Surabaya (beritajatim.com) – Anggota DPRD Surabaya dari Partai Demokrat, Herlina Harsono Njoto, resmi meraih gelar doktor setelah menyelesaikan ujian terbuka Program Doktor Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Dalam disertasinya, Herlina mengupas faktor-faktor yang membentuk komitmen afektif kader partai politik dan menawarkan perspektif baru mengenai loyalitas dalam organisasi politik.
Promotor Herlina, Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog, mengatakan penelitian tersebut lahir dari perpaduan pengalaman panjang Herlina sebagai politisi dengan pendekatan akademik yang kuat. Pengalaman langsung di dunia politik membuatnya mampu melihat dinamika partai dari sudut pandang yang berbeda.
“Bertahan tidak selalu berarti mencintai organisasi. Seseorang bisa bertahan karena tidak memiliki pilihan, mempertimbangkan kerugian yang akan diterima, atau karena memang memiliki keterikatan emosional yang kuat terhadap partainya,” ujar Suryanto, Rabu (24/6/2026).
Dalam sidang terbuka, Herlina menjelaskan bahwa loyalitas kader ternyata tidak terutama dibangun melalui hubungan yang bersifat transaksional. Penelitiannya menemukan bahwa identitas sosial dan kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh lebih besar dalam membentuk keterikatan emosional kader terhadap partai.
“Dalam konteks organisasi politik di Indonesia, komitmen afektif kader lebih ditentukan oleh kekuatan identitas sosial dan kepemimpinan transformasional. Sementara hubungan yang bersifat transaksional justru dapat melemahkan keterikatan emosional terhadap partai,” kata Herlina.
Temuan tersebut menjadi salah satu bagian penting yang mendapat perhatian tim penguji. Herlina menjelaskan bahwa penelitian ini memperluas pemahaman mengenai teori pertukaran sosial yang selama ini banyak digunakan untuk menjelaskan hubungan individu dengan organisasi.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa komitmen kader tidak dibangun oleh apa yang diberikan partai, tetapi oleh seberapa kuat kader merasa menjadi bagian dari partai itu sendiri,” ujarnya.
Dalam sesi tanya jawab, tim penguji juga menyoroti komposisi responden yang sebagian berasal dari Partai Demokrat. Herlina mengakui adanya potensi bias kedekatan peneliti, namun menegaskan bahwa riset yang dilakukan berfokus pada hubungan antarvariabel, bukan membandingkan karakteristik masing-masing partai.
“Ini adalah potret sah mengenai mekanisme pembentukan komitmen afektif anggota DPRD di Jawa Timur secara agregat, bukan potret satu partai politik tertentu,” tegasnya.
Usai dinyatakan lulus, Herlina mengaku perjalanan menuju gelar doktor tidak selalu berjalan mulus. Dia sempat mengalami masa sulit selama beberapa semester sebelum akhirnya mampu menyelesaikan studi di tengah kesibukannya sebagai legislator, kader partai, istri, dan ibu.
“Keberhasilan bukan milik mereka yang paling cepat, tetapi milik mereka yang tidak berhenti berjalan,” ujar Herlina.
Baginya, gelar doktor bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk memberi manfaat bagi masyarakat dan pengembangan ilmu psikologi politik di Indonesia.
“Saya berharap capaian ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat dan pengembangan ilmu pengetahuan,” pungkasnya.[asg/aje]






