Surabaya (beritajatim.com) – National Hospital Surabaya menggandeng West China Hospital Sichuan University untuk mengembangkan layanan Psychosurgery. Teknologi bedah saraf ini menyasar pasien dengan gangguan perilaku agresif pada skizofrenia.
Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru. Layanan tersebut diklaim sebagai yang pertama kali dikerjakan di wilayah Indonesia Timur untuk menangani kasus psikiatri melalui tindakan medis bedah.
Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital, dr. Heri Subianto menjelaskan, tindakan ini melibatkan tim multidisiplin. Evaluasi komprehensif dilakukan bersama tim psikiatri sebelum pasien diputuskan menjalani operasi.
“Layanan Psychosurgery ini belum pernah dikerjakan untuk di daerah Indonesia Timur. Ini tindakan yang harus dikerjakan dengan kerja sama tim yang komprehensif,” kata Heri ditulis Jumat (24/4/2026).
Selain skizofrenia, metode ini dapat menangani Obsessive Compulsive Disorder (OCD) hingga adiksi. Operasi dilakukan untuk mengontrol agresivitas pasien yang tidak lagi merespons terapi obat secara optimal.
“Bedah saraf ini fungsinya kolaboratif dengan teman-teman psikiatri. Kita harapkan dengan seperti ini kondisi pasien lebih bisa dikontrol,” tambahnya.
Teknologi yang digunakan melibatkan MRI 3 Tesla dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Perangkat ini mampu memetakan titik saraf yang bermasalah dengan tingkat presisi sangat tinggi.
Heri menyebut intervensi dilakukan menggunakan jarum kecil sehingga tidak perlu membuka otak besar. Pergeseran alat saat tindakan dipastikan berada di bawah angka 1 milimeter.
“Kita punya satu jarum kecil sehingga tidak perlu membuka otak besar. Jarum itu sudah pas, gesernya di bawah 1 mili sehingga sangat presisi,” jelas Heri.
Direktur National Hospital Surabaya, dr. Hendera Henderi menyatakan, kerja sama dengan rumah sakit di Chengdu ini untuk mengejar ketertinggalan teknologi. China dipilih karena perkembangan risetnya sangat cepat.
“Kita tidak boleh ketinggalan. National Hospital ingin meningkatkan layanan supaya bisa lebih luas menjangkau masyarakat dan tidak hanya menjadi pengikut saja,” tegas Hendera.
Kemitraan ini muncul seiring meningkatnya kasus gangguan mental atau mental disorder dalam 10 tahun terakhir. Pihak rumah sakit terus mengembangkan kompetensi tim medis lewat studi di luar negeri.
“Sepuluh tahun terakhir ini sangat banyak kasus gangguan mental yang semakin meningkat. Kita mulai kembangkan layanan ini di National Hospital dengan ahlinya,” tutup Hendera. [ipl/kun]






