Jombang (beritajatim.com) – Tim dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) memberikan pendampingan kepada guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di TK Trisula II Jombang untuk merancang pembelajaran mendalam berbasis The SOLO Taxonomy. Program ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menyusun pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas bermain, tetapi juga mampu menstimulasi kemampuan berpikir anak secara bertahap dan bermakna.
Kegiatan bertajuk “Pendampingan Desain Pembelajaran Mendalam Berbasis The SOLO Taxonomy pada Guru PAUD” tersebut berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026, di TK Trisula II Jombang. Program ini digelar oleh tim dosen FIP UNESA yang terdiri atas Prof. Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Pd., M.Si., Dr. Mallevi Agustin Ningrum, S.Pd., M.Pd., dan Monica Widyaswari, M.Pd., dengan menggandeng Perwari sebagai mitra kegiatan.
Dalam pendampingan tersebut, para guru mendapatkan penguatan materi mengenai konsep pembelajaran mendalam (deep learning) serta penerapan The SOLO Taxonomy atau Structure of the Observed Learning Outcome. Kerangka ini digunakan untuk membantu guru memahami kualitas respons belajar anak, mulai dari tingkat pemahaman sederhana hingga kemampuan menghubungkan berbagai konsep secara lebih kompleks.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan pendidikan anak usia dini yang saat ini dituntut tidak hanya menghadirkan kegiatan bermain yang menyenangkan, tetapi juga mampu menumbuhkan keterampilan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, serta pemaknaan terhadap pengalaman belajar sehari-hari.
Selama kegiatan, guru didampingi menyusun rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Mereka diajak merumuskan tujuan pembelajaran, menyusun aktivitas belajar, merancang pertanyaan pemantik, menyiapkan asesmen, hingga melakukan refleksi yang dapat mendorong perkembangan berpikir anak secara bertahap.
Selain memperhatikan aspek kognitif, desain pembelajaran yang dikembangkan juga tetap memperhatikan perkembangan sosial-emosional, bahasa, dan motorik anak. Dengan demikian, proses belajar diharapkan tetap menyenangkan sekaligus memberikan pengalaman yang kaya makna bagi peserta didik.
Prof. Dr. Gunarti Dwi Lestari, M.Pd., M.Si. menegaskan bahwa guru PAUD memiliki peran strategis dalam membangun fondasi belajar anak sejak usia dini. Menurutnya, aktivitas bermain yang dirancang guru harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas agar mampu memberikan dampak optimal bagi perkembangan anak.
“Pembelajaran mendalam pada anak usia dini bukan berarti membebani anak dengan materi yang berat. Justru, pembelajaran mendalam hadir ketika guru mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat anak bertanya, mencoba, menghubungkan pengalaman, dan menemukan makna dari aktivitas yang dilakukan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dr. Mallevi Agustin Ningrum, S.Pd., M.Pd. menekankan pentingnya kemampuan guru dalam mengembangkan pertanyaan dan aktivitas pembelajaran yang sesuai dengan tahapan berpikir anak. Menurutnya, The SOLO Taxonomy dapat menjadi alat bantu yang efektif untuk melihat sejauh mana anak memahami pengalaman belajar yang diberikan.
Monica Widyaswari, M.Pd. menambahkan bahwa pendampingan tidak hanya berfokus pada pemahaman teori. Guru juga diarahkan untuk menghasilkan perangkat pembelajaran yang aplikatif dan dapat langsung diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui sesi pemaparan materi, diskusi, praktik penyusunan desain pembelajaran, serta pendampingan langsung. Para guru PAUD yang mengikuti kegiatan terlihat antusias dan aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan pembelajaran di kelas, terutama dalam merancang aktivitas yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir anak tanpa menghilangkan unsur bermain sebagai ciri khas pendidikan usia dini.
Program ini juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak usia dini di masyarakat. Kolaborasi antara FIP UNESA, TK Trisula II Jombang, dan Perwari diharapkan mampu memperkuat kompetensi guru dalam menghadapi tantangan pembelajaran yang semakin dinamis.
Ke depan, pendampingan serupa diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, guru PAUD tidak hanya memahami konsep pembelajaran mendalam berbasis The SOLO Taxonomy, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara konsisten dalam praktik pembelajaran sehari-hari demi mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. [fiq/beq]






