Kediri (beritajatim.com) – Di sebuah sudut Jalan Swakarya, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, aroma mawar bukan sekadar penghias udara. Bagi Tsany Zahratussita, harum bunga itu adalah napas perjuangan, biaya pendidikan, sekaligus bukti bakti seorang anak kepada ibunya yang tengah berjuang melawan penyakit serius.
Sita, begitu ia akrab disapa, baru saja menerima kabar yang bagi banyak orang adalah puncak kebahagiaan. Ia lolos jalur prestasi SNBP di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Ilmu Komunikasi untuk tahun ajaran 2026/2027. Namun, di balik senyum prestasinya, ada kegundahan yang ia simpan rapat di balik kelopak mawar yang ia rawat.
Keajaiban Tiga Bulan di Lapangan Kriket
Perjalanan Sita sebagai atlet dimulai dari sebuah ketidaksengajaan yang berujung prestasi. Mei 2020, gurunya mengajak Sita mencoba cabang olahraga baru Kriket. Awalnya ia ragu dan bingung, namun keberanian mengalahkan ketidaktahuannya.
Hanya butuh waktu tiga bulan bagi Sita untuk menunjukkan bakat alaminya. Gadis ini langsung terpilih mewakili Kabupaten Kediri di ajang Porprov Jatim 2025 dan secara mengejutkan menyabet medali perunggu pada penampilan perdananya.
“Awalnya saya bingung, apa itu kriket? Tapi alhamdulillah, setelah latihan tiga bulan langsung terpilih jadi atlet Porprov,” kenang Sita dengan mata berbinar.
Prestasi Sita melesat bak bola kriket yang dipukul keras. Sebulan setelah Porprov, ia meraih medali perak di Kejuaraan Nasional di Bali. Tak berhenti di sana, ia menutup tahun 2025 dengan medali emas di sebuah kejuaraan di Malang. Prestasi gemilang inilah yang menjadi tiket emasnya menembus ketatnya persaingan SNBP di jurusan Ilmu Komunikasi.
Merawat Ibu di Sela-Sela Studi dan Latihan
Namun, ketika Sita meletakkan bat kriketnya, ia segera berganti peran menjadi tulang punggung rumah tangga. Sang ayah telah tiada, sementara ibunya, Maftukhatul Khoiriyah, sedang berjuang melawan tumor otak selama empat tahun terakhir.
Dulu, sang ibu sempat mengalami lumpuh separuh badan, tangan dan kaki kanan tak bisa digerakkan. Sita-lah yang memasak, mengurus keperluan rumah, hingga merawat tanaman mawar di depan rumah mereka untuk menyambung hidup.
Demi menambah penghasilan, Sita membudidayakan berbagai jenis mawar, mulai dari mawar Kalimantan tanpa duri hingga mawar lokal, dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 40 ribu. Tak hanya menjual bibit, Sita juga belajar meronce bunga demi rupiah tambahan untuk biaya kuliah dan biaya hidup di Malang nanti.
“Motivasi saya untuk terus berjuang adalah ibu saya. Karena dalam kondisi apa pun, ibu tetap berjuang demi anak-anaknya,” tutur gadis berusia 18 tahun itu lirih.
Antara Prestasi dan Bayang-Bayang Biaya
Ironisnya, kesuksesan diterima di kampus impian membawa beban baru. Penetapan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sebesar Rp 4,75 juta per semester membuat hatinya mencelos. Angka itu terlampau tinggi bagi seorang penjual mawar di lereng Puncu.
Meskipun biaya dua semester awal sudah terbantu, bayang-bayang biaya di semester-semester berikutnya serta biaya hidup di perantauan masih menghantui pikirannya.
Sita kini terus berjuang mencari beasiswa dan berharap ada uluran tangan dari pemerintah maupun pihak terkait agar mimpinya tidak layu sebelum berkembang.
Ia tidak ingin menyerah. Sita punya mimpi besar, menjadi atlet profesional atau pelatih, dan menggunakan pendidikan untuk mengubah garis takdir keluarganya.
Pesan untuk Para Pejuang Mimpi
Di tengah kesibukannya merawat tanaman mawar dan mengurus sang ibu, Sita menyempatkan diri memberi pesan bagi sesama atlet yang mungkin sedang berada di titik nadir.
“Untuk semuanya, bagi atlet maupun calon atlet, terus semangat. Latihan, apa pun keadaannya. Entah didukung atau tidak, tetap terus latihan dan semangat,” tutupnya penuh ketegaran.
Sita adalah pengingat bagi kita semua, bahwa prestasi sejati tidak hanya diukur dari warna medali di leher, tapi dari seberapa kuat seseorang bertahan merawat kasih sayang dan harapan di tengah badai kehidupan. Di tangan Sita, mawar Puncu itu tidak hanya sekadar mekar; ia tumbuh melawan duri, menuju cahaya masa depan. [nm/beq]






