Ringkasan Berita:
- Bader FC menjadi juara Super Copa 100 Tahun Gontor usai menang 5-2 atas Muria Jaya FC.
- Juara memperoleh trofi dan hadiah pembinaan sebesar Rp25 juta.
- Turnamen menjadi bagian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
- Gontor menegaskan sepak bola menjadi sarana pendidikan karakter sekaligus membuka peluang lahirnya pemain nasional.
Ponorogo (beritajatim.com) – Turnamen Super Copa 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi mencapai puncaknya. Bader FC keluar sebagai juara setelah menaklukkan Muria Jaya FC dengan skor meyakinkan 5-2 pada partai final yang berlangsung di Darussalam Gontor Stadium (DGS).
Laga final berlangsung dalam tempo tinggi sejak menit awal. Kedua tim sama-sama mengusung permainan menyerang demi memburu gelar juara. Namun, Bader FC tampil lebih efektif dalam memanfaatkan peluang sehingga mampu mengendalikan jalannya pertandingan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan tersebut memastikan Bader FC mengangkat trofi juara Super Copa 100 Tahun PMDG. Selain itu, tim berhak membawa pulang hadiah pembinaan sebesar Rp25 juta sebagai bentuk apresiasi atas prestasinya.
Super Copa bukan sekadar kompetisi sepak bola. Turnamen ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor yang dirancang untuk menanamkan nilai sportivitas, disiplin, kerja sama, serta jiwa kepemimpinan melalui olahraga.
Ketua Umum Panitia Peringatan 100 Tahun PMDG, Prof. Dr. K.H. Hamid Fahmy Zarkasyi, menegaskan penyelenggaraan Super Copa merupakan bagian dari sistem pendidikan karakter yang diterapkan di Pondok Gontor.
Menurutnya, olahraga menjadi media pembelajaran yang efektif untuk membentuk karakter sekaligus memberi ruang bagi santri mengembangkan bakat, termasuk di bidang sepak bola.
“Ini adalah salah satu kegiatan yang mendidik anak-anak bahwa bermain itu harus sebaik-baiknya. Kalau memang dari Gontor mempunyai kemampuan yang luar biasa, bisa menjadi pemain nasional,” kata Hamid Fahmy Zarkasyi, ditulis Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan, Pondok Gontor tidak membatasi pilihan karier alumninya setelah menyelesaikan pendidikan. Santri yang memiliki minat dan kemampuan di dunia sepak bola dipersilakan meniti profesi sebagai atlet.
“Kalau ada anak Gontor yang mau jadi pemain sepak bola setelah itu, terserah, tidak ada masalah,” ungkapnya.
Meski demikian, Hamid Fahmy menegaskan orientasi utama pendidikan di Gontor tetap mencetak kader umat dan pemimpin masyarakat. Namun, pondok tetap membuka ruang bagi santri untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki.
“Kan ini santri, kalau tamat dari sini ya kiai. Ini juga jadi alternatif alumni, alternatif santri kalau dia tidak menjadi apa-apa, dia bisa menjadi pemain sepak bola,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan Super Copa 100 Tahun PMDG, Pondok Modern Darussalam Gontor ingin menunjukkan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lapangan sepak bola juga menjadi ruang pembelajaran untuk menanamkan nilai kompetisi yang sehat, tanggung jawab, sportivitas, serta semangat meraih prestasi sebagai bagian dari perjalanan satu abad Gontor. [end/beq]






