Piala Dunia 1978 digelar di Argentina yang tengah dikuasai junta militer Jenderal Jorge Videla. Rezim tersebut dianggap bertanggung jawab atas berbagai pelanggaran hak asasi manuzia, termasuk pembunuhan di luar proses hukum, penghilangan paksa lawan politik, hingga penculikan bayi dari para tahanan.
Ketika turnamen dimulai pada 1 Juni 1978, Videla menyatakan bahwa kompetisi akan berlangsung “di bawah tanda perdamaian”. Namun rezim mengeksekusi 30 orang yang dicurigai terlibat dalam aktivitas subversif, setelah kelompok perlawanan membunuh Omar Actis, ketua panitia penyelenggara lokal.
Piala Dunia akhirnya tak hanya jadi panggung bagi sepak bola, tapi juga pertarungan propaganda rezim melawan kampanye para aktivis hak asasi manusia yang menyoroti sisi gelap pemerintahan:
Kondisi politik tersebut memengaruhi dunia sepak bola. Beberapa pemain masyhur, di antaranya Paul Breitner dari Jerman Barat dan Johan Cruyff dari Belanda, memilih mengakhiri karier internasional mereka, baik karena alasan moral maupun demi menghindari risiko bermain di Argentina.
Namun demikian, daya tarik Piala Dunia tetap kuat. Sebanyak 106 negara mendaftar dalam babak kualifikasi dan beberapa tim besar gagal lolos ke putaran final. Inggris kembali absen setelah kalah bersaing dengan Italia.
Juara Eropa Cekoslowakia, Uni Soviet, dan Yugoslavia juga tersingkir. Sebaliknya, Hungaria, Prancis, dan Spanyol kembali tampil di putaran final. Beitu pula Austria dan Tunisia.
Tuan rumah Argentina yang ditangani seorang pelatih sosialis Cesar Luis Menotti mempersiapkan timnya dengan filosofi gaya bermain La Nuestra yang mengutamakan pergerakan cepat dan umpan pendek.
Timnas Argentina tidak diperkuat pemain dari Boca Juniors, Menotti juga mencoret bintang muda Diego Armando Maradona yang baru berusia 17 tahun, dan lebih memilih Oscar Ortiz untuk memperkuat timnas. Padahal Maradona sudah bermain di level profesional sejak usia 15 tahun dan melakukan debut internasional pada usia 16 tahun.
Daniel Pasarella dan kawan-kawan menghadapi Italia, Prancis, dan Hungaria di Grup 1. Setelah mengalahkan Hungaria dan Prancis masing-masing dengan skor 2-1, Argentina dikalahkan Italia 0-1. Italia lolos ke fase selanjutnya dengan didampingi Argentina.
Sementara itu Polandia dan Jerman Barat melaju dari Grup 2. Kejutan terjadi di Gruip 3 saat Austria menjadi juara grup, kendati dikalahkan Brasil 0-1 di pertandingan pamungkas. Justru Brasil yang hampir tidak lolos ke fase selanjutnya, karena sebelum menang atas Austria hanya bermain imbang 1-1 dengan Swedia dan 0-0 dengan Spanyol.
Dalam pertandingan melawan Swedia, gol sundulan Zico dianulir karena wasit Clive Thomas meniup peluit akhir sesaat sebelum bola masuk ke gawang. Keputusan itu membuat Brasil kehilangan satu poin penting yang kemudian berdampak besar pada perjalanan mereka.
Kejutan juga terjadi di Grup 4, saat Peru menjadi juara grup mengungguli Belanda dan Skotlandia. Peru mengalahkan Skotlandia 3-1 dengan Teofilo Cubillas mencetak dua gol. Setelah menahan imbang Belanda 0-0, Peru mengalahkan Iran 4-1.
Kekalahan dari Peru dan hasil imbang 1-1 melawan Iran membuat sesumbar pelatih Skotlandia Ally McLeod untuk menjadi juara dunia tak ubahnya tong kosong yang berbunyi nyaring. Kesialan justru menimpa Skotlandia setelah pemain sayap Willie Johnston dikeluarkan dari turnamen karena terbukti menggunakan zat terlarang yang terkandung dalam obat alerginya.
Pada laga terakhir grup, Skotlandia harus mengalahkan Belanda dengan selisih tiga gol untuk lolos. Mereka hampir mewujudkan keajaiban. Archie Gemmill mencetak salah satu gol terbaik turnamen setelah menggiring bola melewati beberapa pemain Belanda sebelum menaklukkan Jan Jongbloed.
Skotlandia sempat unggul 3-1, tetapi gol Johnny Rep membuat skor menjadi 3-2 dan mengakhiri harapan mereka untuk melaju ke babak berikutnya.Belanda yang akhirnya lolos mendampingi Peru.
Fase kedua membagi delapan tim yang lolos perempat final menjadi dua grup. Grup A mempertemukan Italia, Belanda, Austria, dan Jerman Barat. Belanda tampil luar biasa dengan menghancurkan Austria 5-1. Sementara Italia dan Jerman Barat bermain imbang tanpa gol.
Tiket final ditentukan oleh duel langsung antara Belanda dan Italia. Setelah kedua tim saling mencetak gol, Arie Haan melepaskan tendangan spektakuler dari jarak sekitar 40 yard yang memastikan kemenangan Belanda, dan membawa mereka ke final kedua secara beruntun.
Di Grup B, persaingan berlangsung antara Argentina, Brasil, Polandia, dan Peru. Brasil menunjukkan peningkatan performa dengan mengalahkan Peru 3-0. Argentina juga memulai dengan kemenangan 2-0 atas Polandia berkat dua gol Mario Kempes.
Setelah itu, Argentina dan Brasil bermain imbang tanpa gol sehingga penentuan finalis harus menunggu pertandingan terakhir.
Kemenangan Brasil 3-1 atas Polandia membuat mereka mengumpulkan lima poin dengan selisih gol +5. Argentina yang bermain beberapa jam kemudian mengetahui bahwa mereka harus mengalahkan Peru dengan selisih minimal empat gol untuk lolos ke final. Argentina tidak hanya menang, tetapi menghancurkan Peru 6-0.
Hasil tersebut segera memunculkan berbagai teori konspirasi, karena Peru dianggap bermain tanpa perlawanan berarti. Kecurigaan semakin besar karena pertandingan terakhir di grup lain dimainkan secara bersamaan untuk menghindari keuntungan bagi salah satu tim.
Bertahun-tahun kemudian, tuduhan mengenai adanya kesepakatan politik di balik hasil tersebut terus muncul. Namun demikian, hasil itu tetap sah dan Argentina berhak melaju ke final, sementara Brasil tersingkir.
Final berlangsung di Stadion Monumental, Buenos Aires, mempertemukan runner-up Piala Dunia 1974 Belanda dengan Argentina. Sebelum pertandingan dimulai, lapangan dipenuhi pita dan kertas yang dilemparkan penonton.
Ketegangan meningkat ketika kubu Argentina memprotes pelindung lengan yang dikenakan pemain Belanda, Rene van de Kerkhof. Setelah perdebatan panjang, Van de Kerkhof diminta menambah lapisan pelindung pada perban yang dipakainya.
Dalam suasana yang sangat emosional, Argentina tampil lebih baik di awal pertandingan. Mario Kempes mencetak gol pembuka pada menit ke-38.
Belanda bangkit pada babak kedua dan menyamakan kedudukan melalui sundulan Dick Nanninga delapan menit sebelum waktu normal berakhir.
Menjelang peluit akhir, Rob Rensenbrink hampir membawa Belanda menjadi juara, tetapi tendangannya membentur tiang gawang.
Pertandingan berlanjut ke babak tambahan. Kempes kembali menjadi pahlawan ketika mencetak gol kedua Argentina setelah memanfaatkan bola muntah hasil penyelamatan kiper Belanda Jan Jongbloed.
Lima menit sebelum pertandingan usai, Daniel Bertoni menambah gol ketiga dan memastikan kemenangan 3-1 bagi tuan rumah.
Menotti berhasil membawa Argentina juata dengan pola sepak bola yang lebih menyerang dan atraktif. Mario Kempes tidak hanya mengantar Argentina meraih gelar dunia pertama mereka, namun juga menjadi pemain terbaik sekaligus pencetak gol terbanyak dengan enam gol.
Sementara Belanda kembali meratapi kegagalan menjadi juara dunia untuk kali kedua. Total Football akhirnya menjadi total failure. [wir/but]






