Jombang (beritajatim.com) – Menjelang musim haji 2026, para perajin manik-manik di Desa Plumbon Gambang, Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, mengalami lonjakan permintaan yang luar biasa.
Salah satu produk yang paling diburu oleh calon jamaah haji dan pengusaha oleh-oleh adalah tasbih manik-manik khas Jombang. Para perajin setempat kini merasakan kebahagiaan sekaligus tantangan besar karena kenaikan pesanan yang signifikan.
Nurwakit, seorang pengusaha manik-manik di Desa Plumbon Gambang, menyebutkan bahwa lonjakan pesanan yang terjadi menjelang musim haji ini sangat luar biasa. “Permintaan tasbih naik kisaran 70-80 persen. Kalau di momen ibadah haji, untuk oleh-oleh souvenir haji, biasanya satu orang minimal beli 100 biji,” ungkapnya dengan penuh semangat, Rabu (29/4/2026).
Keunikan tasbih buatan tangan dari desa ini terletak pada proses pembuatannya yang sepenuhnya dilakukan secara handmade, bukan pabrikan. Produk ini dibuat dengan menggunakan bahan baku limbah kaca yang diolah menjadi tasbih eksklusif dan unik.
Oleh karena itu, tasbih buatan Desa Plumbon Gambang tidak hanya digemari oleh warga lokal Jombang, tetapi juga peminat dari berbagai provinsi di Indonesia, bahkan luar negeri.
“Pesanan tidak hanya dari Jombang, tapi dari Kalimantan, Bali, Jakarta, hampir seluruh Indonesia. Untuk harga tasbih, yang paling murah Rp7.000 dan paling mahal Rp100.000. Itu tergantung dari bahan, motif, serta jenisnya,” jelas Nurwakit.
Bahkan, produk tasbih khas Gudo ini telah menembus pasar internasional. “Pernah kirim ke luar negeri, Taiwan, Malaysia, dan Thailand,” tambahnya.
Namun, di balik lonjakan permintaan yang menggembirakan ini, para perajin menghadapi tantangan besar akibat kenaikan harga bahan baku yang signifikan. Kaca pewarna yang semula dihargai Rp200.000 hingga Rp300.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp700.000 hingga Rp900.000 per kilogram.
Selain itu, harga bahan dasar kaca juga naik dari Rp5.000 menjadi Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kenaikan harga gas elpiji juga turut mempengaruhi biaya produksi.
Meskipun menghadapi tantangan tersebut, semangat para perajin untuk memenuhi kebutuhan pasar tidak pernah surut. Mereka berharap agar pemerintah dapat membantu menstabilkan harga bahan baku yang semakin tinggi. “Kami berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menstabilkan harga bahan baku,” ungkap Nurwakit.

Salah satu pembeli, Tantrina Rahmawati (36), merasa terkesan dengan produk tasbih dan aksesoris manik-manik yang ada di Desa Plumbon Gambang.
“Saya tadi ke sini beli aksesoris manik-manik buat kalung untuk diberikan kepada sanak famili. Aksesorisnya unik dan bagus. Jarang ada oleh-oleh seperti ini, dan baru tahu tempat ini,” kata Tantrina dengan antusias.
Meskipun perajin menghadapi tantangan kenaikan harga bahan baku, produk tasbih khas Gudo tetap menjadi primadona yang dicari banyak orang sebagai oleh-oleh untuk ibadah haji 2026. [suf]






