Madiun (beritajatim.com) — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun menyelenggarakan kegiatan khitanan massal yang diikuti oleh ratusan anak dari berbagai wilayah pada Selasa (23/6/2026). Kegiatan sosial ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Madiun yang ke-458.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Madiun, Soedjiono, menyampaikan bahwa agenda ini sengaja memanfaatkan momentum libur sekolah agar proses pemulihan anak-anak tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas.
Soedjiono menjelaskan bahwa panitia membagi lokasi khitan ke dalam tiga titik strategis guna mengurai kepadatan pendaftar yang jumlahnya melebihi target awal. Pendaftaran sendiri dilakukan secara terstruktur melalui koordinasi camat di masing-masing wilayah.
“Kita buka pendaftaran melalui Pak Camat masing-masing wilayah, bagi mereka yang berminat bisa langsung mendaftar. Dan alhamdulillah jumlah peserta yang ikut khitan massal melebihi dari target kita.,” ujar Soedjiono.

Ia menambahkan, pembagian lokasi ini dilakukan demi kemudahan akses bagi masyarakat. “Kita menyelenggarakan kegiatan khitanan massal di tiga tempat, termasuk di RSUD Caruban, RSUD Dolopo, dan juga di Joglo Sendang Artho Desa Sendangrejo, Kecamatan Madiun.” terang Soedjiono.
Melalui program ini, Pemkab Madiun berharap dapat memberikan kontribusi nyata untuk meringankan beban finansial keluarga di wilayah tersebut.
“Ya kita membantu masyarakat, harapannya generasi muda ke depan menjadi lebih sehat,” pungkasnya.
Di sisi lain, Direktur RSUD Caruban, Farid Amirudin, menekankan bahwa esensi dari program ini bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk edukasi nyata mengenai pentingnya khitan bagi kesehatan jangka panjang anak.
Menurut Farid, selain sebagai bentuk pelestarian syariat agama Islam dan penyempurnaan sunah rasul, khitan memiliki dampak besar dalam mencegah berbagai risiko penyakit berbahaya yang sering diabaikan masyarakat.
Farid menjelaskan secara medis bahwa membiarkan anak laki-laki tidak dikhitan dapat menimbulkan masalah higienitas yang serius. Kulup (preputium) tidak dibuang berisiko menjadi tempat menumpuknya kotoran, zat smegma, dan bakteri berbahaya.
“Kondisi tersebut dalam jangka panjang dapat memicu infeksi saluran kemih (ISK), inflamasi atau peradangan, hingga meningkatkan risiko penularan penyakit dan kanker penis di kemudian hari,” urai Farid.
Oleh karena itu, pihak rumah sakit mendukung penuh langkah pemkab untuk melakukan intervensi kesehatan sejak dini lewat agenda massal ini, sehingga kualitas kesehatan reproduksi anak-anak di Kabupaten Madiun dapat terjaga dengan baik.
Kegiatan khitanan massal yang berjalan dengan tertib ini menegaskan komitmen Pemkab Madiun beserta seluruh jajaran organisasi kesehatan terkait untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui program sosial yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga. (rbr/but)






