Bagaimana perasaanmu melihat Curaçao tampil di Piala Dunia 2026, padahal dulu pernah dikalahkan tim nasional Indonesia dalam FIFA Matchday?
Saya mengirimkan pertanyaan ini via WhatsApp kepada Angga Juli Setiawan, seorang penggemar AC Milan dan Sekretaris Yayasan Persid Jember Baru Jember Maju yang menaungi klub sepak bola Liga 4 Persid di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026).
Respons pertamanya singkat: melontarkan umpatan penuh kedongkolan yang sebaiknya tidak ditulis di sini demi menjaga sopan santun. “Buat apa tim itu lolos ikut serta segala. Tim tidak jelas itu. Coba satu zona dengan Indonesia, bakal tidak lolos mereka,” katanya.
Kukuh Ismoyo, anggota Bonek Writers Forum, sebuah komunitas penulis sepak bola di kalangan Bonek, mengungkapkan kekecewaan yang kurang lebih sama.
“Kecewa. karena seharusnya kita bisa seperti Curaçaom negara yang tidak diperhitungkan tapi justru bisa lolos ke Piala Dunia,” kata lelaki yang akrab disapa Beted itu.
Kukuh menyebut PSSI biang kegagalan Indonesia lolos ke Piala Dunia. Keputusan Ketua Umum PSSI Erick Thohir memecat pelatih timnas Shin Tae-Yong di tengah kualifikasi Piala Dunia Zona Asia disebutnya terlalu aneh.
Imajinasi terliar penggemar sepak bola Indonesia seperti Angga dan Kukuh tidak pernah membayangkan Curaçao bakal lolos kualifikasi Piala Dunia Zona Concacaf yang meliputi Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia.
Dalam dua pertandingan FIFA Matchday di Bandung dan Bogor pada 2022, tim nasional Indonesia berhasil mengalahkan Gelombang Biru, julukan timnas Curaçao, masing-masing dengan skor 3-2 dan 2-1. Peringkat FIFA Curaçao yang lebih baik daripada Indonesia saat itu tidak merefleksikan angka di papan skor.
Maka tak heran jika kekesalan bercampur kecemburuan muncul saat melihat Curaçao terbang ke Amerika Serikat untuk menghadapi Jerman, Pantai Gading, dan Ekuador di Grup E. Lebih kesal lagi saat membaca reportase Emilien Hofman dari Majalah Four Four Two yang menyebutkan Indonesia sebagai pembanding keberhasilan Curaçao.
‘Curaçao telah mencetak sejarah. Italia tidak akan berada di turnamen tersebut. Begitu pula tujuh dari 10 negara terpadat di planet ini. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain—India, Nigeria, Cina, Indonesia, Bangladesh, Pakistan, dan Rusia—jumlah penduduknya hampir mencapai empat miliar orang. Curaçao, sebaliknya, hanya memiliki 155.000 penduduk.’
Hofman menambahkan: ‘Dalam hampir satu abad keberadaan Piala Dunia, hanya sedikit kisah yang lebih luar biasa daripada ini.’
Tentu saja luar biasa. Sebelum menjadi negara berdaulat, Curaçao adalah pulau tempat persinggahan pelaut Spanyol dan Portugis yang sakit. Konon, pelaut Portugis menamainya Ilha da Curacao, atau ‘pulau penyembuhan’.
Perusahaan Hindia Barat Belanda menjadikan pulau ini sebagai pusat perdagangan budak Atlantik setelah Belanda merebutnya dari Spanyol pada 1634. Setengah juta budak dikirim ke sini hingga pertengahan abad ke-18. Mereka ditahan di Curaçao untuk memulihkan diri setelah menempuh perjalanan laut panjang dari Afrika Barat, untuk kemudian dipindahkan ke seluruh Karibia, Brasil, atau perkebunan di Amerika Selatan.
Setelah Perang Dunia Kedua, Curaçao menjadi bagian dari Antillen Belanda (Nederlandse Antillen),sebuah federasi yang terdiri dari setengah lusin pulau, termasuk Aruba dan Bonaire, yang berstatus sebagai negara konstituen dalam Kerajaan Belanda.
Eratnya hubungan dengan Belanda membuat banyak warga Curaçao yang bermigrasi ke sana pada akhir 1990-an. Kini kurang lebih 150 ribu orang keturunan Curaçao tinggal di Belanda, yang di antaranya menjadi pemain sepak bola profesional. Kelak sebagian dari mereka akan menjadi tulang punggung timnas Curaçao.
Hari ini Curaçao lebih dikenal sebagai pusat pariwisata yang dikunjungi sekitar setengah juta orang setiap tahun. Bahkan jumlah turis yang datang lebih banyak daripada jumlah penduduk lokal. Departemen Luar Negeri AS percaya bahwa Curaçao adalah pusat perdagangan seks juga.
Sepak bola di Curaçao harus bersaing dengan bisbol yang secara per kapita merupakan pengekspor pemain Major League Baseball terbesar di dunia. Bisbol mengembangkan struktur yang sangat kuat, dan menarik semua pemain berbakat di Curaçao.
Syahdan pada zaman dahulu kala, lapangan sepak bola di barat laut pulau dipenuhi pohon mangga dan pisang. Permukaan lapangan yang terbuat dari pasir dan kerikil membuat para pemain sepak bola amatir harus mengeluarkan batu-batu kecil yang tertanam di kaki setelah pertandingan.
Sepak bola mulai dibangun setelah Antillen Belanda dibubarkan pada 10 Oktober 2010, dan Kerajaan Belanda memberikan otonomi kepada Curaçao. Federasi Sepak bola Curaçao atau Federashon Futbòl Kòrsou (FFK) berdiri dan bergabung dengan FIFA pada 2011.
Infrastruktur pun mulai diperhatikan. Pemerintah menghabiskan £1,7 juta untuk mengganti pasir dengan rumput sintetis agar anak-anak muda bisa bermain dan berlatih dengan aman. Kendati ada cerita pahit tentang pencurian lapisan pertama lapangan untuk menambal kebun pribadi.
Curaçao mengikuti kualifikasi Piala Dunia pertama kali pada 2014. Namun mereka gagal, karena hanya menempati peringkat ketiga klasemen akhir Grup F Zona Concacaf di bawah Antigua-Barbuda dan Haiti.
Setahun kemudian Patrick Kluivert, mantan striker Belanda dan Ajax yang dilahirkan oleh perempuan dari Curaçao, datang dan melatih tim nasional pada Maret 2015-Mei2016. Dia dibantu Remko Bicentini sebagai asisten yang mengambil alih kursi pelatih selama empat tahun pada 2016-2020.
Di tengah masa kepelatihannya yang singkat, Kluivert berhasil meyakinkan pemain-pemain diaspora generasi kedua yang lahir dii Belanda seperti Leandro Bacuna, Juninho Bacuna, dan kiper Eloy Room untuk bergabung. Sebelumnya Cuco Martina, bek masa depan Southampton dan Everton, sudah memperkuat Gelombang Biru pada 2011.
Satu demi satu pemain diaspora dari Belanda datang untuk memperkuat timnas Curaçao. FFK juga mengontrak pelatih asal Belanda. Guus Hiddink sempat memimpin dua pertandingan pertama kualifikasi Piala Dunia 2022 sebelum tertular Covid dan digantikan kembali oleh Kluivert pada Juni 2021.
Sebenarnya Curaçao tampil sebagai juara grup Grup C dengan mengumpulkan 10 poin dari empat pertandingan kualifikasi. Lolos ke babak selanjutnya, mereka menghadapi juara Grup D Panama. Namun mereka tersingkir dengan agregat 0-2 dalam dua pertandingan kandnag dan tandang.
Masa jabatan pelatih timnas Curaçao selanjutnya relatif singkat, hanya dalam hitungan bulan. Art Langeler, Remko Bicentini, dan Dean Gorré datang dan pergi.
Federasi sepak bola Curaçao sempat dilanda krisis keruangan karena buruknya tata kelola. Mereka menunggak utang gaji kepada pemain sejak 2023. Ini membuat pemain-pemain bintang seperti Leandro Bacuna, Vuman Anita, dan Jurgen Locadia sempat mengundurkan diri.
FFK menghabiskan banyak uang untuk kepentingan tim nasional dan meningkatkan fasilitas. Mereka juga membayar biaya perjalanan pemain yang akan direkrut dari Belanda. Besarnya perhatian terhadap timnas ini tak lepas dari kesadaran bahwa timnas memiliki kekuatan pendorong besar untuk perkembangan federasi.
Di tengah krisis itu, Dick Advocaat datang dan melatih pada Januari 2024. Usia Advocaat pada saat itu memasuki 76 tahun. Kehadirannya menarik sponsor baru dan memberi pemain kepercayaan diri serta tekad untuk menghindari kekalahan dengan segala cara.
Advocaat adalah motivator yang luar biasa dan ahli taktik yang cerdas. Bersamanya, Curaçao mewujudkan mimpi bermain di Piala Dunia. 2026. Gelombang Biru menahan imbang tuan rumah Jamaika 0-0 pada pertandingan terakhir, 18 November 2025, dan mengunci posisi puncak klasemen Grup B dengan 12 poin.
Mereka menjadi negara terkecil yang pernah lolos ke Piala Dunia, melampaui rekor yang dibuat pada Islandia pada Piala Dunia 2018. Menurut Henry Caldera, pelatih Curacao U-17, keberhasilan ini bagus bagi kehidupan sosial ekonomi mereka.
Februari 2026, Advocaat mengundurkan diri karena putrinya menjalani kemoterapi. Dia menyodorkan nama Fred Rutten, mantan pelatih PSV Eindhoven dan Feyenoord, untuk menggantikannya kepada FFK.
Rutten menyambut gembira kesempatan itu dan berkomitmen untuk melanjutkan apa yang sudah dirintis Advocaat tanpa banyak perubahan. Lagipula dia tak pinya cukup waktu untuk melakukan perubahan signifikan.
Namun badai menghantam Rutten. Sejumlah pemain dan sponsor menginginkan kembalinya Advocaat ke kursi pelatih timnas. Tak ingin ada perpecahan di tubuh tim, Rutten memilih mengundurkan diri.
Sebulan menjelang pembukaan Piala Dunia pada 11 Juni 2026, FFK mengumumkan kembalinya Advocaat ke kursi kepelatihan. Dengan usia 78 tahun, dia menyandang gelar pelatih tertua dalam sejarah Piala Dunia.
***
Bagaimana prospek tim ini dalam Piala Dunia 2026? Ibarat pelukis, Guus Hiddink, Patrick Kluivert, Fred Rutten, dan Dick Advocaat telah menyapukan warna kental sepak bola Belanda ke atas kanvas teknis dan taktis sepak bola Curaçao.
Advocaat bahkan dinilai telah bekerja keras untuk mengembangkan Total Football dengan cita rasa Karibia. Total Football adalah filosofi sepak bola Belanda yang pertama kali diperkenalkan oleh Rinus Michels dan Joham Cruyff dalam Piala Dunia 1974.
Mayoritas pemain Gelombang Biru adalah warga negara diaspora yang lahir dan tinggal di Belanda. Hanya mantan pemain Manchester United Tahith Chong yang lahir di Curaçao.
Namun kendati demikian, Carl Ruiter, seorang jurnalis sepak bola, menyebut para pemain memiliki akar yang kuat di Curaçao. “Mereka adalah anak-anak Curacao,” katanya. Dia yakin para pemain memiliki cukup militansi untuk berjuang hingga akhir.
Dari aspek taktik, Curaçao menggunakan formasi 5-4-1 dengan memasang false nine atau penyerang palsu. Mereka memiliki kemampuan bertahan yang baik dan memanfaatkan peluang. Pertahanan mereka solid dan sulit ditembus.
Mereka mudah beradaptasi dengan kekuatan dan kelemahan lawan dihadapi. Di bawah Advocaat, transisi permainan Gelombang Biru akan membahayakan lawan. Kenji Gorre, Jearl Margaritha, dan Sontje Hansen memiliki kecepatan untuk melakukan serangan balik sembari berharap lawan melakukan kesalahan. Dalam sepak bola level internasional seperti Piala Dunia, kesalahan kecil bisa menjadi pembeda.
Selain itu Curaçao beruntung punya lulusan akademi Ajax dan mantan pemain internasional Belanda, Riechedly Bazoer yang serbaguna di posisi bek tengah maupun lini tengah.
Sementara itu kakak beradik Leandro dan Juninho Bacuna akan memimpin tim ini. Leandro adalah mantan bintang Aston Villa berusia 34 tahun yang menjadi figur kunci tim.
Problem terbesar Curaçao adalah lawan-lawan mereka di Grup E memiliki pengalaman di Piala Dunia. Menahan Jerman pada pertandingan pertama akan menjadi kunci penting untuk menyuntikkan motivasi saat menghadapi Ekuador dan Pantai Gading.
Tidak ada yang memperhitungkan Curaçao. Martin Langer dari Four Four Two memperkirakan mereka akan bertanding dengan gagah berani, namun kalah dalam semua pertandingan Grup E dengan selisih skor yang besar.
Asisten pelatih Dean Gorre mengatakan, timnya tidak sekadar ikut serta. “Kami akan mempersiapkan diri dengan baik, toh kami tidak akan rugi apa pun. Itu akan menjadi keuntungan kami,” katanya.
Fred Rutten mengingatkan kisah Leicester City yang menjuarai Liga Primer. “Anda tahu sesuatu mungkin terjadi dan di Piala Dunia selalu ada kejutan. Mengapa tidak tahun ini untuk kami?” [wir/but]






