Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia diimbau untuk mengonsumsi cairan minimal 200 mililiter per jam dengan tambahan elektrolit guna mengantisipasi cuaca panas ekstrem dan kelembapan rendah di Makkah.
Langkah ini menjadi prosedur kesehatan wajib bagi tamu Allah agar tidak terjatuh dalam kondisi dehidrasi berat yang dapat mengganggu rangkaian ibadah inti menjelang puncak haji di Arafah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji Center (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suhu udara di Kota Makkah saat ini menyentuh angka 40 derajat Celsius.
Kondisi lingkungan yang kering membuat tubuh kehilangan garam mineral (elektrolit) lebih cepat melalui penguapan yang sering kali tidak disadari oleh jemaah.
Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi, dr. Edi Supriyatna, menekankan bahwa asupan elektrolit tidak boleh ditunda untuk menjaga keseimbangan tubuh.
“Cairan itu tadi yang saya sampaikan, setiap kita dehidrasi ternyata yang keluar itu bukan hanya air, tapi elektrolit. Maka dalam minumnya kita tambahkan elektrolit,” jelas dr. Edi saat ditemui di Hotel Al Hidayah, Makkah, dikutip Senin (11/5/2026).
Cairan elektrolit yang dimaksud adalah air minum mineral atau pun zamzam yang ditambah dengan oralit.
“Nah, elektrolit ini kalau bisa dikonsumsi setiap hari, setiap hari. Karena kita butuh itu dengan situasi kelembapan yang rendah di sini,” ungkapnya.
Cara Minum yang Benar Jemaah Haji
Tim kesehatan PPIH menyarankan teknik hidrasi berkelanjutan daripada meminum air dalam jumlah besar sekaligus.
Jemaah diharapkan meminum sekitar empat teguk air setiap 10 menit secara perlahan. Sehingga tidak menyebabkan gampang buang air kecil.
Teknik ini dinilai lebih efektif diserap oleh tubuh dibandingkan meminum satu botol besar dalam satu waktu.
“Minumkan tadi kalau dari satu saset itu 200 ml. 200 ml per jam kan itu. Kalau diminum, diminum hari ini, jangan ditunda sampai besok,” tegas dr. Edi.
Ketegasan ini diberikan mengingat tren gangguan kesehatan jemaah saat ini mulai bergeser dari kelelahan perjalanan menuju gangguan kesehatan akibat cuaca.
Waspada Komorbid dan Faktor Kelelahan
Bagi 125.243 jemaah yang telah tiba di Tanah Suci, risiko kesehatan terbagi dalam dua kelompok besar. Jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah cenderung membawa risiko penyakit bawaan (komorbid) dari tanah air seperti hipertensi, diabetes, dan jantung.
Sementara itu, jemaah gelombang pertama yang baru bergeser dari Madinah mulai menunjukkan gejala kelelahan fisik.
“Kalau dari gelombang satu, Madinah itu sudah mulai beradaptasi selama sembilan hari, itu ada penyakit-penyakit yang memang dipicu oleh situasi cuaca di sini. Seperti kelelahan fisik dan kurang cairan. Harapannya, jangan memforsir tenaga kita sampai kita lelah. Karena kalau sudah lelah itu akan terjadi gangguan kesehatan yang berakibat tidak bisa melakukan ibadah dengan baik,” tambah dr. Edi.
PPIH meminta jemaah, khususnya lansia dan risiko tinggi (risti), untuk membatasi aktivitas ibadah sunnah yang menguras energi. Penggunaan musala hotel untuk salat berjamaah sangat dianjurkan daripada memaksakan diri ke Masjidil Haram di jam-jam panas siang hari.
Dengan menjaga kedisiplinan asupan cairan dan pengaturan tenaga, jemaah diharapkan tetap bugar saat menghadapi wukuf di Padang Arafah pada 26 Mei mendatang. [ian/MCH]






