Ponorogo (beritajatim.com) – Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), KH Hasan Abdullah Sahal, mengisahkan perjalanan panjang Gontor yang bertransformasi.
Yakni transformasi dari kawasan yang dikenal dengan citra negatif menjadi pusat lahirnya pendidikan pesantren modern di Indonesia. Menurutnya, perubahan itu menjadi bukti bahwa pendidikan mampu mengubah peradaban dan memberi manfaat luas bagi masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan KH Hasan Abdullah Sahal dalam Sarasehan Nasional Kiai Pesantren Ashriyah, Muballigh Alumni Gontor, dan Forbis National Economic Summit and Expo 2026. Di mana kegiatan itu, menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.
“Dulu Gontor itu dikenal sebagai tempat syirik, kemaksiatan, dan berbagai perilaku yang tidak baik. Alhamdulillah sejak 1926 sampai sekarang Gontor berubah menjadi inspirator,” ungkapnya, Sabtu (20/6/2026).
Menurut Kiai Hasan, Gontor tidak hanya menjadi pelopor lahirnya pondok pesantren modern. Lebih dari itu, Gontor terus berupaya menghadirkan sistem pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Inilah Gontor. Sekarang menjadi inisiator berdirinya pondok modern dan menginspirasi banyak pondok pesantren untuk terus berkembang,” katanya.
Dia menjelaskan, sejak awal berdiri, Gontor telah menerapkan pendidikan yang menyentuh seluruh aspek kehidupan santri. Proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga dibangun melalui kegiatan seni, olahraga, kepanduan, disiplin, hingga pembinaan karakter.
“Pondok ini sejak awal berdiri dibangun dengan tonil, olahraga, kesenian, baris-berbaris, dan berbagai kegiatan pembentukan karakter. Semua itu menjadi bagian dari pendidikan,” ungkapnya.
Hasan Abdullah Sahal juga mengajak pesantren modern di Indonesia memperkuat persatuan. Menurutnya, kebersamaan antarpesantren akan memperbesar manfaat yang dapat diberikan kepada umat dan bangsa.
“Perbuatan baik yang manfaatnya dirasakan orang lain lebih utama daripada kebaikan yang hanya untuk diri sendiri. Itu yang harus menjadi semangat pesantren,” tegasnya.
Kiai Hasan menilai, pesantren harus terus menjaga jati diri sekaligus terbuka terhadap perubahan. Prinsip menjaga nilai-nilai yang baik dan menghadirkan pembaruan menjadi bekal agar pesantren tetap mampu menjawab tantangan zaman.
“Yang kita jaga adalah nilai-nilai, kemudian melakukan perubahan menuju kesempurnaan. Itu yang menjadi jalan Gontor sampai hari ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasan Abdullah Sahal juga menegaskan bahwa peringatan seabad Gontor bukanlah perayaan namun peringatan. Momentum itu menjadi pengingat agar seluruh keluarga besar Gontor terus bersyukur dan menjaga amanah yang telah diwariskan para pendiri pesantren.
“Kita mengadakan peringatan, bukan perayaan. Peringatan agar kita tidak lupa terhadap nikmat Allah dan terus menjaga amanah yang telah diberikan,” pungkasnya.
Dalam kegiatan itu, juga dihadiri oleh Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Romo H.R. Muhammad Syafi’i dan Wakil MPR RI Hidayat Nur Wahid yang merupakan alumni Pondok Gontor. (end/ted)






