Ringkasan Berita:
- PDIP Jember menyerahkan seekor sapi kurban ke Ponpes Asshiddiqi asuhan KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman.
- Sapi kurban tersebut berasal dari DPD PDIP Jawa Timur.
- DPC PDIP Jember juga menyembelih satu sapi dan sepuluh kambing di kantor partai.
- Ketua DPC PDIP Jember menekankan pentingnya gotong royong di tengah situasi ekonomi yang sulit.
Jember (beritajatim.com) – PDI Perjuangan Kabupaten Jember menyerahkan seekor sapi kurban kepada Pondok Pesantren Asshiddiqi Putra yang diasuh Muhammad Balya Firjaun Barlaman pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 H/2026 M.
Sapi kurban tersebut berasal dari PDI Perjuangan Jawa Timur. Penyerahan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama di Kabupaten Jember.
Ketua DPC PDIP Jember, Widarto, mengatakan pihaknya menaruh penghormatan besar kepada para ulama yang selama ini merawat dan menjaga nilai-nilai keagamaan di masyarakat.
“Siapa saja yang mau mengurusi dan merawat NU, maka akan diakui sebagai santri beliau serta didoakan husnul khotimah beserta keturunannya,” kata Widarto.
Selain menyerahkan sapi kurban ke pondok pesantren, DPC PDIP Jember juga menyembelih seekor sapi dan sepuluh ekor kambing di halaman kantor DPC PDIP di Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang, Rabu (27/5/2026).
Menurut Widarto, pelaksanaan Iduladha tahun ini berlangsung di tengah kondisi ekonomi global yang tidak mudah. Karena itu, semangat gotong royong dinilai menjadi hal penting yang harus terus diperkuat di tengah masyarakat.
“Iduladha kali ini di tengah situasi ekonomi yang tidak mudah, situasi global tidak menentu,” ujarnya.
Dalam situasi tersebut, Widarto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling menguatkan dan rela berkorban demi kepentingan bersama, baik untuk sesama maupun bangsa dan negara.
“Kuncinya kita harus gotong royong, saling menguatkan. Tentu di antara kita harus rela berkorban, baik berkorban untuk sesama maupun untuk bangsa dan negara,” katanya.
Ia menambahkan, makna Iduladha tidak hanya tentang penyembelihan hewan kurban, tetapi juga pengorbanan tenaga, pikiran, dan materi untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Memaknai Idul Kurban tahun ini adalah bagaimana kita bergotong royong, saling mengorbankan tenaga, pikiran, materi, untuk bisa membantu sesama, membantu bangsa dan negara, terutama untuk mereka yang sangat membutuhkan. Dengan demikian tidak ada saudara-saudara kita yang sangat kekurangan tapi dibiarkan,” pungkas Widarto. [wir/beq]






