Ringkasan Berita
* Ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 tumbuh kuat sebesar 5,79% (yoy), melampaui capaian nasional dan global, berkat kuatnya konsumsi rumah tangga dan investasi.
* Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas inflasi dalam rentang sasaran 1 persen hingga 2,5 persen serta terus mendorong hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi dan kakao untuk memperkuat ekonomi daerah di tengah gejolak global.
————————————————————————–
Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, ekonomi Jawa Timur mencatatkan kinerja impresif dengan pertumbuhan sebesar 5,79% (yoy) pada triwulan I 2026. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,61% (yoy) dan jauh di atas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksi hanya mencapai 3% pada tahun 2026.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menegaskan bahwa fondasi ekonomi domestik yang kuat menjadi kunci daya tahan daerah dalam menghadapi dinamika eksternal.
“Ekonomi suatu negara atau daerah akan mempunyai daya tahan lebih kuat ketika dukungan ekonominya bertumpu pada ekonomi domestik, yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi. Jawa Timur memiliki keduanya,” ujar Ibrahim dalam paparannya di Surabaya, Senin (22/6/2026).
Berdasarkan data BI, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi signifikan terhadap struktur ekonomi Jawa Timur, yakni mencapai 61,19%, disusul oleh investasi sebesar 26,86%. Momentum festive season serta realisasi berbagai program pemerintah turut mendorong akselerasi ekonomi di awal tahun 2026.
Selain pertumbuhan yang solid, stabilitas harga juga tetap terjaga. Pada Mei 2026, Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 3,49% (yoy), yang masih berada dalam rentang sasaran nasional 1 persen hingga 2,5 persen. Sinergi erat antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan pemerintah di berbagai tingkatan dinilai efektif menjaga daya beli masyarakat.
BI juga terus memperkuat kebijakan stabilisasi, termasuk melalui kenaikan suku bunga BI-Rate menjadi 5,75% per Juni 2026 untuk mengantisipasi gejolak eksternal dan menjaga nilai tukar Rupiah.
Untuk terus memacu ekonomi berkelanjutan, BI Jawa Timur fokus mengembangkan sektor prioritas, salah satunya melalui komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, dan teh.
“Jawa Timur memiliki keunggulan strategis sebagai produsen utama kopi dan kakao di Pulau Jawa. Kami akan terus mendorong hilirisasi produk olahan bernilai tinggi untuk memperkuat ekspor,” jelas Ibrahim.
Sebagai langkah konkret, BI akan menyelenggarakan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) ke-5 pada 17-19 Juli 2026 di Alun-Alun Surabaya. Ajang ini bertujuan meningkatkan daya saing, membuka akses pasar ekspor, serta mendorong kolaborasi antara pelaku usaha, UMKM, dan perbankan.[rea]






