Magetan (beritajatim.com) – Suasana hangat dan penuh keceriaan menyelimuti Joglo Kondang Ayem di kawasan Tawanganom, Magetan, saat puluhan anak berkumpul dalam acara Yatim Bahagia Spesial pada Kamis (25/6/2026). Momentum 10 Muharram 1448 H ini dimanfaatkan secara maksimal oleh Yayasan Al Jannah Magetan untuk berbagi kebahagiaan sekaligus merancang masa depan yang lebih cerah bagi mereka.
“Tujuan penyelenggaraan Yatim Bahagia Spesial ini adalah program momentum 10 Muharram, sebagai upaya meneladani Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, karena 10 Muharram adalah Hari Raya Anak Yatim,” ujar Direktur Yayasan Al Jannah Magetan, Sri Mulyani, Jum’at (26/6/2026).
Perayaan yang sarat akan makna spiritual ini sejalan dengan kearifan lokal Nusantara untuk memperbanyak kepedulian sosial terhadap sesama manusia. Pada perhelatan yang berlangsung dari sore hingga petang tersebut, tercatat ada 75 anak yatim dari enam lembaga berbeda yang menjadi penerima manfaat utama.
“Hal ini sesuai tradisi budaya yang berkembang di nusantara sebagai momentum untuk memperbanyak amal kebaikan dan memuliakan anak yatim,” tambahnya menjelaskan nilai filosofis di balik acara tersebut.
Dedikasi kemanusiaan dari lembaga sosial ini rupanya tidak hanya terhenti pada kegiatan seremonial tahunan semata, melainkan diwujudkan dalam dukungan logistik yang berkelanjutan. Sejak beberapa tahun ke belakang, mereka terus berupaya menjaga kelangsungan hidup anak-anak melalui penyaluran kebutuhan pokok secara rutin ke pesantren-pesantren.
“Sampai saat ini Yayasan Al Jannah Magetan berkolaborasi dengan Baitul Maal Munzalan Indonesia untuk pendampingan dan pembinaannya yang ada di pondok pesantren di seluruh Kabupaten Magetan, dan peran kami adalah membantu dalam pemenuhan kebutuhan beras setiap bulannya secara istiqomah sejak tahun 2021,” ungkap Sri Mulyani menceritakan rekam jejak lembaganya.
Demi mewujudkan jaminan kehidupan yang lebih menjanjikan, pihak yayasan kini tengah mematangkan langkah strategis untuk memperluas cakupan program pendampingan mereka. Langkah progresif ini secara khusus akan menyasar perluasan kesempatan belajar agar para santri dan anak yatim tersebut memiliki akses pendidikan tinggi tanpa kendala biaya.
[irp posts=”1521919″ ]
“Insya Allah untuk pendidikan, kami bekerja sama dengan pondok mitra yang memiliki pendidikan formal agar bisa memberi peluang belajar lanjutan dengan biaya gratis administrasi. Bahkan program yang sedang berjalan saat ini, ada satu anak yang mondok di Al Mafaza dan bisa kuliah gratis di STAIM,” jelasnya.
Selain memastikan terjaminnya bangku sekolah, aspek kesehatan dan kemandirian finansial keumatan juga mulai diangkat sebagai pilar program unggulan lembaga ini. Mereka aktif menjalin komunikasi lintas badan usaha guna merealisasikan kesejahteraan yang utuh bagi pondok mitra yang mengasuh kelompok rentan tersebut.
“Program kesehatan pernah kami lakukan dengan berkolaborasi bersama Puskesmas untuk memberi pendampingan tentang kesehatan kewanitaan, sementara untuk pemberdayaan ekonomi masih dalam rencana tahun 2026 ini untuk berkolaborasi dengan An Nahl Group Madiun guna budidaya ternak lebah bagi pondok mitra,” pungkas Sri Mulyani.[asg/aje]






