Ringkasan Berita
- Peserta Munas-Konbes NU akan berziarah ke makam para muasis NU.
- Ziarah dilakukan di Jombang dan dilanjutkan ke Bangkalan.
- Penutupan Munas-Konbes dijadwalkan berlangsung 23 Juni 2026.
- PBNU berharap Presiden Prabowo menghadiri prosesi penutupan.
Kediri (beritajatim.com) – Peserta Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 akan melanjutkan rangkaian kegiatan dengan berziarah ke makam para muasis NU di Jombang dan Bangkalan, Madura, pada Senin (22/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari napak tilas sejarah organisasi setelah seluruh sidang komisi di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, rampung.
Sehari berikutnya, Selasa (23/6/2026), rombongan dijadwalkan mengikuti prosesi penutupan Munas dan Konbes NU 2026 di Bangkalan yang diharapkan dihadiri Presiden RI Prabowo Subianto.
Ziarah ke Tiga Makam Muasis NU
Ketua Organizing Committee (OC) Munas dan Konbes NU 2026 yang juga Sekretaris Jenderal PBNU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengatakan peserta akan terlebih dahulu menuju Kabupaten Jombang.
Di daerah tersebut terdapat tiga makam tokoh pendiri Nahdlatul Ulama yang menjadi tujuan utama ziarah.
“Pulang dari sini besok, akan ziarah ke muasis di Jombang. Kalau waktunya memungkinkan ke tiga titik, kalau tidak mungkin salah satu, mungkin ke Tebuireng,” ujar Gus Ipul di Teras Gubuk Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Minggu (21/6/2026).
Tiga lokasi yang dimaksud ialah makam Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, KH Wahab Chasbullah di Tambakberas, dan KH Bisri Syansuri di Denanyar.
Dilanjutkan ke Makam Syaikhona Kholil
Usai dari Jombang, rombongan akan melanjutkan perjalanan menuju Bangkalan, Madura.
Di sana, peserta akan berziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah berdirinya Nahdlatul Ulama.
“Setelah itu nanti, diakhiri dengan ziarah di makam Syaikhona Kholil Bangkalan sebagai bagian dari rangkaian Munas dan Konbes,” kata Gus Ipul.
Rangkaian ziarah tersebut menjadi bagian dari upaya PBNU mengajak peserta menelusuri kembali jejak sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama sekaligus memperkuat ikatan spiritual dengan para muasis organisasi.
Persiapan Penutupan Terus Dimatangkan
Di saat bersamaan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus mematangkan persiapan penutupan Munas dan Konbes NU yang akan digelar di Bangkalan pada 23 Juni 2026.
Gus Ipul mengatakan koordinasi terus dilakukan bersama panitia daerah, pemerintah daerah, hingga pihak Istana.
“Kalau memungkinkan, (sore ini) mau ke sana untuk koordinasi dengan panitia daerah dan pemerintah daerah terkait persiapan penutupan Konbes. Mudah-mudahan waktunya cocok akan dihadiri oleh Bapak Presiden,” ujarnya.
Harapkan Seluruh Peserta Hadir
PBNU berharap seluruh peserta Munas dan Konbes NU dapat mengikuti prosesi penutupan di Bangkalan.
Peserta tersebut meliputi pengurus wilayah Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia serta para pengasuh pondok pesantren.
“Yang penting, kita harapkan semua peserta yang dari sini bisa mengikuti penutupan itu. Pengurus wilayah seluruh Indonesia bersama ulama-ulama pengasuh pesantren untuk bisa bersama-sama mengikuti prosesi penutupan tersebut,” katanya.
Penutupan Munas dan Konbes NU dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 23 Juni 2026, mulai pukul 14.00 WIB.
Pembahasan Komisi Masih Dinamis
Sementara itu, Gus Ipul menyampaikan pembahasan di tingkat komisi hingga kini masih berlangsung secara dinamis.
Menurutnya, sejumlah materi membutuhkan diskusi lebih panjang karena melibatkan berbagai pandangan dari peserta.
“Saya tentu bergembira sampai sekarang proses pembahasan berbagai komisi terus berjalan. Tentu nanti ada yang mungkin memerlukan waktu untuk dialog lebih lama atau mungkin juga ada hal-hal yang belum bisa disepakati, tentu akan diteruskan ke muktamar,” jelasnya.
Meski demikian, PBNU berharap sebanyak mungkin materi dapat disepakati dalam forum Munas dan Konbes sehingga dapat langsung menjadi bahan yang dibawa ke Muktamar NU mendatang.
“Kalau semuanya bisa disepakati di sini, akan lebih bagus dan ditetapkan sebagai materi muktamar,” tutup Gus Ipul. [nm/but]






