Magetan (beritajatim.com) – Peringatan Bulan Bung Karno di Kabupaten Magetan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan sosial dan pelestarian lingkungan. Sejumlah kader PDI Perjuangan di berbagai kecamatan juga menggelar aksi perawatan punden, makam tokoh leluhur, dan situs bersejarah desa sebagai upaya menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas masyarakat setempat.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan di Kecamatan Karangrejo, Maospati, Lembeyan, Parang, dan Magetan. Bentuk kegiatannya meliputi kerja bakti membersihkan kawasan situs, pengecatan fasilitas pendukung, hingga penataan lingkungan di sekitar lokasi yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah dan kehidupan sosial masyarakat desa.
Di Kecamatan Karangrejo, kader bersama warga melaksanakan kerja bakti dan pengecatan di Punden Desa Gebyok. Sementara itu, PAC Maospati melakukan pembersihan lingkungan serta pengecatan pagar di Punden Desa Klagen Gambiran. Kegiatan serupa juga dilakukan PAC Lembeyan dengan membersihkan tiga punden yang berada di Desa Nguri.
Adapun di Kecamatan Parang, aksi gotong royong dipusatkan di kawasan Punden Krapyak atau makam Joko Mustakim yang berada di Desa Sayutan. Sedangkan PAC Magetan menggelar kerja bakti sosial di kawasan Makam Eyang Yosonegoro, Kelurahan Tambran.
Kegiatan ini menjadi bagian dari Gerakan Merawat Pertiwi yang digelar PDI Perjuangan selama Bulan Bung Karno. Selain menjaga kebersihan dan kelestarian situs, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga jejak sejarah desa di tengah arus modernisasi yang semakin kuat.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kabupaten Magetan, Nanang Sapto Aji, menegaskan bahwa keberadaan punden dan situs leluhur memiliki nilai yang lebih luas dibanding sekadar fungsi spiritual.
“Setiap desa memiliki cerita, tokoh, dan jejak sejarahnya sendiri. Punden-punden itu adalah pengingat perjalanan panjang masyarakat desa. Kalau tidak dirawat, kita bisa kehilangan hubungan dengan akar budaya kita sendiri,” ujarnya, Minggu (21/6/2026)
Menurut Nanang, pembangunan daerah tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur fisik seperti jalan dan gedung. Upaya menjaga warisan budaya serta merawat memori kolektif masyarakat juga merupakan bagian penting dalam membangun peradaban yang berkelanjutan.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena itu kegiatan ini bukan semata membersihkan lokasi, tetapi juga bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah membangun dan menjaga kampung halaman kita,” katanya.
Ia menambahkan, semangat tersebut sejalan dengan ajaran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang selalu menempatkan sejarah sebagai fondasi penting kehidupan berbangsa. Pesan Jas Merah atau Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah, menurutnya, masih relevan untuk diterapkan dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Merawat punden dan situs leluhur bukan berarti hidup di masa lalu. Justru dengan memahami akar sejarah dan budaya, kita memiliki pijakan yang kuat untuk melangkah ke masa depan,” tambah Nanang.
Keberadaan punden, makam tokoh lokal, dan situs bersejarah di desa-desa Magetan selama ini tidak hanya berfungsi sebagai penanda perjalanan sejarah suatu wilayah, tetapi juga menjadi penghubung antar-generasi. Melalui situs-situs tersebut, nilai gotong royong, kearifan lokal, dan cerita perjuangan para pendahulu dapat terus diwariskan kepada generasi muda.
Di tengah perkembangan zaman dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, upaya pelestarian situs budaya dinilai semakin penting agar identitas desa tidak terkikis. Kegiatan yang melibatkan kader partai dan masyarakat setempat ini sekaligus menjadi sarana memperkuat kebersamaan warga dalam menjaga aset budaya yang dimiliki.
Melalui Gerakan Merawat Pertiwi, PDI Perjuangan Magetan berharap semangat gotong royong dan kepedulian terhadap warisan budaya dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Ke depan, perawatan situs-situs leluhur dan kawasan bersejarah desa diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial Bulan Bung Karno, tetapi juga menjadi gerakan berkelanjutan untuk menjaga identitas budaya serta memperkuat ikatan sejarah antar-generasi di Kabupaten Magetan. [fiq/aje]






