Jember (beritajatim.com) – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menolak pembangunan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) oleh Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mahasiswa meminta Unej tetap independen.
Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menyebut perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis. Kampus didorong untuk membangun dan mengelola SPPG secara mandiri, sekaligus menjadikannya sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik.
Namun GMNI menyatakan, pembangunan SPPG di lingkungan perguruan tinggi tidak dapat dibenarkan, mengingat kampus harus mengedepankan prinsip akademik, akuntabilitas kelembagaan, dan keberpihakan pada fungsi luhur perguruan tinggi sebagai penjaga nalar kritis bangsa,
“Kami menolak pembangunan SPPG di Universitas Jember karena tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kepentingan akademik, pengembangan riset, dan penguatan keilmuan perguruan tinggi,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang GMNI Jember Abdul Aziz Al Fazri, Selasa (195/2026).
GMNI menuntut Universitas Jember untuk menjaga independensi kampus dengan menolak kebijakan yang mereduksi lingkungan akademik sebagai pelaksana proyek negara di luar mandat Tridharma Perguruan Tinggi.
Mahasiswa mendesak Universitas Jember untuk mengedepankan fungsi akademik kampus sebagai pusat kajian, pengawasan, dan evaluasi ilmiah terhadap implementasi program Makan Bergizi Gratis. “Pemerintah pusat dan BGN hendaknya tidak menjadikan perguruan tinggi sebagai objek ekspansi proyek Makan Bergizi Gratis (MBG),” kata Aziz.
GMNI menyerukan kepada seluruh civitas akademika untuk mengawal setiap proses pengambilan keputusan terkait wacana pembangunan SPPG di Universitas Jember secara kritis, objektif, dan konstruktif. “Ini demi menjaga independensi kampus dan kepentingan pendidikan tinggi,” kata Aziz.
“Independensi perguruan tinggi adalah syarat mutlak agar kampus tetap menjadi ruang kritis, otonom, dan berorientasi pada kemajuan ilmu pengetahuan serta kepentingan publik jangka panjang,” kata Aziz.
GMNI ingin Unej tetap berdiri sebagai kekuatan akademik yang mampu memberikan evaluasi objektif kritik berbasis data hingga rekomendasi kebijakan yang konstruktif untuk kepentingan publik jangka panjang.
Wakil Rektor IV Unuversitas Jember Bambang Kuswandi menyebut penolakan tersebut masukan bagi rektorat yang tengah mengkaji kemungkinan pembangunan SPPG. “Begitu nanti Unej menerima atau menolak, tentu sudah melalui kajian yang komprehensif,” katanya.
Unej akan tetap mengedepankan Tri Dharma Pendidikan Tinggi. “Intinya ketika ini terlaksana, kami ingin program Tri Dharma Pendidikan Tinggi yang sudah berjalan tidak terganggu oleh MBG,” kata Bambang. [wir/but]






