S-MSN-CS, Putri Mulia Hafiy Dzikrullah, mengungkapkan pestisida dinotefuran konvensional memiliki banyak keterbatasan. Cairan pembasmi hama tersebut mudah rusak oleh sinar ultraviolet (UV) serta gampang terkikis air hujan.
“Kondisi tersebut diperparah dengan pelepasan bahan aktif yang cenderung berlangsung secara tidak terkontrol,” urai mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS yang akrab disapa Fide ini, Rabu (1/7/2026).
Mengatasi masalah itu, tim mengandalkan kitosan sebagai pelapis dan silika selaku pembawa bahan aktif. Formulasi baru ini dibuat dalam bentuk partikel halus menyerupai pasir agar lebih melekat kuat pada tanaman.
“Struktur ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap paparan UV dan air hujan,” lanjut Fide.
Inovasi ini mendapat respons positif dari Kepala Seksi Pelayanan Teknis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur, Ari Ika Sari. Ia menilai efisiensi pestisida akan meningkat.
“Minimnya penggunaan pestisida tentu dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan,” ungkap Ari.
Menurut Ari, teknologi berbasis nano memiliki prospek pemanfaatan yang luas di sektor pertanian. Skema perlindungan ini tidak hanya terbatas pada pestisida kimia untuk membasmi hama tanaman saja.
“Konsep serupa berpotensi diterapkan pada agen pengendali hayati hingga zat pengatur tumbuh tanaman,” jelas Ari.
Dosen pembimbing penelitian, Nurul Faizah, menyatakan pengembangan produk ini selaras dengan identitas pendidikan vokasi. Ia berharap riset mahasiswa DTKI ITS ini bisa segera memasuki tahap uji komersial.
“Hal ini dilakukan supaya hasil riset dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat,” harap Faizah.
Penerapan teknologi pintar dalam dunia tani diharapkan melahirkan solusi pemberantasan organisme pengganggu yang efisien. Langkah nyata ini sekaligus menjadi sokongan bagi terwujudnya sistem pertanian berkelanjutan di masa depan.
“Tak hanya meningkatkan efektivitas pengendalian hama, teknologi ini juga berpotensi mengurangi dampak penggunaan bahan kimia terhadap lingkungan,” pungkas Faizah. [ipl/ted]






