Ringkasan Berita
* Industri perbankan Jawa Timur menunjukkan kinerja positif hingga April 2026 dengan pertumbuhan kredit sebesar 2,87% YoY menjadi Rp 628,02 triliun dan DPK sebesar 5,78% YoY menjadi Rp 840,77 triliun, didorong oleh sektor rumah tangga dan modal kerja, meskipun terdapat tantangan pada rasio NPL UMKM yang mencapai 5,45%.
————————————————————-
Surabaya (beritajatim.com) – Kinerja industri perbankan di Jawa Timur menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan yang stabil hingga April 2026. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyaluran kredit perbankan di wilayah ini tercatat mencapai Rp 628,02 triliun, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 2,87% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Provinsi Jawa Timur, Horas VM Tarihoran, dalam acara media briefing di Surabaya, Senin (22/6/2026), mengungkapkan bahwa penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan sebesar 5,78% YoY menjadi Rp 840,77 triliun.
Selain itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan yang berkantor pusat di Jawa Timur tercatat menguat ke level 32,92%, dengan rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross yang tetap terkendali di angka 3,72%.
Horas menambahkan bahwa kondisi likuiditas perbankan umum di Jawa Timur saat ini berada pada posisi yang sangat longgar. Indikator Asset Liability terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mencapai 29,13%, sementara rasio Asset Liability terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) berada di posisi 135,70%, yang menunjukkan angka tersebut jauh berada di atas ambang batas atau threshold minimum yang ditetapkan.
Dalam struktur kredit berdasarkan jenis penggunaan, segmen modal kerja mendominasi dengan porsi mencapai 50,11% atau senilai Rp 314,67 triliun. Posisi tersebut diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 31,67% atau Rp 198,90 triliun, serta kredit investasi sebesar 18,22% atau Rp 114,45 triliun.
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan sektor ekonomi, sektor rumah tangga menjadi penyumbang kredit terbesar dengan nilai Rp 191,80 triliun atau 30,54% dari total kredit, disusul perdagangan besar dan eceran sebesar Rp 156,90 triliun atau 24,98%, dan industri pengolahan sebesar Rp 121,21 triliun atau 19,30%.
Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga mencatatkan angka outstanding kredit sebesar Rp 230,93 triliun, atau 36,77% dari total kredit. Namun, OJK memberikan catatan bahwa NPL UMKM kini berada di level 5,45%, melampaui ambang batas yang ditetapkan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pelaku usaha untuk melakukan penguatan ekosistem dan edukasi agar pembiayaan dapat dimanfaatkan dengan lebih sehat.
Di sisi lain, khusus untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR), Jawa Timur memiliki outstanding Rp 67,76 triliun dengan NPL yang lebih terkendali di angka 2,12%. Capaian tersebut menempatkan Jawa Timur di peringkat kedua nasional dengan cakupan 31,45% dari total KUR di Pulau Jawa.
Pertumbuhan positif juga merambah sektor pasar modal di Jawa Timur. Per Maret 2026, jumlah nasabah institusi reksadana mengalami lonjakan sebesar 84,83% YoY, sementara investor ritel perorangan tumbuh 44,74% YoY menjadi 188.312 investor. Nilai penjualan reksadana bulanan di Jawa Timur tercatat meningkat drastis sebesar 177,82% YoY menjadi Rp 53,64 miliar.
“Tren ini mengukuhkan posisi Jawa Timur di peringkat ketiga nasional untuk kepemilikan Single Investor Identification (SID) terbanyak, dengan laju pertumbuhan mencapai 60,47% YoY per April 2026,” tandas Horas.[rea]







