Ringkasan Berita:
- PDI Perjuangan Surabaya menilai Marhaenisme tetap relevan bagi Generasi Z jika disesuaikan dengan tantangan era digital.
- Generasi Z dinilai tidak apatis terhadap politik, tetapi memiliki cara berbeda dalam menyampaikan aspirasi.
- Terdapat tiga strategi untuk membumikan Marhaenisme, yakni rekontekstualisasi isu, pembaruan metode komunikasi, dan kaderisasi partisipatif.
- Marhaenisme diharapkan menjadi alat analisis untuk menjawab persoalan sosial, bukan sekadar slogan sejarah.
Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Surabaya, Eko Wahyono, menegaskan Marhaenisme masih memiliki relevansi bagi Generasi Z selama mampu diterjemahkan sesuai dinamika dan tantangan era digital. Menurutnya, ideologi tidak boleh berhenti sebagai warisan sejarah, melainkan harus menjadi pedoman untuk membaca dan menjawab persoalan sosial yang dihadapi generasi muda saat ini.
“Generasi Z sering dicap apolitis, apatis, bahkan individualis. Padahal berbagai aksi seperti Reformasi Dikorupsi, Gejayan Memanggil, demonstrasi Agustus, hingga Reformati Indonesia menunjukkan mereka justru bergerak berdasarkan akurasi isu dan data. Mereka bukan generasi yang tidak peduli, tetapi memiliki cara sendiri dalam menyampaikan aspirasi,” kata Eko, Jumat (26/6/2026).
Mantan aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu menjelaskan karakter Generasi Z memiliki kemiripan dengan semangat Soekarno muda yang membangun perjuangan politik berdasarkan persoalan nyata di tengah masyarakat. Karena itu, menurutnya, nilai-nilai Marhaenisme perlu dibumikan kembali tanpa kehilangan substansi ideologinya.
“Marhaenisme adalah magnum opus Bung Karno yang masih relevan hingga hari ini. Yang perlu kita lakukan bukan mengulang romantisme sejarah, tetapi menghadirkan kembali nilai-nilainya agar dekat dengan realitas Generasi Z,” ujarnya.
Eko menyebut terdapat tiga strategi utama untuk memperkenalkan kembali Marhaenisme kepada generasi muda. Pertama melalui rekontekstualisasi isu, kedua memperbarui metode penyampaian gagasan, dan ketiga menerapkan pola pembelajaran yang lebih partisipatif.
Menurutnya, isu-isu yang diperjuangkan Generasi Z saat ini masih memiliki keterkaitan dengan semangat Marhaenisme, seperti kesejahteraan masyarakat, perlindungan buruh, hingga persoalan agraria.
“Isu-isu yang diperjuangkan Generasi Z sebenarnya masih beririsan dengan semangat Marhaenisme, seperti kesejahteraan masyarakat, buruh, hingga agraria. Contohnya pekerja ekonomi digital seperti pengemudi ojek online yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi tetap berada dalam sistem yang membuat mereka rentan,” jelasnya.
Selain substansi, Eko menilai cara penyampaian ideologi juga harus mengikuti perkembangan teknologi. Pemanfaatan media sosial dengan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian Generasi Z dinilai lebih efektif dibandingkan metode penyampaian yang bersifat satu arah.
“Generasi digital tidak bisa dipaksa menerima ideologi melalui metode lama. Marhaenisme harus hadir di platform yang akrab dengan mereka, menggunakan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi substansi perjuangannya,” kata alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya tersebut.
Lebih lanjut, Eko menilai proses kaderisasi juga perlu memberikan ruang bagi generasi muda untuk memperoleh pengalaman langsung melalui diskusi, lokakarya, kegiatan gotong royong, maupun pendampingan masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai lebih sesuai dengan karakter Generasi Z yang cenderung menyukai pembelajaran berbasis pengalaman.
“Ideologi harus menjadi alat bedah analisis untuk membaca dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Jangan sampai Marhaenisme hanya menjadi slogan atau hafalan, tetapi tidak mampu menjawab tantangan zaman,” pungkas pria yang akrab disapa Cak Ek itu. [asg/beq]

as a preferred source on Google




