Ringkasan Berita:
- Sebanyak 30 jemaah haji Embarkasi Surabaya menunda keberangkatan karena gangguan kesehatan, kehamilan, dan kurangnya pendamping.
- Sakit jantung menjadi penyakit paling dominan yang menyebabkan pembatalan keberangkatan.
- Jemaah yang batal berangkat berpeluang menjadi prioritas haji tahun depan jika tidak menarik kembali BPIH.
Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 30 jemaah haji asal Asrama Haji Embarkasi Surabaya terpaksa menunda keberangkatan ke Tanah Suci tahun ini, Jumat (22/5/2026). Penundaan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari gangguan kesehatan, kondisi hamil, hingga tidak adanya pendamping haji.
Ketua PPIH Embarkasi Surabaya, As’adul Anam, menjelaskan bahwa mayoritas jemaah yang batal berangkat disebabkan oleh kondisi kesehatan. “Terbanyak adalah sakit jantung,” ujar Anam. Embarkasi Surabaya mengungkap, penyakit jantung menjadi dominan di antara puluhan jemaah haji yang gagal berangkat.
Anam menegaskan, pelaksanaan screening kesehatan haji tahun ini semakin diperketat sejalan dengan visi Kementerian Haji dan Umroh untuk menekan angka kematian jemaah. “PPIH Embarkasi Surabaya menekan risiko sekecil apapun demi mengutamakan kesehatan para jemaah saat berada di Tanah Suci,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anam memastikan 30 jemaah haji tersebut dapat menjadi prioritas keberangkatan pada musim haji tahun depan, asalkan tidak menarik kembali Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). “Kalau tidak diambil PPIH nya sama BPIH-nya, maka tahun depan menjadi (jemaah) prioritas,” ungkapnya.
Pada akhir operasional pemberangkatan musim haji Kamis (21/5), masih terdapat satu jemaah yang dirawat di RS Haji karena mengalami stroke. Selain itu, Anam mengungkap total jemaah haji yang wafat di Tanah Suci sejauh ini mencapai 14 orang.
“Yang masih dirawat tinggal satu, yang tadi stroke itu. Yang meninggal dunia 14. Di Tanah Suci 11 kemudian di Madinah 3,” pungkasnya. [rma/suf]

as a preferred source on Google




