Ringkasan Berita:
- Sebanyak 2.500 ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bondowoso dicuci dan disterilkan setiap hari.
- Proses pembersihan dilakukan melalui beberapa tahapan, termasuk pembilasan air panas dan oven pengering.
- SPPG Bondowoso Badean 2 menerapkan SOP ketat untuk menjaga kebersihan perlengkapan makan.
- Ompreng yang tidak memenuhi standar kebersihan langsung dicuci ulang dan tidak digunakan.
Bondowoso (beritajatim.com) – Ribuan ompreng atau wadah makan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Bondowoso Badean 2 menjalani proses sterilisasi ketat setiap hari guna memastikan perlengkapan makan tetap higienis dan aman digunakan para siswa penerima manfaat.
Dalam sehari, sekitar 2.500 ompreng dicuci melalui beberapa tahapan mulai dari perendaman, pencucian, pembilasan hingga sterilisasi menggunakan air panas dan oven pengering.
Kepala SPPG Bondowoso Badean 2, Yulia Linda Lestari, mengatakan kebersihan ompreng menjadi perhatian serius karena berhubungan langsung dengan kesehatan penerima manfaat program MBG.
“Kalau makanannya sudah higienis tetapi omprengnya tidak higienis, tentu akan percuma. Karena itu kami benar-benar menjaga kebersihan ompreng sesuai SOP yang ada,” kata Yulia, Senin (8/6/2026).
Ia menjelaskan, proses pencucian diawali dengan pemisahan sisa makanan berdasarkan jenisnya, mulai dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur hingga buah.
Setelah itu, ompreng direndam menggunakan air sabun untuk menghilangkan noda yang menempel sebelum dicuci kembali menggunakan sabun pembersih.
Usai dicuci, ompreng menjalani empat tahap pembilasan menggunakan air bersuhu normal. Pada tahap terakhir, petugas menggunakan air panas yang dihasilkan dari water heater untuk membantu membunuh kuman dan bakteri.
“Pembilasan kelima menggunakan air panas supaya steril, lalu ompreng masuk oven pengering sebelum disimpan di ruang ompreng,” ujarnya.
Menurut Yulia, pengawasan terhadap proses pencucian dilakukan secara ketat. Di ruang pencucian dipasang kamera pengawas atau CCTV yang aktif selama 24 jam dan dipantau oleh petugas yang bertugas.
Selain itu, tim pencuci ompreng juga telah mendapatkan pelatihan mengenai standar pencucian sesuai prosedur operasional serta risiko yang dapat muncul apabila proses sterilisasi tidak dilakukan sesuai ketentuan.
“Tantangan terbesar itu ukuran alat masak yang besar dan bentuk ompreng yang banyak sekat, sehingga harus benar-benar teliti saat membersihkan,” jelasnya.
Apabila ditemukan ompreng yang kurang bersih atau tidak steril, petugas akan langsung melakukan pencucian ulang dan ompreng tersebut tidak digunakan untuk proses pemorsian makanan.
Yulia menegaskan, kebersihan perlengkapan makan menjadi salah satu syarat penting karena ompreng MBG juga menjalani uji usap alat dari puskesmas sebagai bagian dari proses memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Kalau ditemukan bakteri tentu bisa memengaruhi standar higiene sanitasi. Karena itu evaluasi kebersihan rutin kami lakukan setiap hari,” tegasnya.
Ia memastikan seluruh aktivitas di SPPG telah memiliki standar operasional prosedur yang wajib dijalankan oleh seluruh petugas.
“Kami berkomitmen menjaga makanan dan perlengkapan makan tetap higienis agar program MBG berjalan aman dan nyaman bagi para penerima manfaat,” pungkasnya. [awi/beq]






