RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 16.930 jemaah haji reguler Indonesia mencetak sejarah dengan menempati hotel berbintang empat dan lima di Madinah.
- Fasilitas akomodasi yang digunakan setara dengan jemaah haji khusus dan berjarak sangat dekat dari Masjid Nabawi.
- Wamenhaj menginstruksikan petugas agar memprioritaskan kamar hotel terdekat dan terbaik untuk jemaah lansia.
- Jaringan hotel mewah yang disiapkan meliputi Millennium Al Aqeeq, Hilton, Makarem, dan Front Taiba.
Madinah (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengonfirmasi bahwa sebanyak 16.930 jemaah haji reguler Indonesia gelombang kedua akan menempati fasilitas akomodasi mewah bintang empat dan lima selama berada di Madinah.
Kebijakan ini mencetak sejarah baru dalam sistem penyelenggaraan haji nasional karena fasilitas penginapan yang disediakan kini setara dengan yang selama ini dinikmati oleh jemaah haji khusus.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa kepastian tersebut diperoleh setelah Wamenhaj melakukan inspeksi mendadak ke Millennium Al Aqeeq Hotel, Sabtu (6/6/2026) siang. Hotel mewah yang berada di ring satu ini hanya berjarak sekitar 50 meter dari pelataran Masjid Nabawi.
“Jemaah haji khusus ya? Tapi nanti jemaah haji reguler juga menempati hotel ini lho. Fasilitasnya sama ya ternyata,” seloroh Dahnil Anzar Simanjuntak saat bertemu dan melayani sesi foto bersama dengan sejumlah jemaah haji khusus yang tengah bersiap kembali ke Tanah Air di area lobi hotel.
Cek Kelayakan Fasilitas Kamar dan Restoran via Tangga Manual
Saat tiba di lokasi pasca-salat Zuhur dari Masjid Nabawi, Wamenhaj mendapati adanya antrean padat di area lobi dan depan lift karena jemaah baru saja kembali dari masjid.
Guna mempercepat peninjauan, Dahnil memilih berjalan kaki menaiki tangga manual menuju lantai 1 untuk memeriksa kelayakan ruang restoran yang akan menjadi tempat makan jemaah reguler.
Setelah menilai kondisi restoran sangat layak dan memuaskan, Dahnil melanjutkan pengecekan ke lantai berikutnya menggunakan tangga untuk meninjau fasilitas kamar. Hotel Millennium Al Aqeeq menyediakan tiga tipe kamar, yaitu kapasitas dua kasur (double), tiga kasur (triple), dan empat kasur (quadruple).
Dahnil mengapresiasi kualitas kamar yang dinilainya sangat baik dan mewah. Namun, ia memberikan nota instruksi tegas kepada petugas akomodasi yang mendampingi agar sistem pembagian kamar berjalan normatif secara adil, transparan, dan mengutamakan jemaah risti (risiko tinggi).
“Pengaturan normatif saja ya, jangan sampai ada afirmasi. Kalau bisa fasilitas yang bagus ini, utamakan yang sepuh-sepuh lansia,” ujar Dahnil kepada petugas akomodasi di dalam kamar hotel.
Kepada Media Center Haji, Wamenhaj menegaskan bahwa seluruh lini pelayanan di Madinah wajib berada dalam status siaga penuh menyambut kedatangan jemaah haji reguler gelombang kedua yang mulai bergeser dari Makkah pada Minggu, 7 Juni 2026. Pihak hotel telah merampungkan sterilisasi kamar seiring kepulangan kloter-kloter haji khusus.
Peningkatan mutu pelayanan penginapan ini sengaja diwujudkan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI sebagai langkah progresif untuk mendongkrak kenyamanan fisik jemaah setelah energi mereka terkuras pada puncak haji di Armuzna.
“Ini dalam sejarah perhajian kita baru kali ini jemaah kita totalnya itu sekitar hampir 17 ribu orang menikmati hotel berbintang empat dan bintang lima. Mudah-mudahan ini bisa terus kita upgrade, kita perbaiki pelayanannya,” ungkap Dahnil.
Selain korporasi Millennium Al Aqeeq, Kemenhaj RI telah mengunci kontrak sewa jangka panjang dengan sejumlah jaringan hotel premier papan atas seperti Hilton, Makarem, dan Front Taiba. Skema zonasi hotel terdekat dengan gerbang Masjid Nabawi ini diprioritaskan penuh bagi jemaah lanjut usia serta jemaah dengan keterbatasan fisik.
“Hotel-hotel yang dekat-dekat ini pasti banyak akan digunakan oleh jemaah-jemaah kita yang terutama yang lansia, kemudian yang berkebutuhan khusus dan sebagainya,” pungkas Dahnil menutup inspeksinya. [ian/MCH]






