Blitar (beritajatim.com) – Senyum sumringah tak lepas dari wajah Nasir (59), peternak asal Desa Jeblog, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar. Salah satu penghuni kandangnya, seekor sapi Simental raksasa yang diberi nama Sadewa, resmi terpilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Bukan sekadar sapi biasa, Sadewa memiliki bobot fantastis mencapai 1,076 ton. Corak bulu putih cokelatnya yang bersih menjadi bukti ketelatenan Nasir dalam merawat hewan ternaknya tersebut dengan tangan dingin.
Keberhasilan ini tak lepas dari inisiatif sang anak, Aziz Yasir Naufal. Dialah yang mendaftarkan sapi milik ayahnya ke tim staf kepresidenan setelah mendapat informasi dari rekanan dan berkoordinasi dengan dinas terkait.
“Sebenarnya setiap tahun kami memang memiliki sapi dengan bobot di atas 1 ton. Namun, awalnya tidak ada rencana untuk masuk bantuan Presiden. Kebetulan ada teman yang menawarkan, lalu kami hubungkan dengan dinas terkait,” ujar Naufal saat ditemui pada Jumat (21/5/2026).
Petugas dari Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar turun langsung ke Desa Jeblog untuk melakukan verifikasi faktual. Pemeriksaan meliputi berat badan, tinggi, panjang, hingga pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk memastikan sapi tersebut layak menjadi hewan kurban orang nomor satu di Indonesia.
Setelah masuk nominasi bersama satu sapi lain dari Blitar, akhirnya awal pekan lalu staf khusus kepresidenan menghubungi keluarga Nasir. Negosiasi harga pun berjalan mulus. Sapi Simental tersebut disepakati di angka Rp100 juta.
“Saya sempat deg-degan selama sebulan menunggu kepastian. Terus saya hubungi orang dinas untuk menanyakan apakah sapi Pak Nasir masuk atau tidak. Alhamdulillah, akhirnya disetujui,” ungkap Naufal dengan nada lega.
Menjaga sapi tetap di bobot 1 ton lebih bukanlah perkara mudah. Naufal menjelaskan bahwa pakan menjadi kunci utama sekaligus komponen biaya produksi yang tinggi.
Berbeda dengan sapi pada umumnya, Sadewa mendapatkan perlakuan khusus dalam hal diet. Naufal menghindari pemberian ‘comboran’ (pakan basah campuran) dan membatasi konsentrat.
“Pakan sapi besar harus terukur. Kalau terlalu tinggi konsentrat, dampaknya bisa membuat kaki sapi pincang karena tidak kuat menahan beban badan. Kami fokus pada pakan rumput kering dan pakan berkualitas tinggi lainnya agar berat badannya tidak susut,” jelasnya.
Kini, Nasir dan Naufal tinggal menjaga kondisi fisik Sadewa hingga hari penyembelihan tiba. Terpilihnya sapi dari Desa Jeblog ini kembali membuktikan bahwa kualitas ternak dari Kabupaten Blitar memiliki standar nasional yang diakui hingga tingkat kepresidenan. (owi/kun)






