RINGKASAN BERITA:
- Pendorongan trip pertama berhasil memobilisasi sebanyak 74.643 jemaah pada rentang waktu pukul 07.00 hingga 11.00 WAS.
- Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf mengimbau jemaah melarang diri keluar tenda akibat paparan suhu panas ekstrem 47°C.
- Jemaah haji difokuskan memaksimalkan sisa waktu dengan berzikir, istighasah, dan tadarus Al-Qur’an di dalam maktab.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia resmi memulai pendorongan massal gelombang pertama jemaah haji Indonesia dari pemondokan hotel di Makkah menuju Padang Arafah hari ini, Senin (25/5/2026). Mobilisasi perdana ini menandai dibukanya fase krusial Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) guna mengejar ritual puncak wukuf yang jatuh pada Selasa, 26 Mei 2026.
Untuk mengurai kepadatan lalu lintas di jalur rute internasional Makkah, pihak trans-taktis PPIH mengunci pergerakan armada bus syarikah ke dalam tiga fase trip. Skenario trip pertama secara resmi telah digulirkan pada pagi hari mulai pukul 07.00 hingga 11.00 Waktu Arab Saudi (WAS) dengan mencatatkan total mobilisasi sebanyak 74.643 jemaah.
Sesuai dengan cetak biru operasional, pendorongan akan dilanjutkan pada trip kedua pukul 11.30-16.00 WAS dengan target 68.486 jemaah, dan ditutup oleh trip ketiga pukul 16.30-20.00 WAS yang mengangkut 62.289 jemaah. Otoritas menetapkan target seluruh jemaah Indonesia sudah aman menempati tenda masing-masing pada Senin malam.
“Trip pertama dimulai dari jam 07.00 waktu Arab Saudi,” kata Kepala Bidang Transportasi Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026, Syarif Rahman, kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suasana di pelataran Hotel Luluat Albait terpantau padat merayap sejak pagi buta. Jemaah dengan pakaian ihram lengkap tampak antre teratur menaiki bus pemondokan sembari membawa tas kabin yang berisi dokumen esensial dan perlengkapan medis pribadi.
Rasa antusiasme yang tinggi terpancar dari wajah para tamu Allah yang telah bertahun-tahun menantikan momen sakral ini. Salah satu jemaah asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang tergabung dalam kloter SOC 1, Siti Muarifah (50 tahun), mengaku sangat bersyukur dan telah mematangkan persiapan logistik mandiri sejak jauh hari.
“Yang pertama perlengkapan diri seperti obat-obatan, baju ganti, alat mandi, and alat ibadah yang akan kita gunakan di sana,” kata Siti saat ditemui di depan Hotel Luluat Albait, Makkah, Senin (25/5/2026).
Siti yang berangkat menunaikan ibadah bersama sang suami menambahkan bahwa dirinya telah merangkum daftar doa khusus yang akan dipanjatkan secara khusyuk di Padang Arafah nanti. Selain memohon kebaikan bagi keluarga besar, ia juga membawa titipan amanah doa dari kerabat di tanah air.
“Yang pertama tentu untuk anak-anak dulu, keluarga, dan teman-teman yang kemarin silaturahim ke rumah untuk titip doa untuk keberkahan mereka,” ujarnya.
Ia pun menaruh harapan besar agar perjalanan spiritual ini mampu merevolusi kepribadiannya menjadi lebih religius sekembalinya ke tanah air. “Ada perilaku yang lebih baik dan kami menjadi haji mabrur dan mabruroh. Dimohon keberkatan untuk diri sendiri, keluarga. Sedangkan masyarakat yang belum berhaji agar segera mendaftar supaya bisa menunaikan ibadah haji,” tutur Siti.
Pancaran kebahagiaan serupa juga disuarakan oleh Slamet Tashadi (65 tahun), jemaah asal Tegal lainnya yang dengan setia mendorong kursi roda sang istri di area lobi hotel. Ia mengaku fokus mempersiapkan mental demi memburu keutamaan waktu mustajab di Arafah. “Buat keluarga dan anak-anak semuanya. Minta supaya sehat, aman, dan berkah,” kata Slamet pendek.
Mitigasi Suhu 47 Derajat Celsius
Sementara itu, pergerakan di Hotel Yaqoob Baik Algodandi 2 juga menunjukkan ritme yang dinamis. Jemaah asal Kabupaten Pekalongan, Jawa Timur, Muhammad Nur Alif Wasnadi, memaparkan bahwa sebanyak 450 jemaah di kloternya, yakni SOC 12 dan SOC 13 yang berada di bawah bimbingan KBIHU An-Nahdliyah, telah mengunci jadwal manasik tenda.
Alif yang mengemban mandat sebagai tim koordinator pembimbing ibadah menjelaskan bahwa jemaah telah diedukasi untuk memisahkan klaster pembacaan doa. Skema ini dirancang agar jemaah tidak berkerumun di bawah paparan terik matahari siang yang menembus suhu ekstrem hingga 47°C.
“Doa pribadi seperti meminta keselamatan diri masing-masing, keluarga, bangsa, dan negara,” katanya memetakan agenda doa luar tenda.
“Sedangkan di dalam tenda setelah adzan Dzuhur kami akan bersama-sama melakukan istighosah dan membaca Alquran bersama-sama di dalam tenda,” sambung Alif secara rinci.
Mengingat rendahnya tingkat kelembapan udara di sekitar kawasan perkemahan, Alif mengeluarkan maklumat tegas kepada rekan sekloternya untuk mendisplinkan konsumsi air minum. Penghematan energi dinilai menjadi kunci utama agar stamina jemaah tidak kedodoran saat memasuki fase mabit di Mina nanti.
“Jangan keluar saat siang karena panasnya luar biasa. Tetap di tenda masing-masing biar aman dan nyaman,” katanya mengingatkan.
Di sisi lain, Menteri Haji dan Umrah RI, Muchamad Irfan Yusuf, turun langsung ke lapangan guna memantau jalannya pemberangkatan perdana jemaah di Hotel Luluat Albait. Ia menegaskan bahwa infrastruktur fisik di Arafah telah dikondisikan 100 persen untuk menyerap kedatangan ratusan ribu jemaah haji Indonesia.
Meskipun dinamika lapangan mencatat adanya beberapa kekurangan minor, Menhaj menjamin pasokan katering dan sistem pendingin udara di dalam tenda maktab beroperasi optimal. Ia meminta jemaah patuh terhadap pembatasan pergerakan luar ruangan.
“Selamat jalan pada para jamaah, sampai ketemu di Arafah,” cetus Menhaj saat melepas keberangkatan bus kloter SOC 1.
Menhaj melempar peringatan keras agar jemaah menekan ego egoistik untuk berburu dokumentasi atau sekadar berjalan-jalan di jalur aspal maktab. Risiko sengatan panas darurat (heatstroke) menjadi ancaman nyata yang bisa menggagalkan status hukum haji jemaah jika harus dievakuasi ke rumah sakit sebelum waktu wukuf dimulai.
“Jamaah jangan banyak jalan-jalan ke luar (tenda) karena panas, sehingga berbahaya bagi kesehatan. Banyak-banyak di dalam tenda, berdoa berzikir dan apa pun yang bisa dilakukan,” pungkas Menhaj menegaskan esensi wukuf. [ian/MCH]






