Gresik (beritajatim.com)- Memperingatan Hari Bumi 2026, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Kabupaten Gresik menggelar dialog publik bertema ‘Taubat Ekologi’ yang menghadirkan suara generasi muda sebagai bagian penting dari solusi krisis lingkungan.
Tiga pelajar kelas X SMAN 1 Driyorejo Gresik. Yakni Junnatun Nafiah, Krisna Wahyu Sahaja, dan Chantika Amira Ramadhani memanfaatkan forum ini untuk menyampaikan keresahan sekaligus menawarkan solusi konkret terkait persoalan sampah di Kabupaten Gresik.
Saat beraudensi dengan Ketua DPRD Gresik Muhammad Syahrul Munir, Ketua Fraksi PKB Imron Rosyadi, serta Dinas Lingkungan Hidup, mereka mengajukan program inovatif bernama TEPAR.
Program TEPAR merupakan akronim dari TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle), Polisi Sampah, dan Water Refill Station. Inisiatif ini bertujuan memperkuat sistem pengelolaan sampah sekaligus mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.
“Kami melihat kesadaran teman-teman sebenarnya sudah tinggi, tetapi fasilitas belum mendukung. Banyak yang ingin membawa tumbler, namun kesulitan mencari tempat isi ulang air,” ujar Junnatun Nafiah, Minggu (26/4/2026).
Dialog publik ini juga menjadi ruang terbuka bagi pelajar dan mahasiswa untuk menyampaikan hasil riset dan gagasan. Ketua F-PKB Imron Rosyadi menyatakan bahwa forum tersebut diharapkan menjadi jembatan antara aspirasi generasi muda dan kebijakan pemerintah.
Dalam kesempatan tersebut, F-PKB turut mengusulkan kebijakan ramah lingkungan di lingkungan DPRD, seperti pelarangan penggunaan air minum dalam kemasan (AMDK), penerapan sistem paperless, serta pengurangan penggunaan plastik dan styrofoam dalam kegiatan resmi.
Selain pelajar, audiensi juga diikuti oleh mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang memaparkan temuan pencemaran mikroplastik di Kepulauan Bawean. Hasil riset menunjukkan bahwa sejumlah biota laut seperti ikan layur, cakalang, zooplankton, anggur laut, hingga mangrove telah terkontaminasi mikroplastik akibat sampah plastik di pesisir.
Ketua DPRD Gresik, Muhammad Syahrul Munir, menyambut positif keterlibatan generasi muda. “Kami senang melihat kepedulian ini. Teruslah bergerak, kami akan mendukung,” ungkapnya.
Menariknya, gerakan lingkungan di SMAN 1 Driyorejo berawal dari kegiatan sederhana seperti nonton bareng (nobar) film bertema lingkungan. Dari sana, kesadaran siswa tumbuh dan berkembang menjadi aksi nyata, termasuk gerakan pemilahan sampah di sekolah.
Program ini merupakan bagian dari partisipasi mereka dalam Jawa Timur Young Changemaker Award 2026 (JAYCA), yang mendorong generasi muda untuk melakukan perubahan sosial melalui pendekatan berbasis riset dan aksi.
Dalam program tersebut, siswa dibekali pengetahuan tentang bahaya plastik, kemampuan analisis pencemaran mikroplastik, hingga penyusunan aksi dan advokasi kebijakan. dny






