Makkah (beritajatim.com) – Matahari Makkah siang itu, Selasa, 5 Mei 2026, seolah berada tepat di atas ubun-ubun. Suhu menunjukkan angka 42 derajat celsius, namun di aspal hitam Terminal Syib Amir, hawa panas yang memantul terasa jauh lebih menyengat.
Di tengah kepungan asap knalpot dan deru mesin puluhan bus shalawat yang tak henti mengangkut tamu-tamu Allah, seorang pria berdiri tegak dengan peluh yang membasahi seragamnya.
Ia bukan sekadar petugas lapangan biasa. Sosok itu adalah AKP Dr. Iswan Brandes, seorang perwira pertama dari Polda Gorontalo yang juga menyandang gelar akademik tertinggi: Doktor. Di dunia yang sering kali mendewakan ruang ber-AC dan kenyamanan meja birokrasi, Brandes adalah sebuah anomali yang menyejukkan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, menyaksikan bagaimana sang perwira melebur dalam debu dan panas demi memastikan setiap jemaah asal Indonesia bisa kembali ke pemondokan dengan aman. Baginya, pangkat dan gelar hanyalah aksesoris yang ia tanggalkan saat kaki mulai memijak bumi perkemahan pelayanan.
“Saya sengaja berdoa minta kepada Allah untuk bisa melayani jamaah haji asal Sulawesi yang tahun ini hotelnya banyak di Syisyah. Dan busnya di Syib Amir ini. Maka saya minta agar bisa menjadi kepala pos terminal Syib Amir,” akunya dengan raut wajah penuh ketulusan.
Ada alasan emosional di balik permintaan spesifik itu. Darah Sulawesi Tengah mengalir dari sang ibu, menciptakan ikatan batin yang membuatnya merasa sedang melayani orang tuanya sendiri saat membantu para jemaah dari Indonesia Timur. Pilihan ini bahkan membuatnya menolak tawaran posisi Kepala Sektor yang secara organisatoris dianggap lebih bergengsi.

Replika Padang Arafah di Terminal Syib Amir
Pria humoris ini memiliki cara unik untuk memandang penderitaan fisik di tengah cuaca ekstrem. Baginya, Terminal Syib Amir adalah ruang latihan spiritual sebelum jemaah mencapai puncak haji.
“Terminal itu seperti replika Padang Arafah. Kalau di Arafah panasnya dari atas. Kalau di sini, rasanya panas dari atas dan dari bawah,” selorohnya sembari menyeka keringat.
Keteguhan hati Brandes bukan tanpa dasar. Pada penyelenggaraan haji 2024, ia sukses memimpin Terminal Ajiad dengan angka kepuasan jemaah mencapai 93 persen. Tahun ini, tantangannya jauh lebih besar, namun rasa cintanya pada pelayanan di terminal justru semakin menguat.
“Dari lima kali pemberangkatan saya, justru saya paling nyaman di terminal. Saya belajar sabar di sini,” tuturnya. Di matanya, terminal adalah tempat di mana kesabaran diuji hingga ke titik nadir, dan di sanalah ia menemukan nikmatnya menjadi pelayan tamu Allah.
Kado Ulang Tahun di Atas Aspal Membara
Ada satu momen yang membuat suasana siang itu mendadak haru. Di tengah hiruk-pikuk terminal, Brandes membagikan sebuah video pendek ke grup WhatsApp rekan-rekan Media Center Haji. Hari itu tepat merupakan hari kelahirannya.
Namun, tak ada tumpeng nasi kuning atau tiup lilin di ruangan mewah. Perayaan ulang tahunnya kali ini dibalut oleh bising klakson bus dan aroma solar yang pekat.
“Tapi, hari ini saya merayakan ulang tahun di tengah terminal, terik panas matahari, beratap langit, dan aspal panas. Saya bersyukur mendapati umur yang sudah harus berpikir waktu kembali,” ucapnya dalam video tersebut.
Bagi Brandes, berkurangnya umur di tanah haram adalah sebuah berkah sekaligus alarm untuk mempersiapkan bekal kehidupan mendatang. Ia memilih merayakan eksistensinya dengan memastikan kakek dan nenek jemaah dari Sulawesi bisa naik ke atas bus tanpa harus berdesakan.
“Saya melayani tamu Allah, saya merayakan ulang tahun yang kedua kali di terminal, semoga berkurangnya umur menjadi berkah menjadi persiapan kehidupan di masa mendatang. Saya sedang merayakan ulang tahun kami hari ini di Terminal Syib Amir. Terima kasih doa bapak ibu semua, semoga saya diberi kesehatan bisa menyelesaikan melayani jamaah di Terminal Syib Amir,” katanya menutup pesan tersebut.
Di Terminal Syib Amir, AKP Dr. Iswan Brandes telah mengajarkan satu hal penting: bahwa gelar doktor dan pangkat perwira tidak akan pernah lebih tinggi daripada derajat seorang pelayan yang memuliakan tamu-tamu Tuhannya. Di tempat yang paling panas itulah, pengabdiannya justru terasa paling hidup. [ian/MCH]






