Mojokerto (beritajatim.com) – Luas panen padi di Kabupaten Mojokerto sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai 51.752 hektare. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 4.456 hektare atau 9,42 persen dibandingkan tahun 2024.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny menjelaskan bahwa berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), puncak panen padi pada 2025 terjadi pada bulan April dengan luas mencapai 10.548 hektare.
“Setelah puncak di April, luas panen sempat menurun pada Mei menjadi 4.753 hektare dan kembali turun di Juni sebesar 3.630 hektare. Namun, pada Juli dan Agustus kembali meningkat masing-masing menjadi 5.934 hektare dan 5.829 hektare,” ungkapnya, Senin (4/5/2026).
Pola tersebut menunjukkan bahwa tren panen di Kabupaten Mojokerto masih didominasi musim panen serentak pada April, sama seperti yang terjadi pada tahun 2024. Jika dilihat berdasarkan pembagian periode subround (pembagian periode waktu dalam survei pertanian), luas panen terbesar terjadi pada subround pertama (Januari–April).
Pada subround pertama luas panen sebesar 22.415 hektare, disusul subround kedua (Mei–Agustus) sebesar 20.145 hektare. Sementara itu, pada subround ketiga (September–Desember), luas panen tercatat lebih rendah yakni 9.191 hektare. Seluruh subround pada tahun 2025 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Pada 2024, luas panen masing-masing subround tercatat sebesar 19.931 hektare, 17.643 hektare, dan 8.918 hektare. Perbedaan yang cukup signifikan antar subround ini mengindikasikan adanya variasi pola tanam yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama ketersediaan air,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan luas panen pada subround ketiga kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan air, khususnya pada awal periode September. Selain itu, pada periode tersebut petani cenderung mengalihkan lahan sawah untuk menanam komoditas lain seperti jagung.
“Secara umum, peningkatan luas panen padi pada 2025 menjadi indikator positif bagi sektor pertanian di Kabupaten Mojokerto. Meskipun masih dihadapkan pada tantangan perubahan pola tanam dan ketersediaan sumber daya air,” tegasnya. [tin/aje]






