Ringkasan
- Aipda Firman Wahyu Utama membangun usaha Candratama dari nol bersama istrinya.
- Halaman pabrik furniturnya kini menjadi pusat majelis pengajian dan mentoring UMKM.
- Sebagai anggota Propam Polres Kediri Kota, ia menggabungkan pengabdian, bisnis, dan dakwah.
- Baginya, kesuksesan bukan sekadar memiliki usaha, tetapi menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
- Ketika Halaman Parkir Menjadi Tempat Orang Mencari Jalan Hidup
Kediri (beritajatim.com) – Setiap Senin malam, halaman parkir sebuah pabrik furnitur di Jalan Tambora, Kota Kediri, berubah menjadi ruang belajar yang tak biasa. Buruh duduk berdampingan dengan pengusaha. Pegawai negeri berbincang dengan pelaku UMKM. Semua datang bukan untuk bekerja, melainkan mencari ilmu, berdiskusi, dan memperbaiki hidup.
Di sudut ruangan, Gus Kevin Al-Ishaqi memimpin pengajian bertajuk Jaringan Ngaji Keluarga atau Ruang Jangkar. Tema yang diangkat pun tidak biasa: Bincang Santai Ilmu Agama, Bisnis, dan Sosial.
Di balik semua itu, ada sosok yang memilih berada di belakang layar. Namanya Firman Wahyu Utama. Banyak orang mengenalnya sebagai ‘Ndan Firman’, anggota Satuan Propam Polres Kediri Kota berpangkat Aipda.
Di luar seragam dinas, Firman adalah pengusaha furnitur dengan merek Candratama. Bersama sang istri, Candra Puput Hapsari, ia membangun usaha yang kini berkembang setelah melewati perjalanan panjang yang tidak mudah.
Namun, bagi Firman, pencapaian terbesar bukanlah pabrik, omzet, atau bisnis yang berkembang. Yang membuatnya paling bersyukur justru ketika halaman parkir usahanya berubah menjadi tempat orang-orang mencari ilmu, bertanya tentang kehidupan, hingga menemukan harapan baru.
“Saya hanya ingin mewadahi. Sebagai anggota Polri, ini cara saya berkontribusi kepada masyarakat,” tuturnya.
Berangkat Tanpa Apa-Apa

Firman masih mengingat jelas ketika mutasi membawanya dari Lampung ke Kediri pada 2012. Ia datang tanpa membawa modal. Tak memiliki rumah.
Gaji sebagai anggota Polri saat itu nyaris habis untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan putra pertamanya harus dititipkan kepada orang tua karena kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan hidup bersama di Kota Tahu.
“Saya datang ke sini enggak bawa apa-apa sama sekali. Ngekos di Balowerti. Anak saya waktu itu bahkan saya titipkan ke orang tua karena gaji habis untuk kebutuhan sehari-hari,” kenangnya.
Di tengah kondisi itu, muncul kesempatan yang sama sekali asing baginya yakni, berjualan batu granit. Ia mengaku tidak memahami dunia tersebut.
“Baca meteran saja saya enggak bisa. Cari importir granit di mana juga enggak tahu,” ucapnya. Namun justru dari usaha yang tidak pernah ia bayangkan itu, perlahan kehidupannya berubah.
Bersama istrinya, ia belajar dari nol. Mencari pelanggan. Memahami karakter material. Menjalin relasi. Hingga akhirnya usaha granit berkembang menjadi bisnis interior dan kemudian melahirkan Candratama, perusahaan furnitur yang kini menjadi sumber penghidupan banyak orang.
Bagi Firman, keberhasilan itu bukan karena dirinya paling hebat. Ia justru melihat semuanya sebagai bentuk pertolongan Allah.
“Saya kemudian berpikir, apa ini karena saya hebat? Ternyata bukan. Semua murni pemberian Allah SWT,” ungkapnya.
Kesadaran itulah yang kemudian mengubah arah hidupnya. Baginya, usaha tidak berhenti pada mencari keuntungan. Usaha harus menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi orang lain.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” ujarnya, mengutip hadis yang menjadi pegangan hidupnya.
Prinsip itulah yang kelak melahirkan sebuah ruang sederhana, tetapi memiliki dampak luas bagi masyarakat.

Dari Basecamp Curhat Menjadi Ruang Jangkar
Kesuksesan bisnis tidak lantas membuat Firman Wahyu Utama sibuk mengejar ekspansi usaha semata. Ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikirannya setiap kali membantu menyelesaikan persoalan orang lain.
“Setelah masalah mereka selesai, lalu bagaimana?” imbuhnya. Pertanyaan itu lahir dari kebiasaan rumah sekaligus kantor Candratama yang sejak lama menjadi tempat berkumpul banyak orang.
Mulai pelaku UMKM, teman sesama anggota Polri, pekerja, pesilat, hingga masyarakat yang sedang menghadapi persoalan hukum maupun persoalan hidup, datang silih berganti. Mereka berdiskusi, meminta saran, bahkan sekadar mencari teman berbagi cerita.
Namun Firman merasa solusi yang diberikan sering kali hanya bersifat sementara. “Tapi yang jadi pertanyaan diri saya, setelah ini masalah-masalah selesai gimana? Kelanjutannya gimana? Itu jadi beban tersendiri dari sisi agama,” tuturnya.
Dari kegelisahan itulah lahir gagasan sederhana, menyediakan ruang yang bukan hanya menjadi tempat mengaji, tetapi juga menjadi tempat bertumbuh bersama.
Ia kemudian memfasilitasi kediamannya di belakang SMA Negeri 2 Kota Kediri itu sebagai lokasi Jaringan Ngaji Keluarga (Ruang Jangkar) yang diasuh oleh Gus Kevin Al-Ishaqi dari Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.
Setiap Senin malam, halaman parkir Candratama berubah menjadi majelis ilmu. Bukan hanya membahas fikih atau tafsir, tetapi juga kehidupan sehari-hari, bisnis, keluarga, hingga persoalan sosial.
Tema besarnya sederhana, namun dekat dengan kebutuhan masyarakat. “Bincang Santai Ilmu Agama, Bisnis dan Sosial.” Bagi Firman, pendekatan seperti itu membuat dakwah terasa lebih membumi.
“Pengajian kan sudah banyak. Tapi setelah ngaji kita ngobrol bisnis, setelah ngaji ada mentoring, setelah ngaji makan bersama, itu belum banyak,” ujarnya.

Sedekah Ilmu dan Sedekah Tempat
Firman menyebut konsep yang dibangunnya sebagai perpaduan antara sedekah ilmu dan sedekah lahan. Ia tidak menganggap dirinya sebagai pendiri ataupun tokoh utama dalam majelis tersebut.
Sebaliknya, ia memilih menjadi fasilitator yang membuka ruang bagi para ulama untuk mendampingi masyarakat.
“Saya hanya mewadahi tempat. Yang mengisi beliau-beliau. Saya hanya ingin berkontribusi sebagai anggota Polri untuk masyarakat,” terangnya.
Baginya, langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) melalui pendekatan yang lebih humanis.
Ia melihat banyak anak muda yang sebelumnya hanya menghabiskan waktu tanpa arah, kini memiliki ruang baru untuk belajar dan berdiskusi.
“Tujuannya bagaimana kita membantu negara dalam berkontribusi terhadap harkamtibmas, sehingga anak-anak muda itu lebih berkarya,” ungkapnya.
Selama hampir empat tahun berjalan, jamaah Jaringan Ngaji Keluarga terus bertambah. Setiap pertemuan rata-rata dihadiri sekitar 100 orang dari berbagai latar belakang profesi.
Selain itu, Firman juga dipercaya memfasilitasi Halaqah Semesta Muhammad yang diasuh oleh Kiai Ahmad Junaidi Shiddiq, pengasuh Pondok Pesantren Bumi Dzikrillah, Yayasan As-Shiddiqi, Desa Nyabakan Barat, Batang-batang, Sumenep, Madura.
Halaqah tersebut diikuti sekitar 20 peserta dan digelar rutin. “Di halaqah saya hanya mengakomodir jamaahnya, bukan kiainya,” katanya.
Tempat Bertumbuh, Bukan Menggurui

Firman memahami tidak semua jemaah datang dengan kondisi usaha yang mapan. Ada yang baru memiliki ide bisnis. Ada yang usahanya baru dimulai. Ada pula yang sedang berada di ambang kebangkrutan.
Karena itu, ia tidak pernah memosisikan diri sebagai orang yang paling tahu. Sebaliknya, ia berusaha menghubungkan mereka dengan komunitas atau mentor yang lebih kompeten. “Kita tidak memaksakan harus begini atau begitu,” ungkapnya.
Ketika persoalan tidak mampu diselesaikan di lingkungan majelis, Firman mendorong jemaah bergabung dengan komunitas seperti Tangan Di Atas (TDA) maupun HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) agar mendapatkan pendampingan yang sesuai.
Menurutnya, setiap persoalan membutuhkan solusi yang tepat dari orang yang tepat. “Biasanya kita akomodir dulu masalahnya, kemudian kita dorong teman-teman mengikuti komunitas yang bisa membantu menyelesaikan persoalan mereka,” jelasnya.
Pendekatan tersebut, kata Firman, telah membantu banyak orang bangkit dari keterpurukan. “Alhamdulillah banyak yang terbantu,” katanya.
Bahagia Karena Bisa Bermanfaat
Di balik kesibukan sebagai anggota Satuan Propam Polres Kediri Kota dan pengusaha furnitur, Firman mengaku justru memperoleh kebahagiaan ketika melihat orang lain berkembang. Ia percaya berbagi tidak selalu harus berbentuk materi.
Memberikan ruang, waktu, jaringan, hingga kesempatan belajar juga merupakan bentuk sedekah. “Kalau kita mau berbagi, bentuk apa pun itu, nanti akan tumbuh kebahagiaan yang lain,” lanjutnya.
Ia merasakan manfaat tersebut secara langsung. Bukan hanya bagi masyarakat, tetapi juga bagi dirinya sendiri. “Bahkan saya yang paling banyak mendapat manfaatnya,” terusnya.
Firman juga mengungkapkan rasa bangga karena dapat mengabdikan diri kepada masyarakat melalui jalan yang berbeda.
Sebagai anggota Polri, ia merasa memiliki kesempatan menghadirkan kontribusi yang tidak selalu diwujudkan melalui penegakan hukum. Melainkan melalui pemberdayaan masyarakat.
“Ada kebanggaan tersendiri sebagai anggota Polri bisa mewadahi masyarakat,” katanya.
Dari Nol Menuju Manfaat

Juli menjadi bulan yang istimewa bagi Firman. Bertepatan dengan Hari Bhayangkara ke-80, ia akan menerima kenaikan pangkat dari Aipda menjadi Aiptu.
Bagi pria kelahiran Bojonegoro tahun 1984 yang besar di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, pencapaian tersebut bukan sekadar kenaikan pangkat.
Itu menjadi pengingat perjalanan panjang sejak datang ke Kediri tanpa membawa apa pun hingga kini mampu membangun usaha, membuka lapangan pekerjaan, mendampingi pelaku UMKM, berbagi ilmu kewirausahaan di sekolah-sekolah, hingga menyediakan ruang bagi masyarakat untuk belajar agama dan saling menguatkan.
Jejak pengabdian itu pula yang membuat halaman parkir Candratama tidak sekadar menjadi tempat kendaraan berhenti. Di sana, setiap Senin malam, orang-orang datang dengan persoalan masing-masing dan pulang membawa harapan baru.
Bagi Firman, keberhasilan bukan lagi soal seberapa besar pabrik yang dibangun atau berapa banyak furnitur yang terjual. Keberhasilan adalah ketika halaman parkir yang dahulu hanya menjadi tempat kendaraan berhenti kini berubah menjadi ruang orang-orang menemukan ilmu, persaudaraan, dan harapan baru. [nm/aje]






