Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menyiagakan 40 klinik satelit di 10 sektor wilayah Makkah guna memastikan jemaah haji 2026 mendapatkan penanganan medis cepat tanpa harus selalu dirujuk ke rumah sakit besar. Fasilitas ini hadir sebagai garda terdepan untuk menangani gangguan kesehatan ringan hingga sedang secara langsung di hotel tempat jemaah menginap.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kesiapan infrastruktur kesehatan ini telah mencapai tahap final. Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah PPIH Arab Saudi, Ihsan Faisal, melakukan peninjauan langsung di Hotel Emaar At Taqwa, Sektor 2 Wilayah Syishah, Sabtu (25/4/2026), untuk memastikan ketersediaan tenaga medis dan peralatan di klinik tersebut.
Alur Penanganan Medis di Sektor
Setiap klinik satelit di tingkat sektor rata-rata diperkuat oleh empat hingga lima tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter dan perawat. Jumlah ini bersifat tetap di sektor dan tidak termasuk tenaga kesehatan yang melekat pada masing-masing kelompok terbang (kloter). Strategi ini diambil agar jemaah yang sakit tidak perlu menempuh perjalanan jauh ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) jika kondisi masih bisa ditangani di tempat.
“Kalau di sektor, rata-rata ada empat hingga lima tenaga kesehatan. Ada dokter, ada perawat. Itu yang melekat di sektor,” ujar Ihsan Faisal. Secara operasional, jemaah yang membutuhkan bantuan medis akan dibawa ke klinik satelit terlebih dahulu. Jika penanganan di sektor tidak mencukupi, pasien baru akan dirujuk ke KKHI di wilayah Aziziyah atau langsung ke Rumah Sakit Arab Saudi jika masuk kategori darurat.
Standar Baru dan Supervisi Global
Penguatan layanan kesehatan tahun ini mengikuti regulasi baru pemerintah Arab Saudi yang menetapkan rasio minimal satu klinik untuk melayani 5.000 jemaah. Berdasarkan kebijakan tersebut, Kemenhaj mendirikan 40 klinik di Makkah yang tersebar di 10 sektor, serta 5 klinik kesehatan di 5 sektor wilayah Madinah.
Kepala Pusat Kesehatan Haji, Liliek Marhaendro Susilo, menegaskan bahwa penambahan titik klinik ini bertujuan mengoptimalkan pelayanan seiring dengan volume jemaah yang besar. Untuk menjamin mutu layanan sesuai standar internasional, pengawasan medis jemaah haji Indonesia tahun ini disupervisi oleh Saudi German Hospital, sebuah lembaga penyedia layanan kesehatan terakreditasi di Arab Saudi.
Penanganan Berbasis Severity Level
Guna meningkatkan ketepatan rujukan, petugas kesehatan kloter dibekali pedoman rujukan berbasis severity level atau tingkat keparahan penyakit. Sistem ini memandu petugas untuk segera menentukan apakah jemaah cukup ditangani di klinik satelit, dirujuk ke KKHI Makkah yang memiliki kapasitas sekitar 200 tenaga medis, atau harus segera dilarikan ke rumah sakit lokal.
“Pendekatan severity level ini penting agar jemaah mendapatkan pertolongan yang cepat dan sesuai dengan kondisi kesehatannya,” kata Liliek. Selain sistem rujukan, distribusi obat-obatan juga diperketat dengan pola penyaluran langsung dari KKHI di Makkah dan Madinah ke seluruh tenaga kesehatan kloter yang mendampingi jemaah di hotel-hotel selama masa operasional haji. [ian/aje]






